
TREN POSITIF: Trader mengecek laporan ringkasan saham. Selain emiten sektor konsumsi, teknologi digital menjadi sektor yang prospektif tahun depan.
Pergerakan pasar saham nasional diperkirakan lebih stabil tahun depan. Suku bunga acuan The Fed yang mungkin turun, inflasi global melandai, serta eskalasi perang Rusia-Ukraina mereda. Meski, ketegangan geopolitik Hamas dengan Israel masih berlanjut dan tahun politik membuat pelaku pasar berhati-hati.
---
SEPANJANG 2023, indeks harga saham gabungan (IHSG) sangat fluktuatif. Itu sejalan dengan ketidakpastian kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) yang cenderung hawkish. Ditambah tekanan terhadap yield obligasi pemerintah oleh kenaikan US Treasury. ”Jadi, market bolak-balik naik turun. Ada keributan geopolitik di Timur Tengah antara Hamas dan Israel yang panas. Lalu, penurunan harga komoditas,” kata analis pasar modal Hans Kwee kepada Jawa Pos kemarin (16/12).
Dia memproyeksi pasar saham dalam negeri pada 2024 relatif lebih bagus ketimbang tahun ini. Sejalan dengan penguatan perekonomian Amerika Serikat (AS). Hal itu tecermin dari inflasi perlahan turun di level 3,1 persen pada November 2023. Indeks ketenagakerjaan nonfarm payrolls juga naik menjadi 199 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran turun menjadi 3,7 persen dan pertumbuhan upah bulanan naik 0,4 persen.
Indikator tersebut direspons The Fed dengan mempertahankan suku bunga acuannya dalam tiga pertemuan terakhir di level 5,25–5,50 persen. Meski, tingkat inflasi masih jauh dari target 2 persen. ”Hanya menunggu penurunan suku bunga Federal Reserve seberapa cepat,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.
Dari dalam negeri, tensi politik mulai memanas. Di tahun pemilu, biasanya setahun jelang pemilihan pasar consumer goods membaik. Apalagi, diperkirakan pemilihan umum presiden berlangsung dua putaran. Karena itu, konsumsi bakal lebih tinggi dengan periode yang lebih panjang. ”Belanja pemerintah yang diperkirakan Rp 50 sampai 60 triliun untuk pemilu. Ada pula kampanye,” imbuhnya.
Sesudah presiden terpilih, sektor investasi akan cukup bagus. Sebab, pasar punya kepastian mana yang akan diuntungkan. Yang paling penting, pemilu berlangsung jujur dan adil. Masyarakat dan semua pihak bisa menerima hasil pemilihan. Tidak ada resistansi perlawanan yang negatif terhadap hasilnya. ”Kalau itu terjadi, sentimennya positif bagi pasar. Jadi, tahun depan global nggak banyak tekanan. Sehingga kalau kita pikir akan lebih bagus,” papar Hans.
Menurut dia, emiten sektor konsumsi bakal moncer dan bisa cocok menjadi pilihan investasi pada 2024. Seperti ICBP, MYOR, HMSP, dan GGRM. Selain itu, ada emiten sektor properti, industri semen, kawasan industri, perbankan, dan komunikasi yang berpotensi cuan tahun depan. ”Untuk properti BSDE, CTRA, sama Pakuwon (PWON). Kemudian, semen SMGR dan INTP. Emiten kawasan industri juga bagus seperti AKRA,” beber Hans.
Di sektor perbankan, tetap memilih emiten perbankan dengan kapitalisasi besar. Yakni, BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, dan BRIS. Untuk sektor komunikasi, TLKM dan TOWR menjadi rekomendasi.
Hans memproyeksi laju IHSG dapat menyentuh level 7.500–7.600 pada 2024. ”Karen-a ada momen pemilu yang cukup memengaruhi volatilitas pasar kita,” tandasnya.
Sementara itu, Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy memprediksi nilai wajar IHSG berada pada kisaran 8.100 pada semester II 2024. ”Setelah pelonggaran kebijakan moneter dan kejelasan hasil pemilu putaran kedua,” jelasnya.
Potensi penguatan indeks saham utama domestik tersebut didukung oleh besarnya potensi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global. Sehingga memicu iklim investasi yang positif, baik untuk pasar saham maupun pasar obligasi. Dia juga menilai kondisi itu menjadi peluang untuk memilih strategi investasi yang lebih agresif.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai sektor teknologi digital akan menjadi salah satu sektor yang prospektif tahun depan. Begitu juga sektor perbankan, telekomunikasi, otomotif, logistik, dan sektor lain terkait konsumsi.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christopher Rusli mengatakan, emiten-emiten teknologi digital akan sangat diuntungkan jika prediksi tren penurunan suku bunga global akan terealisasi pada 2024. Penurunan suku bunga diyakini menggenjot daya beli masyarakat. Dengan begitu, bakal mendorong kinerja perusahaan-perusahaan tersebut.
”Kami menilai perusahaan-perusahaan teknologi dan keuangan digital berpotensi untuk membukukan EBITDA disesuaikan (adjusted EBITDA) yang positif dalam beberapa tahun ke depan jika tren penurunan suku bunga akan terealisasi pada akhir tahun depan,” ujar Christopher.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
