Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 April 2024 | 00.55 WIB

Dilema Rupiah Indonesia Terhadap Menguatnya  Dolar AS: Kebijakan Berubah di Tengah Pelemahan Mata Uang Rupiah

Ilustrasi dolar Amerika dan mata uang seperti rupiah dan lain-lainnya. /Sumber Foto: (Freepik/8photo) - Image

Ilustrasi dolar Amerika dan mata uang seperti rupiah dan lain-lainnya. /Sumber Foto: (Freepik/8photo)

JawaPos.com – Perekonomian Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan yang tidak terduga dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika. 

Rupiah, yang sebelumnya diharapkan akan mengalami pelonggaran moneter, kini justru mengalami penurunan nilai yang signifikan. Situasi ini mendorong Bank Indonesia untuk mempertimbangkan perubahan kebijakan. 

Ketika masyarakat kembali beraktivitas pasca libur Lebaran, nilai rupiah anjlok hingga mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir dibandingkan dengan dolar Amerika yang menguat. 

Hal ini terjadi karena adanya prediksi bahwa Federal Reserve AS akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan ekonomi yang berkembang pesat. 

Dilansir dari laman Reuters, Kamis (18/4), penurunan nilai rupiah ini telah menembus angka 16.000 rupiah per dolar Amerika, dengan penurunan sebesar 5,25 persen sepanjang tahun ini. 

Penurunan yang tajam ini memicu analis pasar untuk berspekulasi bahwa Bank Indonesia mungkin akan menaikkan suku bunga guna menstabilkan mata uang.

Bank Indonesia memiliki posisi yang unik sebagai bank sentral satu-satunya di dunia yang memiliki mandat utama menjaga stabilitas mata uang. 

Sepanjang tahun 2023 dan memasuki tahun ini, bank telah menggunakan berbagai strategi intervensi untuk menangani fluktuasi rupiah di tengah penguatan dolar. 

Sampai saat ini, Bank Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu bank sentral pertama di Asia yang memulai pemangkasan suku bunga. 

Namun, dengan adanya rapat kebijakan yang dijadwalkan pada 23 April, tampaknya ada perubahan arah kebijakan. Kenaikan suku bunga, yang akan menjadi yang pertama sejak bulan Oktober, kini sedang dipertimbangkan. 

Meskipun inflasi masih terkendali, dan ada kekhawatiran terhadap pertumbuhan, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik imbal hasil yang selama ini menarik minat investor terhadap rupiah, meskipun hal ini juga ikut andil dalam fluktuasi yang sering terjadi.

Pesona rupiah sebagai mata uang yang menguntungkan dalam carry-trade kini meredup karena volatilitasnya dan margin keuntungan yang tipis dibandingkan dengan pasar dolar. 

Selisih antara obligasi pemerintah AS dengan durasi 10 tahun dan obligasi pemerintah Indonesia, yang pernah mencapai 7,5 persentase poin, kini hanya tinggal dua poin. 

Pemegang asing atas surat berharga pemerintah Indonesia telah berkurang dari seperempat pada Desember 2020 menjadi hanya 14 persen.

Bank Indonesia telah bertindak proaktif dengan melakukan kombinasi pembelian rupiah langsung di pasar valuta asing dan kontrak forward non-deliverable domestik, serta pembelian obligasi pemerintah, untuk menahan penurunan nilai rupiah. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore