
ILUSTRASI
Oleh BONARI NABONENAR
---
Upaya mempertahankan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu atau bahasa daerah makin hari terasa semakin berat. Padahal, secara sekilas akan tampak bahwa seharusnya banyak kemudahan atau potensi pendukungnya.
BAHASA Jawa (seharusnya) masih didukung oleh komunitas orang Jawa yang tersebar di berbagai belahan dunia, diajarkan secara formal di sekolah-sekolah hingga beberapa perguruan tinggi membuka jurusan (pendidikan) bahasa dan sastra Jawa.
Berbagai jenis kesenian tradisional dengan media bahasa Jawa masih hidup di tengah-tengah masyarakat: seni karawitan, ketoprak, ludruk, wayang kulit, hingga tradisi pernikahan adat.
Tidak kalah (tampak) menggembirakannya adalah semakin maraknya lagu-lagu populer dengan syair berbahasa Jawa. Pemakaian bahasa Jawa bahkan juga merambah seni film dan berbagai ragam konten digital di media daring.
Bahasa Jawa, selain jumlah penuturnya yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia, juga masih memiliki tradisi tulis yang tumbuh dengan sangat subur. Masih ada media cetak maupun daring yang memberi ruang bagi karya-karya jurnalistik dan sastra berbahasa Jawa.
Semakin mendorong tradisi tulis dan terus merangsang lahirnya karya-karya (sastra) baru, sudah pula terbangun tradisi penghargaan, antara lain melalui Yayasan Rancage yang didirikan Ajip Rosidi, dan kemudian juga oleh Balai Bahasa Jogjakarta, Balai Bahasa Jawa Tengah, dan Balai Bahasa Jawa Timur.
Sayangnya, gambaran-gambaran yang bagus itu tampak ironis dengan kenyataan sehari-hari di masyarakat luas, yang, seperti disimpulkan para pakar bahwa bahasa Jawa pun menghadapi ancaman serius sebagai, walau ada di barisan belakang, bahasa daerah yang terancam punah, atau ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.
Di tengah-tengah kehidupan yang serbapragmatis sekarang, masyarakat cenderung memandang tidak begitu penting untuk menguasai bahasa ibu/daerahnya sendiri, lebih penting untuk menguasai bahasa-bahasa asing.
Dengan menguasai atau cakap berbahasa Jawa, apa yang bisa kita dapat? Lalu, dengan tidak bisa berbahasa Jawa, apa yang tidak bisa kita dapatkan?
Karena itu, gambaran-gambaran bagus seperti disebutkan tadi bisa jadi hanya berlaku di komunitas-komunitas pegiat literasi, pencinta tradisi, penulis/pengarang yang jumlahnya sangat terbatas.
Kehidupan praktis tidak secara kuat menuntut dan mendorong agar warga Jawa mempelajari dan menggunakan bahasa (daerah)-nya secara sungguh-sungguh. Alhasil, bahasa Jawa semakin kehilangan kewibawaannya di bangku pendidikan, dan terutama di kalangan penuturnya sendiri.
Tingkat tutur dalam bahasa Jawa membuat bahkan orang Jawa sendiri sering memilih meninggalkannya, hanya untuk terhindar dari olok-olok ketika salah mengucapkan maupun menempatkan kata.
Dengan adanya tingkat tutur itu pula, belajar berbahasa Jawa, pun bagi orang Jawa sendiri, terasa sulit, nyaris sama sulitnya dengan mempelajari dua atau tiga bahasa asing sekaligus.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
