Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Maret 2021 | 18.53 WIB

Ingin Cepat Pulang, tapi Masih Khawatir Efek Kebakaran

MASIH MEMBARA: Foto udara menunjukkan lokasi kebakaran tangki Pertamina RU VI Balongan yang berbatasan dengan perumahan warga Balongan, Indramayu, Jawa Barat, kemarin. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS) - Image

MASIH MEMBARA: Foto udara menunjukkan lokasi kebakaran tangki Pertamina RU VI Balongan yang berbatasan dengan perumahan warga Balongan, Indramayu, Jawa Barat, kemarin. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Mual, demam, darah tinggi kumat melanda para pengungsi terbakarnya kilang Balongan. Melihat api yang masih ”bekerja” akhirnya jadi pilihan hiburan.

SHAFA NADIA, Indramayu, Jawa Pos

---

USIA memang telah menggerogoti penglihatan dan pendengaran mereka. Tapi, alam yang bersekutu dengan tubuh tetap mengabarkan insiden besar itu dengan caranya sendiri.

”Aku nggak dengar suara apa pun. Cuma, mataku memang berasa ngeres (ada kotoran, Red),” kata Sanusi dalam bahasa Cirebonan.

Istrinya, Warti, merasakan sakit di kepala. ”Seperti digigit tawon,” tuturnya.

Tak ada tawon pada Senin dini hari lalu (29/3) itu. Yang ada adalah ledakan keras akibat kilang Balongan, Indramayu, milik Pertamina terbakar.

Sanusi sudah 80 tahun, Wati lebih muda 5 tahun. Mereka hidup berdua saja di Desa Wisma Jati yang hanya terpisah sekitar 5 kilometer dari kilang yang terbakar itu.

Saat para tetangga panik menyelamatkan diri masing-masing, kakek dan nenek yang tak bisa melihat dan mendengar itu hanya bisa pasrah. Tahu-tahu beberapa orang datang, memapah mereka, menaikkan ke angkot, dan membawa keduanya mengungsi ke GOR Bumi Patra.

Mereka selamat, tapi harus melewati malam yang tak menyenangkan bersama 400-an orang di GOR tersebut. Nyamuk yang tak berhenti menyerang, bising yang tak reda oleh dini hari sekalipun, dan dingin yang menggigit dari lantai tempat mereka menggelar tikar.

”Kepala, mata, jadi sakit. Sikil (kaki, Red) nggak bisa gerak. Penyakit terasa komplet di sini,” keluh Sanusi.

Kepada petugas dan relawan yang berjaga, dia sebenarnya sudah merengek minta pulang. Tapi, di sisi lain, dia juga masih mengkhawatirkan dampak kebakaran yang sampai tadi malam belum padam.

Ada ratusan orang yang bernasib serupa dengan Sanusi dan Warti. Sebagian di GOR Bumi Patra, sebagian lain di pendapa kabupaten. Ada pula yang memilih menyelamatkan diri ke Cirebon. Balongan memang jalur penghubung Indramayu–Cirebon.

Dari pantauan Jawa Pos di lokasi ledakan Pertamina Balongan, si jago merah masih membara sampai pukul 22.00. Bau gas juga masih terasa dari jarak 1 kilometer. Kaca jendela bangunan di kompleks Pertamina terlihat masih berserakan.

Jalan raya di depannya yang menghubungkan Cirebon–Indramayu bisa dilalui kendaraan sejak kemarin pagi (30/3). Anggota TNI, polisi, dan pegawai Pertamina masih setia berjaga di sekitar lokasi. Termasuk di akses menuju Desa Sukaurip yang berlokasi tepat di belakang Pertamina.

Baca juga: Tiga Korban Ledakan Kilang Balongan Terpental Masuk Sawah

Hujan sebenarnya mengguyur Indramayu sejak Senin malam (29/3) sampai kemarin pagi (30/3). Matahari baru mulai muncul sekitar pukul 11.00. Toh, api belum reda juga.

Di GOR yang dihuni warga Desa Wisma Jati dan Majakerta, kehidupan menggeliat sejak pagi. Jalanan yang berlumpur menyulitkan akses keluar masuk serta menghambat aktivitas warga dan relawan.

Photo

DARURAT: Korban kebakaran tangki Pertamina mengungsi ke GOR Bumi Patra, Indramayu. Semua kebutuhan pengungsi ditanggung Pertamina dan pemerintah. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Di dalam GOR, tangis bayi bercampur teriakan anak-anak dan beragam kegiatan orang-orang dewasa. Ada yang tidur, mengobrol, makan, bahkan bengong.

Belasan anggota tim medis bersiaga. Salah seorang bidan yang bertugas mengungkapkan bahwa para pengungsi dewasa rata-rata mengeluhkan sakit yang beragam.

Di antaranya, sakit badan akibat berlarian saat menyelamatkan diri hingga mual. ”Banyak juga lansia yang darah tinggi karena kurang tidur. Sementara itu, banyak anak-anak yang masuk angin dan demam,” kata bidan yang menolak menyebutkan namanya itu.

Tak mudah membunuh waktu di tengah pengungsian. Apalagi, ini bukan mengungsi karena dipaksa oleh bencana alam yang rutin terjadi.

Jadilah menonton insiden itu menjadi hiburan tersendiri. Kemarin sore banyak pengungsi, bercampur dengan mereka yang datang jauh dari Balongan, menonton kilang yang terbakar itu.

Mereka melihat dari jarak kurang dari 1 kilometer. Bahkan, sebagian warga Sukaurip yang bersebelahan dengan kilang Pertamina Balongan sudah berani pulang ke rumah. Namun, malamnya mereka tetap kembali ke pengungsian. Sebab, listrik belum menyala di lokasi tersebut. Seperti Sanusi yang dengan terpaksa melewati malam yang dingin, berisik, dan penuh nyamuk lagi.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=bKys_hvhzYQ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore