Ilustrasi Danantara. (dok. Jawa Pos/Hanung Hambara)
JawaPos.com - Keputusan Danantara melakukan merger manajer investasi (MI) dinilai sebagai langkah efisiensi. Cara ini juga bisa mengurangi persaingan sesama perusahaan pemerintah.
Keempat MI yang digabungkan adalah PT Danantara Asset Management (DAM) adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRIMI), PT BNI Asset Management (BNIAM), dan PT PNM Investment Management (PNMIM).
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin mengatakan, langkah ini sebagai momentum membangun kepercayaan investor. Pasalnya, investor juga melihat tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).
Menurutnya, konsolidasi empat MI tersebut perlu didahului dengan proses uji tuntas (due diligence) mengingat besarnya skala keempat perusahaan tersebut.
“Mengapa mergers and acquisitions ini dilakukan? Jelas alasan teknisnya adalah perampingan/efisiensi, perbaikan kualitas manajemen, perbaikan produk investasi, perbaikan layanan, pengurangan kompetisi antarperusahaan investasi pemerintah, dan lain-lain,” ujar Eddy, Rabu (4/11).
Danantara diminta tetap memperhatikan manajemen risiko agar tujuan utamanya tercapai. Seiring dengan membesarnya dana kelolaan entitas gabungan ini, penguatan sistem pengawasan internal menjadi keharusan agar perusahaan dapat terus berinovasi namun tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian.
Dari sisi pembentukan postur sumber daya manusia (SDM), Eddy juga mendorong agar kultur organisasi yang baru mampu merawat sikap kritis agar tata kelola terhindar dari bias.
“Yang penting talents ciamik dijaga. Kalau hanya memakai orang-orang dekat namun talents bagus Indonesia tidak dipakai ya barangkali tujuan going global itu sulit terealisasi," imbuhnya.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, kebijakan Danantara masuk akal bila dilihat dari perpektif bisnis. Dengan begitu bisa menciptakan entitas yang berskala besar dan efisien.
"Risiko terbesarnya struktural. Danantara pemilik MI sekaligus pemilik emiten BUMN yang dibeli MI. Investor perlu kepastian dana publik dikelola untuk nasabah bukan untuk menopang saham BUMN," ujar Wafi.
Dia menerangkan bahwa keterbukaan informasi dan kedisiplinan mengelola risiko adalah instrumen utama yang dapat langsung menjawab dinamika dan ekspektasi investor ritel maupun institusi masa kini.
“Kuncinya batas eksposur ke grup BUMN yang diungkap, keputusan investasi independen dari pemegang saham, pelaporan transparan, dan perlindungan ritel dari mis-selling lewat cabang bank," tandasnya.