
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, & Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi (tengah) bersama Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, & Pelindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi (kedua kiri), Kep
JawaPos.com - Arus modal asing ke pasar saham Indonesia nampaknya bakal masih positif di 2025. Valuasi harga saham yang menarik dibandingkan dengan pasar saham negara lain memberikan daya tarik tambahan bagi investor asing. Didukung dengan stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga.
Investment Analyst Infovesta Ekky Topan menyatakan, sentimen yang memengaruhi kinerja pasar saham Indonesia ke depan mencakup faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, stabilitas politik pasca pemilu 2024 dan kebijakan ekonomi pemerintah baru akan menjadi faktor kunci.
Arah kebijakan suku bunga acauan Bank Indonesia (BI) juga berperan besar dalam menentukan daya tarik pasar modal Indonesia. "Dari sentimen global, seperti tren kebijakan suku bunga The Federel Reserve (The Fed), kebijakan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perang tarif, pergerakan harga komoditas, dan hubungan geopolitik global akan menjadi variabel penting yang harus diawasi secara ketat," kata Topan kepada Jawa Pos, Rabu (1/1).
Dengan adanya produk derivatif Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti single stock futures, pasar modal Indonesia menjadi lebih menarik, terutama bagi investor institusi asing. Produk ini dapat meningkatkan likuiditas pasar, sekaligus memberikan peluang bagi investor untuk melakukan hedging, yang mana merupakan faktor penting untuk menarik minat investor asing.
Topan menilai, pasar modal Indonesia masih menarik bagi investor. Dengan valuasi yang murah dan peluang besar di sektor energi, komoditas, serta digitalisasi yang berkembang pesat.
Namun, untuk meningkatkan daya tarik ini, pemerintah perlu memainkan peran aktif mengoptimalkan regulasi, mempercepat efisiensi pasar, dan memberikan dukungan lebih pada pasar modal agar lebih kompetitif di tingkat global. "IHSG (indeks harga saham gabungan) di 2025 kami target moderat 7.622, optimis di 8.099," ucap Topan.
Dinamika pasar ritel di Indonesia sepanjang 2024 memang lebih sepi dibandingkan dengan 2020-2021. Pada periode tersebut, minat trading saham meningkat pesat karena keterbatasan aktivitas masyarakat akibat pandemi.
Namun, beberapa perubahan seperti ditutupnya akses ke kode broker asing, banyaknya IPO yang bermasalah, dan semakin luasnya pilihan investasi seperti cryptocurrency membuat minat ritel terhadap saham sedikit menurun. "Generasi muda kini memiliki beragam alternatif investasi yang lebih mudah diakses, seperti kripto dan aset digital lainnya," ujarnya.
Jika ingin melihat dari sudut pandang yang lebih luas, lanjut Topan, fenomena judi online (judol) juga memberikan dampak negatif terhadap daya beli masyarakat dan aliran dana di dalam negeri. Judol yang marak tidak hanya menggerus daya beli masyarakat.
Tapi juga menyebabkan dana masyarakat yang seharusnya bisa digunakan untuk konsumsi atau investasi, justru mengalir keluar negeri. Hal ini berpotensi mengurangi likuiditas di pasar modal domestik.
Hingga penutupan perdagangan saham akhir 2024 pada Senin lalu (30/12), IHSG parkir di 7.079,905. Menguat 43,33 poin atau 0,62 persen day-to-day (DtD). Meski demikian, posisi tersebut mencerminkan penurunan sebesar 2,65 persen year-to-date (YtD).
Kelompok 45 saham unggulan alias indeks LQ45 naik 1,52 poin atau 0,18 persen ke posisi 826,62. Indeks sektoral IDX-IC tercatat sembilan sektor menguat dipimpin teknologi sebesar 2,67 persen, diikuti barang baku dan sektor kesehatan yang menguat sebesar 1,59 persen dan 1,31 persen.
"Secara global, kinerja BEI masih menunjukkan daya saing yang kompetitif dibandingkan dengan bursa global lainnya. Saya bangga melaporkan bahwa pasar modal kita tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian global tetapi juga terus menunjukkan daya saing yang tinggi, baik di ASEAN maupun dalam skala global," ungkap Direktur Utama BEI Iman Rachman.
BEI mencatat, total investor pasar modal yang terdiri dari investor saham, obligasi, dan reksa dana meningkat menjadi 14,84 juta investor. Khusus untuk saham, terdapat peningkatan lebih dari 1 juta menjadi 6,37 juta investor. Dari sisi partisipasi, rata-rata investor yang aktif bertransaksi per 24 Desember 2024 mencapai 147 ribu per hari.
Melihat dari jumlah kepemilikan investor, porsi transaksi investor ritel masih stabil sebesar 32,8 persen. Meski, peningkatan pada porsi transaksi investor institusi asing lebih tinggi. Mencapai lebih dari 36,6 persen dari total rata-rata nilai transaksi harian per November 2024.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
