Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Mei 2026 | 23.00 WIB

Rupiah Melemah, Ekonom Muhammadiyah sebut Tidak Bisa Jadi Indikator Mengukur Ekonomi Indonesia

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak bisa dijadikan patokan utama dalam menyimpulkan kondisi perekonomian negara. Terdapat indikator lain seperti pertumbuhan PDB, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa dan fiskal. 

Pengamat Ekonomi, Surya Vandiantara mengatakan, penggunaan indikator mata uang dalam mengukur perekonomian negara tidak akan akurat.

"Narasi yang berupaya mendiskreditkan perekonomian Indonesia hanya dengan menggunakan satu indikator saja seperti nilai mata uang Dolar Amerika Serikat, merupakan narasi yang tidak komprehensif," ungkap Surya, Sabtu (23/5).

Surya berpandangan, ekonomi Indonesia masih dalam kategori aman. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berturut-turut positif, pada triwulan I 2026 mencapai 5,61%. Sedangkan pada triwulan IV 2025 sebesar 5,39% dan triwulan III 2025 5,04%.

"Fakta ini menunjukkan bahwa kenaikan Dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelasnya.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini mengatakan, mata uang dolar lebih banyak digunakan oleh masyarakat perkotaan dalam rangka bisnis.

"Kegiatan ekspor-impor dan investasi valuta asing ini tentunya lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang hidup didaerah perkotaan dibandingkan masyarakat pedesaan," imbuhnya. 

Kendati demikian, langkah mitigasi perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga perekonomian. Terutama persoalan BBM yang perlu diantisipasi karena rawan kenaikan harga.

"Pemerintah telah melakukan langkah antisipasi strategis dengan meningkatkan subsidi agar kenaikan harga BBM bisa diredam, sehingga masyarakat Indonesia bisa tetap menikmati harga BBM seperti sedia kala," tandasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore