
Annual Members Survey (AMS) 2025-2026 Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). (Dok. AFTECH)
JawaPos.com - Industri fintech Indonesia menilai kepastian implementasi regulasi kini menjadi kebutuhan yang lebih mendesak dibandingkan lahirnya aturan baru.
Hasil Annual Members Survey (AMS) 2025-2026 Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menunjukkan 84 persen pelaku industri menempatkan kepastian dan stabilitas regulasi sebagai bentuk dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan sektor keuangan digital.
Temuan tersebut menunjukkan adanya pergeseran kebutuhan industri. Jika sebelumnya fokus banyak diarahkan pada penyusunan kerangka regulasi, kini pelaku usaha lebih menginginkan penerapan aturan yang konsisten, harmonis, dan memberikan kepastian dalam pelaksanaannya.
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, mengatakan hasil AMS 2025-2026 memperlihatkan bahwa industri fintech nasional tengah memasuki tahap yang lebih matang, sehingga ukuran keberhasilannya tidak lagi hanya dilihat dari pertumbuhan bisnis semata.
“Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase pendewasaan. Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya, seberapa konsisten regulasi dapat diimplementasikan, seberapa besar kepercayaan digital yang bisa dibangun, serta seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian,” ujar Pandu.
Survei yang melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH dari sektor sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, hingga platform pendukung ekosistem tersebut memetakan lima transisi struktural yang diperkirakan akan menentukan arah perkembangan industri fintech Indonesia pada masa mendatang.
Perubahan pertama adalah pergeseran dari orientasi pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis. Setelah melewati fase ekspansi, perusahaan kini lebih menitikberatkan profitabilitas, efisiensi, serta kualitas model bisnis sebagai indikator utama keberhasilan.
Hal ini tercermin dari 77 persen responden yang mengandalkan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan, sementara 97 persen menyatakan tidak melakukan perubahan model bisnis selama setahun terakhir.
Transisi kedua terjadi pada aspek regulasi. Seiring kerangka aturan yang semakin lengkap, perhatian industri kini bergeser pada kepastian implementasi. Mayoritas responden menilai konsistensi dan stabilitas penerapan regulasi menjadi faktor yang jauh lebih penting dibandingkan penambahan regulasi baru.
Selanjutnya, industri juga bergerak dari pembangunan infrastruktur digital menuju penguatan kepercayaan digital. Infrastruktur kini tidak hanya dipandang sebagai sarana mempercepat transaksi, tetapi juga sebagai fondasi keamanan dan kepercayaan pengguna. Sebanyak 53 persen responden menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas utama pengembangan infrastruktur.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022