Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 03.09 WIB

Puncak Haji: Skema Badal dan Safari Wukuf Dirancang Sistematis, 500 Jemaah Masuk Prioritas

Menteri Agama Nasaruddin Umar saat melepas calon jemaah haji Indonesia menuju Arafah untuk melakukan wukuf, Rabu (4/6). (MCH 2025)

JawaPos.com – Jutaan jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk 221 ribu jemaah asal Indonesia, bersiap menyongsong puncak ibadah haji di Arafah pada Kamis (5/6). Salah satu perhatian besar penyelenggara adalah menjamin jemaah lansia, disabilitas, dan berisiko tinggi (risti) tetap bisa menunaikan wukuf meski dengan keterbatasan fisik.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pemerintah telah menyusun strategi sistematis untuk mengatur pelaksanaan safari wukuf dan program badal/taukil. Kedua skema ini dirancang untuk menjamin hak beribadah bagi jemaah yang sakit berat dan sangat terbatas geraknya.

“Kita melaporkan ke Kementerian Kesehatan Saudi Arabia bahwa ada sekitar 3.500 jemaah yang sangat riskan, karena komorbid, usia lanjut, atau kondisi kelelahan berat,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers di Makkah, Rabu (4/6).

Setelah evaluasi bersama tim dokter dan konsolidasi intensif, Pemerintah Arab Saudi memberikan izin terbatas. “Mereka mengizinkan Indonesia tetap melaksanakan safari wukuf bagi jemaah prioritas. Namun dengan ketentuan: tidak boleh turun dari bus, langsung ke tenda Mina, dan tidak keluar dari area,” tegas Menag.

Dari total 3.500 jemaah riskan tersebut, disaring lebih lanjut. “Ada sekitar 500 jemaah yang penyakitnya sangat berat dan masuk dalam daftar safari wukuf. Jumlah ini bisa bertambah hingga 1.000 orang,” katanya.

Untuk jemaah yang benar-benar tidak bisa bergerak, skema badal haji diberlakukan. “Ada sekitar 250 jemaah yang dirawat di rumah sakit dan tak memungkinkan ikut wukuf. Mereka akan dibadalkan,” jelasnya.

Menag membedakan dua istilah penting dalam fikih haji: badal dan taukil. Badal merujuk pada penggantian ibadah sepenuhnya oleh orang lain. Sementara taukil dilakukan oleh wakil resmi untuk melaksanakan wukuf atas nama jemaah yang masih di bawah pengawasan sistem PPIH.

“Badal ini bahkan dibiayai langsung oleh Pemerintah Saudi. Satu badal bisa mencapai Rp20 juta. Kalau 1.000 dibadalkan, itu Rp20 miliar. Tapi karena perhatian khusus, Saudi menanggungnya,” ungkap Nasaruddin.

Pemerintah Indonesia menyiapkan tim khusus untuk pelaksanaan badal dan taukil. “Kami tidak pakai pihak luar, demi menghindari potensi penipuan. Semua dilakukan oleh mustasydin—ulama muda pilihan kita yang paham fikih,” ujarnya.

Setelah safari wukuf, jemaah yang ikut skema ini akan kembali ke hotel transit untuk pemulihan. “Di sana ada dokter, makanan, dan semua kebutuhan mereka. Setelah nafar awal dan nafar tsani, mereka akan bergabung kembali dengan kloter asal,” lanjutnya.

Menag juga menyampaikan terima kasih atas perhatian besar Pemerintah Arab Saudi terhadap jemaah Indonesia.

“Hampir semua permintaan kami disetujui. Dispensasi ini tidak diberikan ke negara lain. Ini menunjukkan betapa besar kepercayaan dan penghormatan Saudi terhadap jemaah Indonesia,” tutupnya.

 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore