Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Banu Adikara
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 04.13 WIB

Saat Dunia Memilih Nerakanya: Simalakama The Lesser of Two Evils dalam Godzilla versus King Ghidorah

Godzilla versus King Ghidorah oleh Scott Harben. (Istimewa) - Image

Godzilla versus King Ghidorah oleh Scott Harben. (Istimewa)

JawaPos.com — Dalam diskursus moral idealis, manusia sejatinya diajarkan untuk berpihak pada kebajikan serta memperjuangkan keadilan. Karenanya, kejahatan dan kezaliman adalah sesuatu yang harus ditolak secara absolut tanpa bisa ditawar.

Kenyataannya, dunia tidak melulu bergerak secara hitam dan putih. Ketika realita menekan manusia ke sudut paling gelap dari teror eksistensial, idealisme tentang moral dan sikap sering kali menjadi hal yang kelewat muluk untuk dijalani.

Desakan keadaan ini membuat manusia dipaksa untuk menentukan pilihan bukan berdasarkan apa yang paling ideal, melainkan apa yang dianggap paling sedikit membawa kerugian. Kondisinya bisa jadi jauh lebih mengerikan jika pilihan yang tersaji di depan mata terasa begitu paradoks, di mana manusia harus menerima sesuatu yang sebetulnya ditakuti dan dihindari demi menghadapi ancaman lain yang dianggap jauh lebih berbahaya.

Kompas moral yang mengalami reorientasi radikal ini membuat otak manusia tidak lagi sibuk mencari sosok Mesias atau Kesatria Berkuda Putih, melainkan mulai mengkalkulasi penderitaan mana yang paling mungkin untuk ditoleransi.

Rasionalisasi kognitif ini memang tidak bisa dicap buruk sepenuhnya karena pada situasi krisis, manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar memilih kebaikan. Mereka hanya sedang memilih penderitaan yang paling bisa ditaksir dampaknya.

Filsuf ternama asal Yunani, Aristoteles, dalam studinya yang berjudul Nicomachean Ethics, pernah membahas bahwa keburukan yang lebih kecil, jika dibandingkan dengan keburukan yang lebih besar, dapat dipandang sebagai sebuah kebaikan.

Dalam studinya tersebut, tepatnya di Buku III Bab 1 tentang mixed actions, Aristoteles membahas pilihan, tindakan sukarela, dan situasi ketika seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan demi menghindari akibat yang lebih buruk.

Konsep pemikiran yang terus berkembang setiap zamannya ini akhirnya dikenal dengan sebutan the lesser of two evils di era modern. Memilih keburukan yang paling ringan. Memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Disadari atau tidak, konsep ini sudah menjadi mekanisme pertahanan psikologis dasar yang dihidupi manusia sehari-hari. Dilema the lesser of two evils memperlihatkan bahwa batas antara kebaikan dan keburukan tidak selalu diterapkan secara sederhana ketika manusia dihadapkan pada keadaan ekstrem.

Pemikiran ini juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lebih siap berdamai dan hidup berdampingan dengan 'iblis' yang sudah dikenal ketimbang harus berhadapan dengan ancaman asing yang tidak terprediksi. Ada ilusi yang diciptakan di alam bawah sadar bahwa bahaya yang familier lebih bisa dimitigasi, dikendalikan, atau setidaknya diantisipasi kehancurannya.

Editor: Banu Adikara
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore