Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 23.28 WIB

Bisnis Emas Melesat, Laba BSI Menguat

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah),  Direktur Risk Management Grandhis H.Harumansyah (paling kiri), Wakil Direktur Utama Bob T.Ananta (dua dari kiri). (BSI for Jawapos) - Image

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah), Direktur Risk Management Grandhis H.Harumansyah (paling kiri), Wakil Direktur Utama Bob T.Ananta (dua dari kiri). (BSI for Jawapos)

JawaPos.com - Bisnis emas dan ekosistem Islam menjadi engine growth PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sepanjang triwulan II 2025. Didukung transformasi digital untuk tetap resilien di tengah kondisi makro ekonomi yang cukup menantang. Alhasil, laba bank berkode emiten BRIS itu tumbuh double digit.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyatakan, laba naik 10,21 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 3,74 triliun per Juni 2025. "Lebih detail, kinerja keuangan aset tumbuh 10,97 persen atau Rp 401 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,83 persen atau Rp 323 triliun," terangnya dalam paparan kinerja BSI triwulan II 2025, Senin (22/9).

Pembiayaan BSI tumbuh 13,93 persen YoY dengan outstanding Rp 293,24 triliun. Mayoritas pembiayaan disumbang segmen ritel dan konsumer, termasuk emas senilai Rp 211,78 triliun. Berkontribusi mencapai 72,22 persen dari total kredit. Sedangkan segmen wholesale sebesar 27,78 persen.

Dari bisnis emas, pembiayaan bisnis emas BSI melesat 88,25 persen YoY mencapai Rp 16,88 triliun. Terdiri dari cicil emas Rp 9,09 triliun yang naik 155,41 persen YoY dan gadai emas Rp 7,79 triliun, tumbuh 44,08 persen secara tahunan. "Melesatnya pembiayaan emas mendorong pembiayaan konsumer BSI naik 16,20 persen dengan outstanding Rp 162,19 triliun," kata Anggoro.

Dia memastikan kualitas pembiayaan bank terjaga. Tercermin dari rasio pembiayaan macet alias non-performing finance (NPF) gross 1,87 persen. Lebih baik dari posisi industri di level 2,22 persen.

Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan, strategi lain yang juga mendorong adalah pengelolaan dana murah. Pertumbuhan DPK BSI ditopang tabungan sebagai mesin utama pertumbuhan. Sehingga menjaga komposisi dana murah atau current account saving account (CASA) di level 61,78 persen atau Rp199,48 triliun.

"Ekosistem payroll dan haji mendorong pertumbuhan DPK sebesar 8,83 persen YoY mencapai Rp 323 triliun. Tabungan BSI mencapai Rp 141,30 triliun, tumbuh 9,71 persen YoY," ujar Ade.

Melesatnya bisnis berbasis emas, lanjut dua, meningkatkan pendapatan margin perseroan sebesar 16,61 persen YoY ke level Rp 14,09 triliun. Serta pendapatan berbasis fee menjadi Rp 2,94 triliun, naik 18,37 persen. Layanan bulion bank yang dibuka pada Februari 2025 menghasilkan fee based income dari transaksi jual dan beli emas melalui BYOND dengan total tabungan emas telah menyentuh 1 ton.

"Memasuki akhir tahun ini, kami akan melanjutkan pertumbuhan pembiayaan pada segmen yang sustain dan sehat, transformasi digital berkelanjutan agar layanan BSI makin cepat, efisien, dan inklusif dan peningkatan kapabilitas SDM serta IT dan infrastruktur," tandasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore