
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Sejak dihelat kali pertama tahun 1955, barangkali Documenta 15 menjadi salah satu perhelatan paling menghebohkan. ”Museum 100 hari” kelima belas yang akan ditutup pada 25 September 2022 itu menghebohkan bukan karena capaian artistik karya seni yang dipamerkan.
KEHEBOHAN Documenta 15 dipicu skandal anti-Yahudi yang dianggap direpresentasikan baliho People’s Justice (”Keadilan Rakyat”) karya kelompok Taring Padi. Karakter bergigi tajam bertopi simbol SS (pasukan khusus Nazi-Hitler) dengan kucir kuris di pelengan wajah dan karakter berwajah babi dengan syal bintang Daud berhelm bertulisan ”mossad” pada ”Keadilan Rakyat” dinilai mengekspresikan sikap anti-Yahudi.
Meskipun ”Keadilan Rakyat” telah diturunkan kurang dari sepekan setelah hari pembukaan Documenta 15 pada 18 Juni 2022, kehebohan tidak juga surut. Penentangan terhadap ”Keadilan Rakyat” yang dianggap mengekspresikan sikap anti-Yahudi mengimplikasikan aksi vandalisme pada perhelatan Documenta 15, terutama menimpa anjungan seniman-seniman Palestina, berupa serangan corat-coret bernada ancaman: seperti coretan angka ”187” yang mengacu pada pasal hukuman mati di California dan ”Peralta” yang mengacu pada politikus fasis Spanyol Isabelle Peralta. Tuntutan terhadap Documenta 15 agar secara institusional bertanggung jawab atas skandal anti-Yahudi akhirnya memaksa Direktur Umum Documenta 15 Sabine Schormann mengundurkan diri pada hari ke-28. Sebelumnya, seniman seni media baru Jerman Hito Steyerl mencabut karyanya dari Documenta 15 karena masalah anti-Yahudi telah menghapus perbincangan tentang seni. Tanggapan paling keras datang dari Menteri Negara untuk Kebudayaan dan Media Jerman Claudia Roth. Ia mengancam akan mengubah struktur pendanaan pemerintah untuk Documenta dan menghidupkan kembali peran kontrol pemerintah dalam dewan pengawas.
Hantaman skandal anti-Yahudi terhadap Documenta 15 yang dipicu oleh ”Keadilan Rakyat” bukan tanpa preseden. Tuduhan atas Ruang Rupa, kurator utama Documenta 15, sebagai penyokong gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS movement) terhadap Israel sebelumnya telah ditimpakan kepada kelompok band Inggris yang dilarang tampil pada festival seni di Jerman tahun 2018. BDS movement, yang dianggap mengungkit kembali sejarah boikot oleh Nazi terhadap perusahaan-perusahaan Yahudi tahun 1933, telah diumumkan sebagai gerakan anti-Yahudi oleh Parlemen Jerman tahun 2019. Meski demikian, bagi Meron Mendel, direktur Anne Frank Educational Center yang mempromosikan toleransi dan pendidikan masyarakat atas dampak Nazisme, diskriminasi, dan rasisme, BDS merupakan gerakan penentangan terhadap Israel sebagai penjajah.
Kehebohan skandal anti-Yahudi pada Documenta 15, bagaimanapun, merupakan ekses dari runtuhnya hubungan antara poesis (cara membuat) dan aisthesis (cara mengapresiasi/mengevaluasi) dalam karya seni. Runtuhnya hubungan tersebut bukan hanya mengenyahkan prinsip representasi dan lexis (mode bercerita dan cara mengimitasi subjek aktual dalam cerita) yang diikat pada decorum (kaidah sosial) dengan mengutamakan kreativitas individual. Lebih dari itu, runtuhnya hubungan poesis dan aisthesis juga membuat karya seni dapat ditafsir dan dievaluasi relatif semaunya oleh setiap orang atau setiap kelompok sosial. ”Keadilan Rakyat”, dibikin tahun 2002, yang memuat memori kekejaman rezim Soeharto dengan sebagian figur penindas di dalamnya yang dialusikan pada kekuasaan penjajah Israel dengan begitu saja dinilai berdasar simtom rasa malu Jerman atas pembantaian Yahudi pada Perang Dunia II. Simtom rasa malu Jerman yang sama yang dilabrak oleh sastrawan besar mereka sendiri, Gunter Grass. Dalam puisi What Must Be Said (2012), Gunter Grass menggugat simtom rasa malu yang menyandera Jerman dan membuat mereka bungkam terhadap kepemilikan nuklir Israel dan penjajahan Israel atas Palestina di hadapan propaganda kosong ancaman nuklir Iran. Di sisi lain, masyarakat Jerman diam saja saat perhelatan Documenta 13 mengapalkan batu meteor terberat kedua di dunia, el chaco, dari Gancedo, Argentina, ke Kassel, Jerman. Padahal, rencana pengapalan el chaco diprotes keras oleh komunitas Moqoit. Batu meteor tersebut melambangkan perlawanan komunitas Moqoit atas penjajahan Spanyol dan memiliki nilai spiritual yang tidak dapat diceraikan dari bentang alamnya. Atas nama simultanitas ruang-waktu dunia internet yang dianggap menghapus batas-batas geografis dan naratif, Documenta 13 bersikeras memboyong el chaco ke Kassel untuk memamerkan lapis lazuli di atas permukaan el chaco dan menyingkapkan endapan-endapan wacana yang terarsip dalam meteor hingga menarik narasi imajinatif saat batu tersebut melayang-layang di ruang angkasa berabad lalu.
Pembongkaran ”Keadilan Rakyat” dan ”pengapalan el chaco” memproyeksikan ketaksetaraan antara Eropa-Amerika dengan Asia dan Amerika Latin. Isu-isu sosiopolitis yang bersumber dari tata krama masyarakat Eropa-Amerika diposisikan secara dominan atas isu-isu sosiopolitis masyarakat di belahan bumi lain. Kita tentu masih ingat skandal kartun Charlie Hebdo yang dibela atas nama prinsip kebebasan berbicara, freedom of speech, masyarakat demokrasi-neoliberal Eropa-Amerika, yang pada akhirnya menguak retakan ketaksetaraan yang berdarah-darah di atas ilusi nilai-nilai universal Eropa-Amerika. ”Keadilan Rakyat” yang memuat memori kekejaman tiga puluh dua tahun rezim Soeharto dan alusi pada penindasan Israel terhadap Palestina harus tunduk pada fobia anti-Yahudi yang terus direproduksi dari simtom rasa malu Jerman atas pembantaian kaum Yahudi oleh Hitler pada Perang Dunia II.
Pembongkaran ”Keadilan Rakyat” dan ”pengapalan el chaco” yang mengonfirmasi nilai-nilai Eropa-Amerika sesungguhnya adalah praktik neoliberal hegemonik yang tak memedulikan suara-suara kawasan lain atas nama universalitas. Gagasan kolektif dan swakelola dalam praktik seni dengan tema ”Lumbung” yang diusung oleh Ruang Rupa pada Documenta 15 pada akhirnya menjelma berhala di penjelang jaringan luas dunia seni global yang berkait-kelindan dengan mesin-mesin kekuatan geopolitik dan kekuatan dominan keuangan global. (*)
---
DWI PRANOTO, Penulis seni dan budaya

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
