Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan akan berkantor di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Jumat (30/1) besok. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan akan berkantor di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Jumat (30/1) besok. Hal ini menyusul dengan ambrolnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga membuat penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
"Mulai besok kami juga akan berkantor di sini (BEI)," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1).
Lebih lanjut, ia menyampaikan pindah kantor sementara dilakukan sebagai bentuk wujud nyata dalam reformasi bursa. Ke depan pihaknya akan melakukan perbaikan secara menyeluruh dan mengutamakan transparansi dan integritas.
"Kunci dasarnya adalah reformasi yang memperbaiki transparansi dan integritas. Tapi kami fokusnya bukan itu, fokusnya adalah reformasi. Perbaikannya itu seluruhnya dan berjalan cepat, tepat, dan efektif," tambahnya.
Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara mengejutkan membekukan evaluasi indeks saham Indonesia sampai Mei 2026. MSCI menyoroti kurang transparannya struktur kepemilikan saham dan ketakutan terhadap kemungkinan perilaku perdagangan yang merusak pembentukan harga tepat.
Imbasnya, selama dua hari berturut-turut IHSG ambrol ke level lebih dari 8 persen hingga menyebabakn trading halt dua hari berturut-turut.
Di sisi lain, kebijakan MSCI berdampak secara langsung terhadap sejumlah saham milik konglomerat dan Big Caps a.l Kelompok bisnis milik Prajogo Pangestu yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun hingga Auto Reject Bawah (ARB) 14,81 persen ke Rp 2.300 sementara PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) melemah hingga 11,84 persen ke Rp 8.375.
Kemudian bisnis milik Prajogo Pangestu yang lain Grup Chandra Asri yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 5 persen ke Rp 6.650 sedangkan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) anjlok 12,14 persen ke Rp 1.230.
Kelompok Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 11,58 persen ke Rp 1.145 sedangkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 14,53 persen ke Rp 294, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 9,42 persen ke Rp 125 dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyentuh ARB 14,97 persen ke Rp 1.420.
Kelompok ‘Happy’ Hapsoro Sukmonohadi yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) turun ARB 15 persen ke Rp 1.445, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melemah 15 persen ke Rp 4.590, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) anjlok 14,97 persen ke Rp 6.250.
Kelompok Sugianto Kusuma alias Aguan yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) terkoreksi 14,89 persen ke Rp 9.575 dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turun 14,68 persen ke Rp 6.250.
MSCI menegaskan jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan maka mereka akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia, dan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
