ILUSTRASI
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau/sumur-sumur kering. daunan pun gugur/bersama reranting/hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar/mengalir
bila aku merantau/sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku/di hati ada mayang siwalan memutikkan/sari-sari kerinduan/lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah guru pertapaanku…
(D. Zawawi Imron, Ibu, 1966)
SEJAUH (mungkin juga sependek) yang saya lihat dalam karya seni rupa, belum saya temukan ”penggambaran” sosok ibu seperti yang ditulis oleh penyair cum kiai D. Zawawi Imron dalam puisi Ibu (1966) yang saya kutip sebagian untuk mengawali catatan ini. Ibu dalam puisi itu adalah samudra tanpa tepi, sumber kehidupan, perlindungan, pahlawan tanpa tanding, dan eksistensi seseorang sampai kapan pun. Ibu adalah bumi yang tak pernah kering dan terus memberi meski terus-menerus disesap oleh anak-anaknya. Puisi itu sungguh menyodok ulu hati, mengingatkan siapa pun yang tak dapat menyangkal keberadaan seorang ibu. Karena itulah semua agama mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap terhadapnya.
Seni rupa kita terlalu lama terasa maskulin, baik praktik maupun wacananya. Perempuan paling banyak digunakan sebagai tema penciptaan karya seni. Ia dimanifestasikan sebagai bidadari, dewi, ibu, istri, atau ”teman”. Khusus sosok ibu, rupanya tidak pernah sungguh-sungguh menjadi subjek dan sumber penciptaan. Pada umumnya, para perupa, yang mula-mula didominasi laki-laki, mengolah sosok (utamanya tubuh) perempuan untuk objek perupaan karya-karyanya. Lebih pada fisiknya, belum lebih jauh menggali dunia dalamnya; pandangan, kemarahan, kekecewaan, sukacita, kebijaksanaannya, atau kedamaiannya. Perupa laki-laki melukis potret atau sosok perempuan entah siapa, fokus pada wajah, dan beberapa di antaranya lukisan sosok utuh tubuhnya mengenakan busana lengkap, atau dalam posisi nude, misalnya sejumlah karya Basoeki Abdullah (1915–1993).
Berbeda, misalnya, dengan lukisan Ibu (1941) karya Affandi (1907–1990); wajah renta, tatapan mata seperti melamun, tangan kanan melintang di dada dengan jari-jari bergayut pada pundak kiri dilukis secara realistik. Sang ibu seperti tengah larut dalam pikiran entah apa. Dalam adegan pertunjukan wayang kulit, posisi tangan seperti itu menyimbolkan suasana duka, diteguhkan oleh suluk ngelangut ki dalang ”surem-surem dewantara kingkin…”. Suasana mirip digambarkan oleh Amang Rahman Jubair (1931–2001) pada lukisan Nenek (1976); tiga citra wajah nenek menatap jauh dan kosong dalam suasana surealistik. Dua lukisan itu menggugah rasa haru karena terbayang relasi anak dengan ibunya atau cucu dengan neneknya. Kedekatan yang tak tergantikan.
Bagaimana jika perempuan itu adalah istri? S. Sudjojono (1913–1986) tampaknya yang paling produktif merekam sosok dan aktivitas istrinya, misalnya Isteriku, dan Ibuku Menjahit (1935, keduanya potret dan sosok Mia Bustam); dalam budaya Jawa, seorang suami biasa menyapa istrinya dengan ”ibu” seperti anak-anaknya menyapa. Atau sejumlah lukisan sosok Rose Pandanwangi seperti My Queen (1956/1971), Rose Sedang Mencuci (1980). Namun, terdapat sejumlah lukisan yang tidak segera teridentifikasi identitasnya, digubah oleh para pelukis, tentu karena berbagai alasan. Lukisan Pertemuan (1947) karya Otto Djaja (1916–2002) sekadar menjumput contoh, bagaimana relasi laki-laki-perempuan menjadi bagian dari drama yang menarik untuk diabadikan dalam lukisan. Lukisan Otto Djaja menjadi dramatik, dua sosok bertemu di pinggir ranjang, mengundang sejumlah penasaran; siapakah laki-laki berpenampilan perlente itu, siapakah perempuan berkain-berkebaya dengan kancing terbuka itu, terlibat percakapan apakah, dan seterusnya.
Sosok dan Aktivisme
Pada suatu faset wacana, S. Sudjojono pernah dengan nada sinis menyoroti lukisan-lukisan mooi indie nan indah, panorama, juga para perempuan yang digambarkan dengan busana indah ”seolah Lebaran tiap hari, semua serbabagus dan romantis bagai di surga, semua serbaenak, tenang dan damai” (1946). Ilustrasi karya-karya para seniman era 1950–1960-an tadi, meski sebagian melepaskan diri dari keserbaindahan sosok perempuan, belum sepenuhnya terbebas dan membidik aspek ideologisnya. Karya-karya yang berhenti pada sosok/tubuh masih terus digubah.
Sejumlah seniman mengolah tema perempuan (termasuk di dalamnya dalam posisi sebagai ”ibu”) dalam konteks aktivisme. Memosisikan sosok perempuan dalam tema dan konteks menyuarakan perubahan, kuasa, gender, lingkungan, keadilan, dan lain-lain. Citra ”seolah Lebaran tiap hari” bergeser menuju fungsi gerakan sekaligus menggerakkan. Perempuan dan karya seninya lebih dari sekadar menggugah kesadaran adalah untuk menggugat ketidakadilan dalam beragam praktik serta bentuk. Terlebih lagi terkait ketidakadilan (ketidaksetaraan) gender yang berakibat pada kesewenang-wenangan terhadap perempuan.
Menyebut contoh kuat adalah Dolorosa Sinaga (1952). Pada dirinya melekat seorang aktivis, demikian pun karyanya; ia merekam dan mewujudkan mereka yang menjadi korban kekerasan, mereka yang dibungkam, bahkan mereka yang dihilangkan. Karya-karya patungnya bertumpu pada pengalaman pergumulannya pada gejolak sosial, politik, ekonomi, dan budaya di era Orde Baru hingga gerakan reformasi; kekuatan kebersamaan, solidaritas, suara perempuan tentang ketidakadilan, kehilangan, dan sebagainya. Kerumunan sosok perempuan, dengan gestur dan ekspresi wajah yang bersuara dan menyuarakan.
Sebagai lautan tanpa tepi, sosok ibu adalah sumber yang masih menantang untuk digambarkan dalam karya seni rupa. Kini kita menyaksikan para perempuan bergerak ”bekerja, membela, membantu, melindungi” mereka yang lemah dan menjadi korban. Selain Dolorosa, para perempuan seniman ”bersuara lantang” melalui karya-karyanya yang sunyi seperti Dyan Anggraini, Lucia Hartini, Titarubi, Citra Sasmita, Diyah Yulianti, Endang Lestari, kelompok Bumbon, Ni Nyoman Sani, Fitri DK, Tintin Wulia, Theresia Agustina Sitompul, Maharani Mancanegara, Syagini Ratna Wulan, dan nama-nama lainnya. Kembali saya kutip larik puisi Zawawi Imron, ”…kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan/namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu/lantaran aku tahu/engkau ibu dan aku anakmu…”.Sepenuh hormat, sepenuh cinta kepada para ibu… (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
