Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 April 2025 | 15.11 WIB

Gagal Berangkat karena Sakit? Ini Mekanisme Penggantian Jemaah Haji dari Kemenag

Ilustrasi jamaah haji Indonesia. (Dok. JawaPos.com) - Image

Ilustrasi jamaah haji Indonesia. (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com – Tak sedikit calon jemaah haji yang sudah melunasi biaya, namun gagal berangkat karena alasan kesehatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Agama menyiapkan mekanisme penggantian jemaah agar kuota tetap terpenuhi dan tidak ada kloter yang terganggu.

“Kalau ada jemaah yang tidak mampu secara kesehatan, bisa langsung membatalkan. Kita proses cepat. Dan kalau masih memungkinkan waktunya, bisa digantikan oleh keluarga atau pendamping,” kata Muhammad Zain, Direktur Layanan Haji Dalam Negeri Kemenag, saat Bimtek PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Rabu malam (16/4).

Zain menjelaskan bahwa proses penggantian ini hanya bisa dilakukan selama waktunya masih memungkinkan, terutama terkait dokumen dan proses penerbitan visa. Jemaah juga diberi opsi, apakah akan mengganti dengan kerabat atau mengambil kembali dana setoran haji. Namun jika waktu sudah terlalu mepet, proses penggantian akan sulit dilakukan.

Pernyataan ini juga menegaskan bahwa kesehatan adalah bagian penting dari syarat istitha’ah. Menurut Zain, banyak orang masih mengira istitha’ah hanya soal kemampuan finansial. Padahal, kemampuan menjalani ibadah secara fisik dan mental tak kalah penting.

“Pelaksanaan haji itu 90 persen adalah aktivitas fisik. Jemaah perlu menjaga kesehatan, pola makan, pola pikir, dan harus memahami kondisi iklim di Arab Saudi yang jauh berbeda dengan Indonesia,” jelasnya.

Suhu udara di Tanah Suci bisa mencapai 40 derajat Celsius, dan kelembaban yang rendah bisa dengan cepat menyebabkan kelelahan atau dehidrasi. Karena itu, jemaah diminta mempersiapkan diri sejak dari tanah air—mulai dari konsumsi air yang cukup, makan makanan bergizi, hingga menjaga pikiran agar tetap tenang dan positif.

Zain juga menyampaikan bahwa jemaah dengan riwayat penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau jantung harus konsultasi ke dokter dan membawa obat pribadi, serta tidak boleh putus konsumsi selama di Saudi. Petugas kesehatan akan membantu memantau kondisi tersebut selama perjalanan haji.

“Kami selalu tekankan bahwa istitha’ah itu utuh, bukan sekadar lunas bayar. Harus sehat secara medis, dan siap secara fisik dan mental,” tegas Zain.

Dengan mekanisme penggantian yang jelas dan edukasi tentang pentingnya kesiapan kesehatan, pemerintah berharap jemaah haji Indonesia tahun ini bisa menjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk. Kloter pertama akan diberangkatkan pada 2 Mei 2025, dan jemaah dijadwalkan masuk ke asrama haji mulai 1 Mei 2025.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore