Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 September 2025 | 23.02 WIB

Founder Fintech Indonesia jadi Endeavor Entrepreneur ke-110, Bawa Isu Fragmentasi Pembayaran ke Panggung Global

Ilustrasi Fintech. (unair.ac.id) - Image

Ilustrasi Fintech. (unair.ac.id)

JawaPos.com - Transformasi digital di Indonesia bergerak cepat, terutama di sektor keuangan. Namun, di balik kemajuan itu masih ada persoalan besar: fragmentasi infrastruktur pembayaran. 

Masyarakat memang sudah akrab dengan QRIS, BI-FAST, dan GPN, tapi integrasi antar-sistem belum sepenuhnya mulus. Hasilnya, transaksi lintas platform kerap menemui hambatan.

Isu inilah yang coba dijawab oleh Natasha Ardiani lewat Durianpay, startup fintech yang ia dirikan pada 2020. Perusahaan ini menawarkan infrastruktur pembayaran terpadu yang memungkinkan bisnis mengakses berbagai metode transaksi dalam satu sistem. 

Sejak beroperasi, Durianpay mengklaim telah memproses lebih dari 60 juta transaksi per bulan dan melayani ratusan klien dari enterprise, layanan finansial, hingga platform kripto. Pertumbuhan Durianpay juga terbilang agresif.

Pada 2023, perusahaan mencatat kenaikan lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan total processing value (TPV) meningkat tiga kali lipat. Hingga kini, total pendanaan yang sudah terkumpul mencapai USD 8,1 juta untuk memperkuat ekspansi di Indonesia dan Asia Tenggara.

Pencapaian terbaru Natasha adalah pengakuan internasional. Pada 2025, ia resmi terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur ke-110 Indonesia setelah lolos seleksi ketat dalam International Selection Panel (ISP) di Cambridge. 

Status ini menempatkannya sejajar dengan para founder startup besar seperti Qoala, Kopi Kenangan, dan Kitabisa yang lebih dulu bergabung dalam jaringan Endeavor.

"Keberhasilan Natasha adalah bukti nyata bagaimana founder perempuan dari Indonesia dapat menciptakan solusi dengan daya saing global," ujar Monika Rudijono, Managing Director Endeavor Indonesia melalui keterangannya, Rabu (24/9).

Menurutnya, solusi pembayaran yang dikembangkan Durianpay berpotensi membawa dampak luas di kawasan Asia Tenggara.

Natasha sendiri mengakui proses seleksi yang ia jalani tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan para pemimpin bisnis dunia, mulai dari Breadfast, MyTheresa, hingga Doordash. 

"Pertanyaannya sangat tajam dan menantang. Tapi pengakuan ini membuat saya percaya bahwa solusi dari Indonesia bisa relevan untuk dunia. Saya ingin terus membuat pembayaran lebih mudah, tanpa batas, dan inklusif," katanya.

Durianpay kini diposisikan bukan sekadar penyedia layanan pembayaran, melainkan bagian penting dari infrastruktur digital di Asia Tenggara, baik di ranah web2 maupun web3. Langkah Natasha dan timnya menunjukkan bahwa fintech lokal mampu menjadi pemain regional, sekaligus membawa isu fragmentasi pembayaran, yang selama ini dirasakan masyarakat dan bisnis di Indonesia, ke panggung global.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore