Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Juni 2025 | 06.42 WIB

Dari Arafah ke Mina, Inilah Makna Spiritualitas dan Sosial di Balik Puncak Haji

Jemaah haji Indonesia duduk duduk di area luar tenda usai salat subuh di Arafah, Kamis (5/6) pagi. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com) - Image

Jemaah haji Indonesia duduk duduk di area luar tenda usai salat subuh di Arafah, Kamis (5/6) pagi. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

JawaPos.com – Kamis (5/6) atau 9 Zulhijah 1446 H, jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia memusatkan langkah mereka ke satu titik: Padang Arafah. Di sana, mereka menjalani puncak ibadah haji: wukuf, yang tak hanya menjadi rukun haji, tetapi juga ruang refleksi paling sakral dalam hidup manusia.

Menurut Dr. Amirsyah Tambunan, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus anggota Amirul Hajj, Arafah bukan sekadar tempat bermalam. Di sinilah jemaah dipanggil untuk kembali mengenali siapa dirinya, dari mana asalnya, dan kepada siapa ia akan kembali.

Wukuf di Arafah adalah momen bersejarah sejak Nabi Ibrahim, dilanjutkan Rasulullah Muhammad SAW, yang mengajak kita mengenali jati diri sebagai manusia dan makhluk Allah,” ungkap Amirsyah.

Hal ini ditegaskan dalam surah Ali Imran ayat 97 yang menyebutkan bahwa ibadah haji adalah kewajiban bagi manusia yang mampu, sebagai pengakuan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah di tempat yang penuh keamanan, Baitullah.

Wukuf bukan hanya duduk diam. Ia adalah proses kembali kepada fitrah dan pembaruan komitmen spiritual untuk menaati perintah Allah,” kata Amirsyah.

Ia menyebut, dalam tradisi sejarah Islam, kata Arafah diyakini berasal dari akar kata ‘arafa, yang berarti “mengetahui” atau “menyadari”. Di sinilah Nabi Adam dan Hawa bertemu kembali setelah diturunkan ke bumi.

“Pertemuan di Arafah menjadi lambang bahwa manusia harus saling mengenal, berdamai dengan diri sendiri, dan kembali kepada Tuhan,” tambahnya.

Setelah Arafah, jemaah akan melanjutkan perjalanan ke Mina, tempat dilaksanakannya lempar jumrah. Amirsyah menjelaskan bahwa Mina berasal dari kata al-Muna, jamak dari Omniah, yang berarti harapan atau keinginan.

“Di Mina, manusia diuji: apakah ia tunduk pada perintah Allah atau tergelincir pada bisikan setan,” jelasnya. Kisah Nabi Ibrahim yang teguh menjalankan perintah menyembelih anaknya, Ismail, menjadi simbol ketaatan total kepada Allah.

Simbol lempar jumrah di Mina menjadi aktualisasi spiritual. Bukan hanya melempar batu ke tiga pilar, tetapi juga melempar ego, nafsu, dan keangkuhan yang bersarang dalam diri. “Setan yang dilawan bukan hanya yang tampak di luar, tapi yang bersemayam di dalam hati,” tegas Amirsyah.

Dalam rangkaian ini, Idul Adha di hari ke-10 Zulhijah menjadi perwujudan nyata dari nilai-nilai sosial dalam Islam. Penyembelihan hewan kurban bukan semata tradisi, melainkan bentuk kepedulian terhadap kaum dhuafa.

“Ini adalah implementasi tanggung jawab sosial—mas’uliyah ijtima’iyah, yang lahir dari kesadaran spiritual,” ucapnya.

Amirsyah mengingatkan kembali pesan Prof. Ali Yafie, mantan Ketua Umum MUI: “Haji adalah momen untuk tahu diri, sadar diri, dan tahu menempatkan diri.” Maka wukuf bukan hanya mengheningkan diri, tetapi menyadarkan manusia bahwa segala keangkuhan akan luruh di hadapan Sang Khalik.

Dari Arafah hingga Mina, dari kesunyian doa hingga deru pelemparan jumrah, seluruh jemaah diajak untuk tidak hanya menyelesaikan rukun-rukun fisik, tetapi menyempurnakan haji mereka dengan transformasi batin dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, haji yang mabrur bukan hanya yang sah secara fikih, tetapi juga yang berdampak dalam kehidupan sosial setelah pulang ke tanah air.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore