
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, dalam acara Harlah Ke-78 Muslimat NU di Stadion Utama GBK Jakarta.
PADA hari ini, saya merasakan sesuatu yang sangat berharga secara spiritual, secara pribadi, seolah ikut ’’mengetuk pintu langit” dengan berwukuf di Arafah, mabit Mina, dan Muzdalifah. Bersama-sama muslimin dan muslimat dari seluruh dunia, menjalankan ibadah haji, minal masyriqi ilal maghribi, dari bangsa di ujung timur sampai penduduk bumi di ujung barat.
Bersama muslimin dan muslimat, kami secara pribadi, hari ini menjadi dhuyufullah, tamu Allah untuk mengikuti apa yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Momen istimewa Idul Adha juga pasti dirasakan muslimin dan muslimat di Indonesia.
Arafah ialah sebuah bukit tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa, yang oleh syariat diwajibkan bagi orang yang menunaikan haji untuk berwukuf di sana. Melakukan muhasabah, berzikir, bertafakur, dan berdoa di tempat yang istimewa.
Bersama jutaan umat manusia berlari-lari kecil di antara Bukit Shafa dan Marwah di sekitar Masjidilharam di Makkah untuk mengikuti apa yang ribuan tahun lalu dilakukan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS dan ibu Nabi Ismail AS, untuk mencari minuman bagi bayinya yang kehausan serta kepanasan. Kala itu, tempat tersebut berupa lautan pasir dan batu yang panas tiada tara.
Teladan Nabi dan Seorang Ibu Pejuang
Kita diminta meniru ketakwaan, kesabaran, kegigihan, dan keimanan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar. Nama terakhir seorang ibu yang karena keyakinannya yang kuat akhirnya membuat sejarah. Beliau yang menemukan Sumur Zamzam yang sampai kini tak habis sumbernya. Berkat Siti Hajar yang sabar, Allah tunjukkan kuasa-Nya bahwa di padang pasir yang panas dan tandus, bisa tersembur air bersih.
Kisah teladan Nabi Ibrahim AS banyak tertulis dalam Alquran. Bapak agama tauhid itu juga dikisahkan di kitab Taurat, Zabur, dan Injil.
Kebetulan, secara pribadi pula, kami dan rombongan akhir Mei lalu menziarahi tempat kelahiran Nabi Ibrahim di Kufah dan Mesopotamia (kini Iraq). Beliau dilahirkan kepada masyarakat yang berkemajuan secara budaya yang saat itu dipimpin Namrud yang jahat dan menganggap dirinya Tuhan yang harus disembah.
Pada usia ke-90, datang perintah Allah melakukan khitan. Kemudian untuk tahun berikutnya, datang perintah Allah SWT, sebuah cobaan yang paling berat dalam sejarah hidup dan kehidupan manusia, yaitu menyembelih putranya, Ismail.
Setelah semalam datang perintah dari Allah, beliau mendekat dan berkata kepada putranya itu: Yaa bunayya, inni araafil manaam, anni athbachuka, fandzur maada taro? Hai putraku Ismail, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu? Jawab Ismail: Qoola, yaa abatif al, maa tukmaru, satajidunii, insyaallahu minasshoobiriin. Wahai Bapak, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah SWT kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar, sebagaimana Alquran surah As Shoffat ayat 101-111.
Teladan Keimanan yang Kokoh
Dari sejarah hidup Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dari cerita derita Siti Hajar yang berjuang untuk hidup dan menghidupi putranya, kita bisa belajar banyak. Pertama, dari Siti Hajar yang tak mudah putus asa dan Nabi Ismail AS yang sabar, tawakal, dan patuh terhadap Tuhan serta nurut perintah orang tuanya, kita bisa simpulkan sebagai pembelajaran Idul Adha bahwa mereka sukses karena memiliki daya juang yang luar biasa dan tak mengeluh dengan keadaan.
Sebagaimana para Nabi dan Rasul, para pejuang kemerdekaan RI bukan pula orang yang suka enak-enakan dan menyalahkan keadaan. Soekarno, M. Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosuyoso, KH Abdul Wahid Hasyim, serta H Agus Salim yang merintis kemerdekaan Indonesia bukanlah orang-orang yang suka mengeluh dan menunggu serta menggantungkan kepada orang lain.
Kedua, dari Siti Hajar yang tak mudah putus asa dan Nabi Ismail AS yang sabar dan tawakal serta patuh terhadap Tuhan serta nurut orang tua, kita bisa simpulkan sebagai pembelajaran Idul Adha bahwa mereka sukses karena memaksimalkan kemampuan diri masing-masing pada batas tertentu. Diimbangi kesabaran dan ketekunan serta doa.
Ketiga, ini yang paling penting untuk kita, tampak nyata dalam hidup Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dari cerita derita Siti Hajar, dan para Nabi dan Rasul lainnya, juga orang-orang saleh yang beriman, bahwa begitu pentingnya hubungan baik antara anak, istri, dan bapak sebagai kepala keluarga. Betapa penting pendidikan mereka, betapa penting uswah hasanah dari orang tua, betapa penting menanamkan nilai-nilai sejak dini.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
