Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 April 2025 | 04.22 WIB

Dari Pingsan di Terowongan Mina hingga Sirine Ambulans: Simulasi Petugas Haji Hadapi Kondisi Genting Armuzna

Petugas Haji 2025 melakukan simulasi penanganan jemaah haji yang sakit saat Armuzna. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)


JawaPos.com
– Malam itu, Sabtu (20/4), suasana di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, terasa berbeda. Tiga bus besar tiba, membawa penumpang dengan pakaian yang tak biasa.

Para laki-laki mengenakan kain ihram putih, sedangkan para perempuan menggunakan busana muslimah lengkap.

Bukan keberangkatan sungguhan ke Tanah Suci, namun suasana itu sengaja diciptakan untuk satu hal: simulasi haji.

Tak lama setelah para “jemaah” turun dari bus dan berjalan menuju tenda, situasi berubah drastis. Seorang jemaah terlihat menahan sakit.

Dalam hitungan detik, suara sirine ambulans meraung, kali ini bukan dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa Arab. “Iftah ath-thariq (buka jalan)!” teriak suara dari speaker ambulans, meminta orang-orang membuka jalan.

Petugas bergegas membawa “jemaah” yang sakit itu ke ambulans, seolah waktu begitu mendesak.

Simulasi malam itu bukan sekadar latihan teknis. Tapi dirancang untuk membangun mental dan refleks para calon petugas haji tahun 2025, menghadapi salah satu fase paling krusial dalam ibadah haji: pergerakan jemaah di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

“Ini bukan soal hafal teori. Tapi bagaimana mereka siap secara mental dan fisik ketika menghadapi situasi genting di lapangan,” kata Harun Alrasyid, Kepala Bidang Perlindungan Jemaah Haji, yang malam itu memantau langsung simulasi.

Dalam simulasi tersebut, para petugas tidak hanya berlatih menghadapi kondisi di Arafah saat wukuf. Mereka juga diperkenalkan pada mekanisme Murur dan Tanazul untuk lansia dan jamaah risiko tinggi yang kini menjadi bagian penting dalam pengelolaan haji modern.

Murur adalah skema mabit dengan cara hanya melintas di Muzdalifah. Jemaah lansia, disabilitas, atau risiko tinggi tidak turun dari bus, melainkan langsung dibawa dari Arafah menuju Mina. Ini menjadi solusi praktis untuk mengurangi penumpukan jemaah di Muzdalifah.

Tanazul adalah sistem yang memungkinkan sebagian jemaah tidak mabit di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel yang dekat dengan Jamarat. Biasanya diberlakukan untuk jemaah dari kloter-kloter tertentu yang tinggal jauh dari Mina agar beban tenda berkurang dan jemaah tetap nyaman.

Simulasi malam itu juga mencakup latihan berjalan di terowongan Mina, tempat yang sering menjadi titik kritis dalam pergerakan jemaah. Dalam satu sesi, diskenariokan seorang jemaah pingsan di tengah kerumunan.

Petugas yang telah dilatih sigap langsung mengevakuasi. Kesigapan menjadi penting karena kalau tidak cepat ditangani, bisa terinjak jemaah lain. 

"Tadi kita lihat ada jamaah yang di tengah-tengah terowongan itu terjatuh, dan itu juga kerap terjadi. Oleh karena itu, tadi langsung kita ambil kursi roda, bagaimana penanganannya, dan banyak sikap rekan-rekan dari kesehatan untuk menangani itu," jelasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore