
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Ketika bekerja menjadi episteme sebuah zaman, ”menganggur” adalah kata yang mengandung aib. Secara etimologis, ”menganggur” diturunkan dari kata ”anggur”. Verba yang berarti ”tidak bekerja” atau ”tidak melakukan apa-apa” tersebut memiliki relasi semantis dengan aktivitas menikmati fermentasi anggur. Pada masyarakat kita, menganggur dalam waktu lama menjadi kesenggangan yang menanggung cedera. Kata kerja itu melekat pada nomina peyoratif ”pengangguran”.
---
KONON, setelah lepas dari tragedi banjir bandang, Nuh menjadi petani anggur dan teler oleh produk ladangnya sendiri. Alkitab tak tegas menghina perbuatan Nuh. Tapi, melalui respons putra-putranya, kita tahu kemabukan itu telah menimbulkan rasa malu.
Bekerja dilakukan untuk menyelesaikan satu persoalan. Pada kisah Nuh, problem tersebut kita saksikan menjelma gelombang air yang menghantam seluruh makhluk hidup. Sebagai manusia pilihan, Nuh harus bekerja untuk mengatasinya. Saat sebak surut, sang nakhoda menganggur.
Dalam kosmologi Ibrani, ketika dunia masih baru, menganggur dan pengangguran barangkali memang tak dianggap cela. Kedua kata tersebut belum ada. Bahkan, kesenggangan adalah anugerah. Hidup di Eden, manusia pertama hanya menjalankan peran sebagai juru taman. Di kebun subur yang dialiri empat bengawan itu, segala kebutuhan disediakan tanpa harus berletih-letih.
Lalu, manusia melanggar tata surga dan Tuhan menghukum: ”Maka terkutuklah tanah karena engkau. Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu. Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu. Dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu. Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu sampai engkau akan kembali lagi menjadi tanah karena dari situlah engkau diambil. Sebab, engkau debu dan akan kembali menjadi debu.” Karen Armstrong menyebut peristiwa Kejatuhan sebagai suksesi era berburu-meramu ke ekonomi agraria. Sejak itu, karunia waktu lapang dicabut.
Para ilmuwan menyatakan bahwa manusia pemburu-peramu hidup nyaman dalam durasi kerja 3–4 jam per hari. Juga belum ada konflik kompleks seperti kericuhan politik kekuasaan atau wabah yang memusnahkan. Kesentosaan fisik dan psikis melimpah ruah. Di zaman berburu-meramu ”ada banyak waktu luang untuk rileks, nongkrong, dan jadian,” tutur sejarawan Belanda Rutger Bregman.
Ketika kesuntukan mencari nafkah telah menubuh, kesenggangan dapat dianggap jeda yang abnormal. Lucia Priandarini mengeluhkan kejanggalan waktu kosong tersebut dalam puisi ”Membenci Akhir Pekan”. Di mata subjek puisi, akhir pekan bagai hantu. Ia mencintai Senin pagi dan ingin membunuh akhir pekan. Ia mendamba Sabtu-Minggu yang merah. Baginya, akhir pekan dipenuhi kegiatan ganjil manusia: hiburan. Seperti putra Nuh yang terusik melihat ayahnya ”menganggur” dan mabuk sehingga perlu diselamatkan. Subjek puisi kembali tenteram saat Senin pagi akhirnya tiba. Ia lega, semua kembali ke tempatnya.
Albert Camus bakal tersenyum membaca puisi ”Membenci Akhir Pekan”. Kita tak perlu lagi membayangkan Sisifus hidup bahagia di dunia yang tak masuk akal. Diagnosis Sunday neurosis dari psikoanalis Sandor Ferenczi telah memenuhi ekspektasi Camus. Jika mencintai kesibukan adalah masokisme, memangnya apa lagi yang lebih karunia daripada sebuah hukuman yang bisa dinikmati?
Dalam benak yang dipenuhi kecemasan akhir pekan, justru kita terpaksa mengkhayalkan: Sisifus bergegas panik turun gunung untuk menjemput batu yang akan didorongnya lagi. Atau: Pada hari ketujuh, Tuhan menangguhkan waktu istirahat pasca menakhlikkan jagat. Ia menyusun agenda kerja hari pertama untuk memugar semesta yang sudah diciptakan-Nya. Tak boleh ada waktu lengang. Kehampaan bisa menuntun pada kegilaan.
Namun, kehampaan hari libur hanya menjangkiti masyarakat pekerja. Di kutub seberang, kaum yang lain malah butuh banyak waktu luang. Rasa kurang piknik harus terus ditanam dalam pikiran. Ekonom Amerika Thorstein Veblen menyebut para penikmat waktu senggang nan berlimpah ini ”leisure class”. Kelas pelesir. Bagi nouveaux, orang kaya baru, OKB –atau apa pun sebutannya– waktu luang adalah investasi legitim untuk mengakomodasi hasrat agar diakui dan sejajar dengan golongan old money. Ketika media sosial kian menjadi tumpuan banyak orang, kelas pelesir semakin mudah mendemonstrasikan kekayaannya di hadapan publik dengan memamerkan konsumsi mencolok atas tamasya berkepanjangan dan barang-barang mewah yang enggak guna-guna amat.
Maka, biarlah kesibukan hanya ditanggung para buruh, profesional, dan pedagang. Gejala Sunday neurosis yang mencekik kaum pekerja akan ditanggapi kelas pelesir dengan penuh syukur: ”Tetaplah takut pada hari libur. Rajinlah berkarya. Bikin kami kian kaya.”
Karena itu, agak aneh jika di satu adegan film Sri Asih (2022), saat merencanakan sebuah genosida, tokoh pengusaha Prayogo Adinegara berkata, ”Populasi manusia di bumi ini semakin banyak. Apakah itu adil kita harus berbagi dengan orang-orang miskin?” Pertanyaan cacat ini takkan dijawab Friedrich Hegel yang mustahil membangun dialektika tuan-budak tanpa sejarah konflik. Simbiosis keduanya, dari zaman Veblen hingga Biden, telah menciptakan kebergantungan eksistensial.
Masifnya populasi golongan pekerja semestinya membuat Prayogo gembira. Dengan begitu, posisinya sebagai pengangguran bermartabat terjamin. Lagi pula kutukan Taman Eden tidak menimpa masyarakat pelesir seperti dirinya. Hukuman Eden cuma jatuh pada kaum Sisifus; rumpun pekerja yang tak melengkapi sampiran pantun berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Ripuh sepanjang waktu, lalu hangus di hari Minggu. (*)
---
ROYYAN JULIAN, Penulis buku dan pengajar di Universitas Madura

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
