JawaPos.com - Nilai tukar rupiah masih melemah dalam perdagangan akhir pekan ini. Pada perdagangan terakhir Jumat (21/6), mengutip Google Finance, rupiah ditutup di level Rp 16.463 per dolar AS. Melemah 25,15 poin atau minus 0,16 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, mengutip RTI, rupiah ditutup lesu di level Rp 16.441 per dolar AS. Mata uang Garuda ini, melemah 16 poin atau minus 0,10 persen.
Sedangkan menurut amatan, Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaib, dalam perdagangan akhir pekan mata uang rupiah ditutup melemah 20 point walaupun sebelumnya sempat melemah 30 point dilevel Rp 16.450 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.438.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.440 - Rp 16.510,” ujar Ibrahim Assuaib dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Jumat (21/6).
Dia menjelaskan, pelemahan rupiah ini seiring dengan melemahnya penjualan ritel bulan Mei yang dirilis minggu ini yang tidak terlalu signifikan dengan pasar tenaga kerja. Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun pada minggu lalu, namun masih lebih besar dari perkiraan.
Data AS yang lemah baru-baru ini memperkuat spekulasi penurunan suku bunga Federal Reserve sebanyak dua kali pada akhir tahun ini. Sementara itu, para pejabat The Fed membiarkan kebijakannya tidak berubah pada pertemuan mereka di bulan Juni, dan memangkas proyeksi sebelumnya untuk pemotongan tiga perempat poin tahun ini menjadi satu, bahkan ketika inflasi telah mereda dan pasar tenaga kerja telah melemah.
Sementara itu, sentimen rupiah di tanah air dipicu oleh pasar yang terus memantau ketidakpastian arah kebijakan fiskal yang meningkatkan fiscal risk juga menjadi faktor yang memengaruhi pelemahan mata uang rupiah. Hal itu dilihat dari kondisi proyeksi defisit anggaran yang besar di kisaran 2,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) yang mendekati batas atas level 3 persen dari PDB.
Terlebih belakangan ini bermunculan kabar mengenai sikap Presiden terpilih Prabowo Subianto yang terlihat permisif dengan utang dan bahkan diisukan hendak menaikkan rasio utang pemerintah ke kisaran 50 persen dari PDB, meski kemudian kabar itu sudah dibantah tim Prabowo-Gibran.
“Oleh karena itu, pemerintah mendatang di bawah Prabowo-Gibran harus secepatnya menyampaikan komitmennya terhadap disiplin fiskal agar naiknya risiko fiskal dapat ditekan dan tidak menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pemerintah dan Bank Indonesia selayaknya menjaga stabilitas rupiah berbasis kekuatan fundamental perekonomian Indonesia. Hal itu yakni surplus neraca perdagangan, bukan intervensi valuta asing (valas) dengan cadangan devisa yang terbatas atau menaikkan suku bunga domestik.
Sebenarnya rupiah tidak perlu mengalami pelemahan yang panjang jika pasokan dolar dari surplus neraca perdagangan mengalir ke pasar. “Pelemahan rupiah, merupakan anomali karena hingga Mei 2024 Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan yang cukup baik,” tutupnya.