
Anggota KPPS TPS 13 Kelurahan Pagesangan Barat mengenakan pakaian adat saat melayani warga untuk pencoblosan.
Pilkada Serentak 2018 benar-benar menajdi pesta demokrasi. Ketegangan antar elite politik tidak terasa di kalangan masyarakat bawah. Mereka merayakan kontestasi itu dengan suka ria. Bahkan dengan cara-cara yang terbilang unik. Hal itu terlihat di TPS-TPS yang dikemas seunik mungkin. Semua itu dengan tujuan agar warga mau datang memilih.
SIRTUPILLAILI, Pegesangan Barat
Pagi itu, warga sudah berkumpul di bawah terop di Lingkungan Saren, Kelurahan Pagesangan Barat. Mereka duduk santai di kursi yang sudah dijejer rapi. Beberapa orang berpakaian adat dengan udeng (ikat kepala) dan kamen (kain) khas adat Bali menyambut setiap warga yang baru datang.
Pada setiap pintu masuk, payung-payung hias mempercantik dekorasi tempat itu. Didominasi warna gold dengan taman mini, suasana tempat itu terkesan mewah, nampak sedang ada pesta pernikahan.
Di tempat itu warga bukan sedang mengadakan pesta pernikahan. Mereka sedang pesta demokrasi. Tempat itu bukan panggung pengantin, tetapi Tempat Pemungutan Suara (TPS) 13 Kelurahan Pagesangan Barat.
Petugas yang menyambut bak pagar ayu itu adalah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Panitia memang sengaja mendesain tempat itu dengan dekorasi ala resepsi pernikahan, tujuannya agar warga yang datang memilih merasa nyaman dan senang.
”Ini ciri khas budaya Bali, kami ingin menunjukkan bahwa di Lombok ini ada nuansa yang lain khususnya di Pagesangan Barat,” kata Ketua KPPS TPS 13 I Made Wijana seperti dilansir Lombok Pos (Jawa Pos Group), Kamis (28/6).
Dengan suasana TPS yang santai bak pesta pernikahan, warga yang datang nampak menikmati pemilihan tersebut, bahkan meski sudah memilih masih ada yang duduk-duduk santai bersama mereka yang belum mendapat giliran mencoblos. Saking gembiranya banyak warga pun tak mau melewatkan momen itu untuk berswafoto.
Made menerangkan, tujuan mereka menghias TPS seperti lokasi pernikahan supaya membuat warga betah dan tidak bosan menunggu antrean. ”Di satu sisi juga menarik minat warga untuk memilih dan tidak golput,” ujarnya.
Jumlah pemilih di TPS 13 sebanyak 616 orang. Pemilih sebanyak itu maka sudah sewajarnya warga dijamu dengan baik bak penganten. Karena itu, panitia KPPS tidak ragu mengeluarkan biaya lebih untuk menghias TPS.
Biaya yang dihabiskan mencapai Rp 1 juta untuk menyewa pernak pernik ruangan. Untungnya semua biaya diberikan PPS kelurahan setempat. "Ini murni semua demi kenyamanan masyarakat,” katanya.
Ketua PPS Pagesangan Barat Ninik Suhaimi mengatakan, KPU membebaskan setiap TPS untuk mendekorasi tempat pemilihan, selama tidak melanggar ketentuan KPU maka tidak masalah. Tujuannya semata-mata agar warga nyaman dan tertarik datang memilih. Mereka menjatah setiap TPS Rp 750 ribu, kalau ada lebih biasanya warga urunan untuk membiayainya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
