
ILUSTRASI
Tengah Desember lalu, Rhoma Irama genap berusia 77 tahun. Di saat sama, itu artinya Soneta juga bertambah usia jadi 54. Sembari bersyukur bahwa Rhoma masih sehat dan Soneta masih sangat aktif, saya pikir tak ada salahnya menunaikan hajat yang sudah lama dipendam: menilik ulang dan membicarakan lagi lagu-lagu awal Soneta.
TULISAN sederhana ini tentu jauh dari hadiah ulang tahun istimewa. Tak juga sebuah tribut. Hanya upaya bersenang-senang seorang penggemar paro baya.
Rhoma Irama, yang saat itu masih sebagai Oma Irama, mendirikan OM (Orkes Melayu) Soneta pada 11 Desember 1970, tepat di ulang tahunnya ke-24. Sebelum mendirikan dan memimpin orkesnya sendiri, Oma telah bermusik sejak awal usia belasan, di antaranya dengan membentuk band pop Gayhand dan Tornado. Hingga awal usia 20-an, Oma terlibat dengan beberapa kelompok band dan orkes seperti The Galaxies, Purnama, Candraleka, El Sitara, Zainal Combo, Pancaran Muda, dan beberapa yang lain. Kebanyakan sebagai biduan, meski di beberapa kesempatan ia juga mencipta lagunya sendiri.
Soneta mulai menelurkan album pertamanya pada 1972 dengan tajuk Ratu dan Radja. Sejak itu, dalam waktu hanya empat tahun, Oma dkk kemudian menghasilkan 10 album, yaitu Pemburu (1973), Risalah Penyanyi (1973), Janda Kembang (1973), Tiada Lagi (1973), Dangdut (1974), Berbulan Madu (1974), Joget (1974), Berpacaran (1974), Ke Monas (1974), Gelandangan (1975).
Meski rilis di tahun yang sama, keluarnya album Begadang (1975) kemudian memungkasi periode ini setidaknya karena dua hal: 1) Oma Irama dan Soneta berpindah rekaman dari Remaco ke Yukawi; 2) (barangkali sebagai konsekuensinya) Soneta mengeset ulang albumnya dengan memakai pola ”volume” (1, 2, dst) –pola yang terus dipakai hingga album Bujangan (1994).
***
Jika ingatan dan pengetahuan saya tentang lagu-lagu Soneta bisa dipakai sebagai patokan rata-rata ingatan dan pengetahuan penggemar Soneta pada umumnya, tiga rilisan pertama Soneta boleh dibilang nyaris tak berjejak. Kecuali sangat sedikit lagu, lagu-lagu dan aransemen musiknya terdengar asing atau telah terlupakan.
Beberapa tulisan sporadis di internet menyebut, pengaruh orkes-orkes yang sebelumnya membesarkan Oma, terutama OM Purnama, masih terasa di fase ini. Bagi saya sendiri, ini adalah upaya mencari yang penuh coba-coba, baik musik, lirik, maupun formasi. Meminjam judul lagu yang jadi jenama Oma di masa ini, inilah periode Ber-”Kelana” bagi Soneta. Mungkin karena itu, beberapa percobaan yang tampaknya gagal kemudian sama sekali tak dipakai untuk seterusnya.
Album Risalah Penyanyi, misalnya. Album ini terasa sekali dibikin secara keroyokan. Bukan saja menyertakan banyak biduan (Oma, Vivi Sumanti, Lily Sjarif, Yus Ichwan), tapi juga melibatkan beberapa pencipta lagu selain Oma. Saya rasa cara keroyokan seramai ini tak lagi ditemukan di album-album Soneta berikutnya.
Tentu saja tetap ada beberapa hal yang penting untuk dicatat. Bahwa jodoh vokal Oma adalah Elvy Sukaesih sepertinya tak terbantahkan sejak di album pertama. Dan itulah yang kemudian jadi pilar terpenting era awal Soneta. Sementara secara musikal, di luar berbagai trial and error yang tak lagi diulangi, beberapa lagu sudah bisa menggambarkan dari mana dan mau ke mana musik Soneta dan Oma Irama.
Ada dua lagu (tentu saja oleh duet Oma-Elvy) yang sangat menarik perhatian saya. Kedua lagu ini, selain menjadi sedikit hal yang menautkan ingatan dan pengetahuan saya dengan Soneta di fase ini, ia juga memberi semacam jendela untuk melongok genealogi sekaligus trajektori musikalitas Oma. Pada dua lagu ini, kita bisa mengerti mengapa kelak, di lagu ”Viva Dangdut”, Rhoma menyatakan bahwa dangdut adalah musik Melayu yang ”kena pengaruh dari Barat dan Hindi”.
Lagu ”Cinta Abadi” (Ratu dan Radja) dibuka secara dramatis dengan genjrengan gitar yang menyerupai organ pembuka ”Child in Time” Deep Purple yang dioplos dengan suara suling yang mirip lolongan parau serigala dari musik tema The Good, The Bad, The Ugly-nya Morricone. Saya hampir yakin, ini mungkin bukti paling awal yang menunjukkan pengaruh Deep Purple pada Soneta. Yang juga menarik, lagu yang bercerita tentang pengkhianatan yang berujung bunuh diri ini juga absen dari bunyi gendang.
Pada lagu ”Radha dan Kishan” (Pemburu), pengaruh ”Child in Time” masih ditemukan dalam wujud pukulan lembut simbal ala Ian Paice di bagian awal lagu, sebelum suara gendang masuk dan mengambil alih. Dan meskipun judul dan isi lagu menjelaskan acuan Oma ke musik Hindi, pun dengan suara rebana di latar belakang, lagu ini juga memberi ruang bagi seorang pemuja Ritchie Blackmore menunjukkan cabikan gitarnya. Dan, meskipun itu tipis-tipis saja, begitu menyimaknya, para penggemar Soneta yang baik segera tahu, itu adalah suara gitar yang sama yang dipakai di intro lagu ”Kematian” yang ngerock itu.
Album keempat, Janda Kembang (1973), yang di dalamnya terdapat hit ”Kelana” tampaknya memungkasi fase meraba-raba ini. Bukan hanya formasi duet Oma-Elvy telah menjadi paten, namun apa yang nanti dikenali sebagai musik Soneta juga jadi lebih solid –sebelum nanti berubah lagi ketika memasuki era rock dan Voice of Moslem. Dengan lagu-lagu seperti ”Dangdut/Terajana”, ”Cukup Sekali”, ”Malam Terakhir”, selain trilogi ”Kelana”, seorang superstar tinggal tunggu waktu saja untuk ditahbiskan.
***

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
