
Engel Tanzil saat berada di replika ruang kerja Pramoedya Ananta Toer dengan barang-barang yang masih asli di Dia Lo Gue Kemang Jakarta Selatan, Rabu (30/5)
Engel Tanzil butuh enam bulan untuk mewujudkan pameran buku, catatan, arsip, dan barang-barang pribadi lain sang sastrawan. Tas yang dipakai Pram saat bebas dari Pulau Buru juga ikut dipamerkan.
TAUFIQURRAHMAN, Jakarta
---
TIGA mesin tik diletakkan di ruangan itu. Dua di meja samping. Satu yang paling besar di meja utama. Buku, kotak kardus tempat beberapa bolpoin, dan pisau pencungkil staples menemani mesin tik yang di meja utama. Juga, tempat lem dari kaleng bekas serta sebungkus rokok merek Djarum. Lengkap dengan asbak penuh puntung serta abu rokok.
Sebuah lampu belajar meneranginya. Sementara itu, Bunga Penutup Abad yang dimainkan Ricky Leonardi Chamber Orchestra mengalun pelan.
Berada di sana, seolah bisa melihat langsung Pramoedya Ananta Toer bekerja. Cetak, cetok, jarinya menari di atas mesin tik. Sembari kebal-kebul mengembuskan asap rokok.
"Pram kan kalau lagi nulis pakai sarung," kata Engel Tanzil sambil menunjuk kursi putar di belakang meja, yang porosnya berkarat dan beberapa bagian kulitnya sobek, tempat selembar sarung disampirkan.
Diorama ruang kerja Pram tersebut diletakkan di ruang belakang artspace milik Engel, dia.lo.gue, yang terletak di daerah Kemang, Jakarta. Merupakan bagian dari displai pameran Namaku Pram: Catatan dan Arsip.
Engel butuh enam bulan untuk mewujudkan pameran yang digagasnya itu. Diawali pendekatan ke keluarga Pram, lewat Astuti Ananta Toer, putri salah seorang sastrawan terbesar Indonesia itu.
Aktris Happy Salma yang lebih dulu mengenal Astuti membantunya. Happy adalah pemeran Nyai Ontosoroh di pertunjukan bertajuk Bunga Setengah Abad yang diadaptasi dari Bumi Manusia, karya legendaris Pram.
Setelah mengantongi restu dari Astuti, Engel memulai risetnya tentang Pram. Setiap pekan dia sempatkan untuk datang ke rumah Pram di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, dan di Utan Kayu, Jakarta Timur.
Engel mewawancarai anak-anak, cucu, dan orang-orang terdekat Pram. Juga, mendatangi beberapa tokoh yang paham dan terinspirasi oleh Pram. Di antaranya, Budiman Sudjatmiko, Hilmar Farid, dan Rieke Dyah Pitaloka.
Buku dan arsip untuk pameran pun lancar didapatkan Engel dari keluarga Pram. Namun, soal diorama ruang kerja yang agak alot. Restu keluarga untuk membawa barang-barang milik penulis Bukan Pasar Malam itu tidak kunjung turun.
Engel sudah pasrah dan berencana mengganti dengan displai lain. Tapi, dua hari menjelang pameran dibuka, pihak keluarga akhirnya mengizinkan.
Barang-barang milik pram, mulai meja hingga patung wajah, akhirnya diantarkan ke Kemang oleh cucu-cucu penulis kelahiran Blora, Jawa Tengah, yang pernah dibuang ke Pulau Buru itu.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
