
Pedagang merapihkan telur ayam di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2022). Menjelang hari Natal dan Tahun baru 2023 sejumlah kebutuhan pokok mulai merangkak naik, menurut pedagang harga telur ayam naik dari Rp. 28.000 menjadi Rp. 31.000 - 35.
JawaPos.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana meredominasi nilai rupiah atau menyederhanakannya dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Langkah ini sesuai dengan tugas Kemenkeu untuk membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah.
Chief Economist PermataBank, Josua Pardede, menekankan, langkah ini tidak banyak memberikan dampak pada perekonomian di tingkat makro. Hanya saja, dampak langsungnya akan dirasakan pada tingkat administratif.
"Pada tingkat makro, redenominasi hanya menyederhanakan jumlah digit rupiah tanpa mengubah daya beli, harga relatif, ataupun nilai tukar riil. Dampak langsungnya adalah administratif, seluruh nominal di APBN/APBD, kontrak, neraca bank dan korporasi, sistem akuntansi, hingga tarif dan pajak diskalakan tiga digit lebih kecil," kata Pardede kepada JawaPos.com.
Dia menjelaskan, manfaat makro yang diharapkan dari langkah ini yakni persepsi lebih baik terhadap stabilitas ekonomi, efisiensi pencetakan dan pengelolaan uang, serta penyeragaman pencatatan yang mengurangi salah hitung dan friksi transaksi.
Hanya saja, terdapat biaya transisi yang nyata, seperti pembaruan sistem pembayaran, mesin kasir, ATM/EDC, penyesuaian perangkat lunak perbankan dan korporasi, serta distribusi uang baru.
Di sisi lain, bagi ritel dan rumah tangga, dampaknya tak akan signifikan karena gaji, harga, dan tagihan akan ikut diskalakan.
Adapun masa transisi menuntut penandaan harga ganda agar masyarakat mudah memahami padanan lama–baru, aturan pembulatan yang tegas, dan ketersediaan pecahan sen supaya transaksi kecil tidak terdorong naik karena keterbatasan pecahan.
"Pedoman ini tecermin dalam rancangan kewajiban pelaku usaha, penandaan harga ganda, serta ilustrasi tahapan transisi pada materi resmi, termasuk contoh aturan pembulatan dan alur masa transisi hingga penarikan bertahap uang lama," tukas dia.
Senada, Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira juga menekankan bahwa langkah ini akan memberikan dampak pada roda perekonomian ritel. Sebab, redenominasi akan membuat penjual membulatkan harga ke nominal paling atas.
"Sebagai contoh efek redenominasi barang dari Rp 9.000 tidak akan jadi Rp 9 tapi jadi Rp 10. Penjual akan cenderung menaikkan harga pembulatan ke nominal paling atas. Dalam ekonomi disebut dengan opportunistic rounding, pembulatan ke atas agar penjual bisa pertahankan marjin saat redenominasi," jelas dia kepada JawaPos.com.
Bahkan, langkah ini bisa berujung pada inflasi dan melemahkan daya beli masyarakat. Padahal, konsumsi rumah tangga termasuk pada motor utama pertumbuhan.
"Apakah mencapai 8 persen pertumbuhan bisa pakai redenominasi? Sepertinya belum bisa," tukasnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
