Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Juli 2022 | 01.52 WIB

Aliran Modal Asing Masuk Berpotensi Seret, Jaga Stabilitas Kurs Rupiah

Karyawan Penukaran uang Ayu Masagung menunjukkan uang rupiah dan dolar Amerika, Kamis (14/10). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan pasar spot hari ini setelah sebelumnya stagnan. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS) - Image

Karyawan Penukaran uang Ayu Masagung menunjukkan uang rupiah dan dolar Amerika, Kamis (14/10). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan pasar spot hari ini setelah sebelumnya stagnan. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

JawaPos.com - Potensi risiko resesi akibat tingginya inflasi di sejumlah negara maju dan berkembang akan berdampak pada perlambatan ekonomi global. Tekanan eksternal itu cepat atau lambat akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Imbasnya, kinerja investasi dan ekspor bakal terganggu.

"Selain itu, perlambatan ekonomi serta peningkatan inflasi global mendorong risk-off sentiment di pasar keuangan global yang selanjutnya berpotensi membatasi aliran modal asing ke pasar keuangan negara berkembang. Termasuk pasar keuangan Indonesia," ungkap Chief Economist Permata Bank Josua Pardede saat dihubungi Jawa Pos Minggu (3/7).

Karena itu, lanjut dia, penguatan konsumsi domestik akan dapat membatasi potensi penurunan investasi dan volume ekspor. Modal kuat yang dimiliki Indonesia, seperti kontribusi konsumsi domestik yang solid didukung momentum kenaikan harga komoditas global, membuat surplus neraca transaksi berjalan.

"Sehingga mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ucapnya.

Menurut dia, nilai tukar rupiah yang cenderung stabil serta peningkatan inflasi fundamental yang belum signifikan menjadi pertimbangan BI masih mempertahankan suku bunga acuan. Namun, bank sentral mulai melakukan normalisasi likuiditas dengan menaikkan giro wajib minimum (GWM).

"BI akan melakukan normalisasi pada suku bunga acuan BI apabila inflasi fundamental sudah menunjukkan tren peningkatan yang signifikan," ujarnya.

Menurut Josua, resesi Amerika Serikat berpotensi mendorong penurunan ekspor Indonesia serta arus investasi. Adapun sektor yang berpotensi terdampak signifikan adalah tekstil yang berorientasi ekspor. Sebab, mayoritas ditujukan ke Negeri Paman Sam itu.

"Artinya, bila terjadi gangguan permintaan di AS, industri itu akan cenderung berdampak paling signifikan pada perekonomian Indonesia," terangnya.

Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan, berbagai tekanan eksternal tersebut, cepat atau lambat, akan dirasakan Indonesia. Tanda-tanda yang terjadi saat ini adalah kenaikan inflasi dalam negeri yang dipicu kenaikan harga pangan. Imbas terbatasnya pasokan.

Pemerintah telah menambah subsidi agar tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), elpiji tabung melon, dan tarif listrik di bawah 3 ribu VA. Inflasi menjadi indikator penting dalam perekonomian karena berkaitan dengan berbagai kebijakan.

"Salah satunya, suku bunga acuan. Apabila inflasi tinggi, suku bunga dinaikkan. Dengan begitu, risiko yang muncul kemudian adalah perlambatan ekonomi," katanya.

Dampak lainnya akan terasa di pasar keuangan akibat kenaikan agresif suku bunga acuan The Fed dan ancaman resesi AS. Karena itu, pasar saham tanah air dan nilai tukar rupiah merosot tajam.

Meski demikian, Andry menilai Indonesia cukup beruntung pada situasi saat ini. Lonjakan harga komoditas internasional membentuk fundamental ekonomi nasional lebih kuat.

Pada Mei 2022, neraca perdagangan surplus USD 2,9 miliar. Dengan begitu, neraca perdagangan Indonesia surplus dalam 25 bulan berturut-turut. Sedangkan cadangan devisa sebesar USD 135,6 miliar.

---

Pergerakan Rupiah terhadap USD Sepekan Terakhir

27 Juni: Rp 14.797

28 Juni: Rp 14.830,50

29 Juni: Rp 14.852,50

30 Juni: Rp 14.903

1 Juli: Rp 14.942,50

Sumber: Bloomberg

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore