Petugas Haji 2025 melakukan simulasi penanganan jemaah haji yang sakit saat Armuzna. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Malam itu, Sabtu (20/4), suasana di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, terasa berbeda. Tiga bus besar tiba, membawa penumpang dengan pakaian yang tak biasa.
Para laki-laki mengenakan kain ihram putih, sedangkan para perempuan menggunakan busana muslimah lengkap.
Bukan keberangkatan sungguhan ke Tanah Suci, namun suasana itu sengaja diciptakan untuk satu hal: simulasi haji.
Tak lama setelah para “jemaah” turun dari bus dan berjalan menuju tenda, situasi berubah drastis. Seorang jemaah terlihat menahan sakit.
Dalam hitungan detik, suara sirine ambulans meraung, kali ini bukan dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa Arab. “Iftah ath-thariq (buka jalan)!” teriak suara dari speaker ambulans, meminta orang-orang membuka jalan.
Petugas bergegas membawa “jemaah” yang sakit itu ke ambulans, seolah waktu begitu mendesak.
Simulasi malam itu bukan sekadar latihan teknis. Tapi dirancang untuk membangun mental dan refleks para calon petugas haji tahun 2025, menghadapi salah satu fase paling krusial dalam ibadah haji: pergerakan jemaah di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Ini bukan soal hafal teori. Tapi bagaimana mereka siap secara mental dan fisik ketika menghadapi situasi genting di lapangan,” kata Harun Alrasyid, Kepala Bidang Perlindungan Jemaah Haji, yang malam itu memantau langsung simulasi.
Dalam simulasi tersebut, para petugas tidak hanya berlatih menghadapi kondisi di Arafah saat wukuf. Mereka juga diperkenalkan pada mekanisme Murur dan Tanazul untuk lansia dan jamaah risiko tinggi yang kini menjadi bagian penting dalam pengelolaan haji modern.
Murur adalah skema mabit dengan cara hanya melintas di Muzdalifah. Jemaah lansia, disabilitas, atau risiko tinggi tidak turun dari bus, melainkan langsung dibawa dari Arafah menuju Mina. Ini menjadi solusi praktis untuk mengurangi penumpukan jemaah di Muzdalifah.
Tanazul adalah sistem yang memungkinkan sebagian jemaah tidak mabit di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel yang dekat dengan Jamarat. Biasanya diberlakukan untuk jemaah dari kloter-kloter tertentu yang tinggal jauh dari Mina agar beban tenda berkurang dan jemaah tetap nyaman.
Simulasi malam itu juga mencakup latihan berjalan di terowongan Mina, tempat yang sering menjadi titik kritis dalam pergerakan jemaah. Dalam satu sesi, diskenariokan seorang jemaah pingsan di tengah kerumunan.
Petugas yang telah dilatih sigap langsung mengevakuasi. Kesigapan menjadi penting karena kalau tidak cepat ditangani, bisa terinjak jemaah lain.
"Tadi kita lihat ada jamaah yang di tengah-tengah terowongan itu terjatuh, dan itu juga kerap terjadi. Oleh karena itu, tadi langsung kita ambil kursi roda, bagaimana penanganannya, dan banyak sikap rekan-rekan dari kesehatan untuk menangani itu," jelasnya.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
