Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Juni 2025 | 12.03 WIB

Khatib Aam PBNU: Haji Tahun Ini Lebih Baik, Semua Jemaah Bisa Wukuf dengan Sah

Ilustrasi jemaah haji Indonesia saat melakukan wukuf di Arafah, Kamis (5/6). (MCH 2025) - Image

Ilustrasi jemaah haji Indonesia saat melakukan wukuf di Arafah, Kamis (5/6). (MCH 2025)

JawaPos.com – Pelaksanaan ibadah haji tahun 2025 mendapat apresiasi tinggi dari Khatib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori. Menurutnya, seluruh rukun haji berhasil ditunaikan oleh jemaah Indonesia secara lengkap dan tertib. Dalam refleksi singkatnya, ia menyebut ada empat catatan penting yang bisa menjadi tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan haji tahun ini.

“Ukuran paling utama dari suksesnya haji adalah seluruh jemaah bisa wukuf di Arafah. Al-hajju Arafah. Dan tahun ini, semua jemaah haji reguler yang resmi bisa wukuf di waktu yang tepat,” ujar Said Asrori dalam keterangannya di Madinah, Kamis (12/6).

Ia menambahkan, meskipun ada sebagian jemaah yang datang ke Arafah mendekati waktu wukuf, hal itu tidak dianggap terlambat. “Ada yang tiba terakhir sekitar jam 11 siang, tapi itu masih masuk waktu wukuf karena wukuf itu mulai ba’da zawal atau setelah matahari tergelincir,” terangnya.

Catatan kedua yang ia soroti adalah soal perpindahan dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina. Said mengakui adanya kemacetan dan kepadatan jemaah yang menyebabkan sebagian memilih berjalan kaki. Namun hal tersebut menurutnya wajar mengingat jumlah jemaah yang sangat besar.

“Yang penting mereka bisa melaksanakan seluruh rangkaian rukun haji. Jalan kaki juga bagian dari ibadah. Yang tidak sabar menunggu bus memilih berjalan, dan itu tidak masalah,” jelasnya.

Catatan ketiga adalah keberhasilan seluruh jemaah dalam melaksanakan tawaf ifadah. Menurutnya, dua rukun utama haji dalam mazhab Maliki adalah wukuf dan tawaf ifadah. Dalam konteks itu, seluruh rukun telah dipenuhi jemaah Indonesia.

“Kalau menurut Imam Malik, cukup dua rukun: wukuf di Arafah dan tawaf ifadah. Dan semuanya insya Allah tertunaikan. Kalau ada masalah, itu biasa. Setiap tahun pasti ada,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa jutaan jemaah haji membawa jutaan cerita. Tak semua pengalaman menyenangkan, tapi itu bagian dari perjalanan spiritual. “Saya ingat kata KH Mustofa Bisri, satu juta jemaah, satu juta cerita. Dan itu semua bagian dari ibadah,” kata Said.

Catatan keempat yang ia sampaikan bersifat reflektif. Ia mengenang kondisi haji di masa lalu, seperti tahun 2001 saat dirinya pertama kali berhaji. Menurutnya, dibanding saat itu, kondisi haji kini jauh lebih nyaman.

“Dulu kami harus mandiri. Masak sendiri, bawa beras, sayur, bahkan kompor dari Indonesia. Sekarang semua sudah tersedia,” kenangnya. Karena itu, ia mengingatkan agar jemaah lebih banyak bersyukur dan tidak mudah mengeluh.

“Kalau panas saat tawaf itu dinikmati, maka jadi nikmat. Semakin berat, insya Allah semakin besar pahalanya,” imbuhnya.

Said Asrori juga menekankan bahwa esensi dari pelaksanaan haji bukan hanya pada aspek teknis atau logistik. “Pelaksanaan haji boleh sempurna. Tapi kalau tidak mabrur, percuma saja,” pungkasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore