Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Oktober 2023 | 04.31 WIB

Ini Alasan BI Naikkan Suku Bunga Acuan jadi 6 Persen

Ilustrasi Bank Indonesia (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

 
JawaPos.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan alasan dari keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), pada 18-19 Oktober 2023 dengan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen dari sebelumnya sebesar 5,75 persen.
 
Perry menjelaskan, kenaikan ini dilakukan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya dinamika ketidakpastian global. Serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation) sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1 persen pada 2023 dan 2,5±1 persen pada 2024.
 
"Dinamika global sangat cepat dan very unpredictable, pada RDG bulan lalu memang kita sampaikan apa-apa yang kita lihat dengan informasi terbaru pada waktu itu. Tapi dua minggu kemudian terjadi perubahan yang sangat cepat. Ada 5 dinamika," kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/10).
 
Perry menjelaskan, alasan pertama yang mendasari dinaikkannya suku bunga acuan oleh BI karena perubahan dinamika global yang sangat cepat. Menurutnya, perekonomian global diprediksi akan melambat dengan ketidakpastian yang semakin meningkat tinggi.
 
Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melemah dan disertai divergensi pertumbuhan antarnegara yang semakin melebar. Pada tahun 2023, pertumbuhan ekonomi diprediksi hanya sebesar 2,9 persen dan melambat menjadi 2,8 persen pada 2024.
 
Kedua, adanya tensi ketegangan geopolitik yang meningkat. Menurut Perry, ketegangan geopolitik ini menyebabkan harga minyak melonjak dan harga pangan tetap tinggi. Kedua hal itulah yang dinilai akan memperlambat penurunan inflasi global.
 
 
"Kan tahun lalu inflasi global akan melambat, dengan ketegangan geopolitik ini harga minyak meningkat, harga pangan tinggi dan memperlambat penurunan inflasi global," jelas Perry.
 
Ketiga, suku bunga di negara maju termasuk Fed Funds Rate akan ditahan lebih lama atau higher for longer. BI pun memprediksi, Fed Funds Rate akan naik pada Desember 2023.
 
 
"Memang kami menakar ada probabilitas sekitar 40 perse Fed Fund Rate akan naik di bulan Desember, ketidakpastian kan tinggi. Tapi meskipun naik maupun tidak naik itu akan masih tetap tinggi khususnya di paruh pertama tahun depan, baru akan menurun pada paruh kedua itu Fed Fund Ratenya," jelasnya.
 
Keempat, kenaikan suku bunga global tidak hanya dijangka pendek. Perry menjelaskan, dalam kebijakan moneter itu biasanya menaikkan suku bunga global dijangka pendek, namun kini suku bunga global di jangka panjang juga turut dinaikkan.
 
"Sehingga jika dilihat suku bunga yield US Treasury oblgasinya paman sam kan tinggi sekitar 5,2 persen, tapi 10 tahun sekitar 4,6 persen, dan yang 10 tahun sudah naik 4,8 persen, dan 20-30 tahun juga naik. Ini yang bedanya dengan bulan lalu," katanya.
 
Kelima, yakni implikasi dari faktor keempat, sehingga menyebabkan aliran modal yang masuk ke negara emerging banyak yang kembali ke negara maju, sehingga memperkuat dollar Amerika Serikat.
 
"Implikasi nomor 4 ini adalah nomor 5, sehingga aliran modal yang dari negara emerging yang tempo hari sudah mulai stabil sudah mulai masuk kembali lagi banyak yang pindah ke negara maju dan memperkuat dollar Amerika Serikat," pungkasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore