
Ilustrasi jemaah haji Indonesia saat melakukan wukuf di Arafah, Kamis (5/6). (MCH 2025)
JawaPos.com – Pelaksanaan ibadah haji tahun 2025 mendapat apresiasi tinggi dari Khatib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori. Menurutnya, seluruh rukun haji berhasil ditunaikan oleh jemaah Indonesia secara lengkap dan tertib. Dalam refleksi singkatnya, ia menyebut ada empat catatan penting yang bisa menjadi tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan haji tahun ini.
“Ukuran paling utama dari suksesnya haji adalah seluruh jemaah bisa wukuf di Arafah. Al-hajju Arafah. Dan tahun ini, semua jemaah haji reguler yang resmi bisa wukuf di waktu yang tepat,” ujar Said Asrori dalam keterangannya di Madinah, Kamis (12/6).
Ia menambahkan, meskipun ada sebagian jemaah yang datang ke Arafah mendekati waktu wukuf, hal itu tidak dianggap terlambat. “Ada yang tiba terakhir sekitar jam 11 siang, tapi itu masih masuk waktu wukuf karena wukuf itu mulai ba’da zawal atau setelah matahari tergelincir,” terangnya.
Catatan kedua yang ia soroti adalah soal perpindahan dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina. Said mengakui adanya kemacetan dan kepadatan jemaah yang menyebabkan sebagian memilih berjalan kaki. Namun hal tersebut menurutnya wajar mengingat jumlah jemaah yang sangat besar.
“Yang penting mereka bisa melaksanakan seluruh rangkaian rukun haji. Jalan kaki juga bagian dari ibadah. Yang tidak sabar menunggu bus memilih berjalan, dan itu tidak masalah,” jelasnya.
Catatan ketiga adalah keberhasilan seluruh jemaah dalam melaksanakan tawaf ifadah. Menurutnya, dua rukun utama haji dalam mazhab Maliki adalah wukuf dan tawaf ifadah. Dalam konteks itu, seluruh rukun telah dipenuhi jemaah Indonesia.
“Kalau menurut Imam Malik, cukup dua rukun: wukuf di Arafah dan tawaf ifadah. Dan semuanya insya Allah tertunaikan. Kalau ada masalah, itu biasa. Setiap tahun pasti ada,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa jutaan jemaah haji membawa jutaan cerita. Tak semua pengalaman menyenangkan, tapi itu bagian dari perjalanan spiritual. “Saya ingat kata KH Mustofa Bisri, satu juta jemaah, satu juta cerita. Dan itu semua bagian dari ibadah,” kata Said.
Catatan keempat yang ia sampaikan bersifat reflektif. Ia mengenang kondisi haji di masa lalu, seperti tahun 2001 saat dirinya pertama kali berhaji. Menurutnya, dibanding saat itu, kondisi haji kini jauh lebih nyaman.
“Dulu kami harus mandiri. Masak sendiri, bawa beras, sayur, bahkan kompor dari Indonesia. Sekarang semua sudah tersedia,” kenangnya. Karena itu, ia mengingatkan agar jemaah lebih banyak bersyukur dan tidak mudah mengeluh.
“Kalau panas saat tawaf itu dinikmati, maka jadi nikmat. Semakin berat, insya Allah semakin besar pahalanya,” imbuhnya.
Said Asrori juga menekankan bahwa esensi dari pelaksanaan haji bukan hanya pada aspek teknis atau logistik. “Pelaksanaan haji boleh sempurna. Tapi kalau tidak mabrur, percuma saja,” pungkasnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
