
Ilustrasi Fintech. (unair.ac.id)
JawaPos.com - Transformasi digital di Indonesia bergerak cepat, terutama di sektor keuangan. Namun, di balik kemajuan itu masih ada persoalan besar: fragmentasi infrastruktur pembayaran.
Masyarakat memang sudah akrab dengan QRIS, BI-FAST, dan GPN, tapi integrasi antar-sistem belum sepenuhnya mulus. Hasilnya, transaksi lintas platform kerap menemui hambatan.
Isu inilah yang coba dijawab oleh Natasha Ardiani lewat Durianpay, startup fintech yang ia dirikan pada 2020. Perusahaan ini menawarkan infrastruktur pembayaran terpadu yang memungkinkan bisnis mengakses berbagai metode transaksi dalam satu sistem.
Sejak beroperasi, Durianpay mengklaim telah memproses lebih dari 60 juta transaksi per bulan dan melayani ratusan klien dari enterprise, layanan finansial, hingga platform kripto. Pertumbuhan Durianpay juga terbilang agresif.
Pada 2023, perusahaan mencatat kenaikan lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan total processing value (TPV) meningkat tiga kali lipat. Hingga kini, total pendanaan yang sudah terkumpul mencapai USD 8,1 juta untuk memperkuat ekspansi di Indonesia dan Asia Tenggara.
Pencapaian terbaru Natasha adalah pengakuan internasional. Pada 2025, ia resmi terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur ke-110 Indonesia setelah lolos seleksi ketat dalam International Selection Panel (ISP) di Cambridge.
Status ini menempatkannya sejajar dengan para founder startup besar seperti Qoala, Kopi Kenangan, dan Kitabisa yang lebih dulu bergabung dalam jaringan Endeavor.
"Keberhasilan Natasha adalah bukti nyata bagaimana founder perempuan dari Indonesia dapat menciptakan solusi dengan daya saing global," ujar Monika Rudijono, Managing Director Endeavor Indonesia melalui keterangannya, Rabu (24/9).
Menurutnya, solusi pembayaran yang dikembangkan Durianpay berpotensi membawa dampak luas di kawasan Asia Tenggara.
Natasha sendiri mengakui proses seleksi yang ia jalani tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan para pemimpin bisnis dunia, mulai dari Breadfast, MyTheresa, hingga Doordash.
"Pertanyaannya sangat tajam dan menantang. Tapi pengakuan ini membuat saya percaya bahwa solusi dari Indonesia bisa relevan untuk dunia. Saya ingin terus membuat pembayaran lebih mudah, tanpa batas, dan inklusif," katanya.
Durianpay kini diposisikan bukan sekadar penyedia layanan pembayaran, melainkan bagian penting dari infrastruktur digital di Asia Tenggara, baik di ranah web2 maupun web3. Langkah Natasha dan timnya menunjukkan bahwa fintech lokal mampu menjadi pemain regional, sekaligus membawa isu fragmentasi pembayaran, yang selama ini dirasakan masyarakat dan bisnis di Indonesia, ke panggung global.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
