Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juni 2024 | 15.03 WIB

Hindari Kelelahan, Jamaah Haji Diminta Tidak Memaksakan Diri Ibadah di Masjidil Haram

Kompleks Masjidil Haram atau tanah suci tempat beribadah umat Muslim menjadi bangunan arsitektur termahal di dunia. - Image

Kompleks Masjidil Haram atau tanah suci tempat beribadah umat Muslim menjadi bangunan arsitektur termahal di dunia.

JawaPos.com - Menjelang berakhirnya fase kedatangan jemaah haji (clossing date) pada 10 Juni 2024 mendatang, kondisi Masjidil Haram saat ini semakin padat oleh jamaah dari berbagai belahan dunia, khususnya pada saat salat lima waktu. 
 
Kondisi ini berdampak pula pada penumpukan jamaah di Terminal Syib Amir menunggu antrean bus shalawat yang akan mengantar mereka kembali ke hotel setelah beribadah. 
 
"Akibatnya, jamaah mengalami cukup kelelahan menunggu bus di terminal yang menjadi terminal sebagian besar bus shalawat jamaah Indonesia,” kata Anggota Media Center Kementerian Agama Widi Dwinanda, Jumat (7/6).
 
Widi menyampaikan, untuk menghindari kepadatan jamaah di terminal bus, jamaah agar mengatur waktu kembali ke hotel, 30 menit -1 jam setelah salat. Selain itu, ia berpesan, ketika pulang salat Zuhur atau Ashar, jamaah agar mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa payung atau topi lebar untuk menghindari paparan langsung sinar matahari dan memicu dehidrasi di terminal. 
 
 
Namun untuk kemaslahatan jamaah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jamaah agar salat fardu dan ibadah sunnah lainnya dilakukan di musala hotel dan masjid yang berada di sekitar hotel. 
 
“Salat di masjid sekitar hotel memiliki nilai pahala yang sama dengan salat atau beribadah di Masjidil Haram. Jamaah juga agar tidak melakukan umrah berkali-kali sebelum puncak haji, keberadaan jemaah di Tanah Suci saat ini bukan untuk umrah berkali-kali tapi untuk berhaji yang membutuhkan ketahanan fisik terutama saat menjalani puncak haji mendatang,” ucap dia. 
 
Bagi jamaah yang baru tiba di Makkah, ia menambahkan, pelaksanaan umrah wajib dilakukan setelah cukup beristirahat dan mengatur waktu yang cukup leluasa bagi pelaksanaan umrah wajib di tengah kondisi masjid yang sangat padat, waktunya dikoordinasikan ketua kloter. 
 
 
“Umrah wajib bagi jamaah lansia, risiko tinggi, jamaah sakit dan jemaah menggunakan kursi roda sebaiknya dilaksanakan setelah selesainya jamaah yang lain kecuali jemaah yang memiliki pendamping,” ujarnya. 
 
“Untuk menjaga kelancaran prosesi umrah wajib, Kelompok Bimbingan Haji dan Umrah (KBIHU) yang menyertai jamaah agar bekerja sama dengan PPIH kloter,” tutupnya.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore