
Godzilla versus King Ghidorah oleh Scott Harben. (Istimewa)
JawaPos.com — Dalam diskursus moral idealis, manusia sejatinya diajarkan untuk berpihak pada kebajikan serta memperjuangkan keadilan. Karenanya, kejahatan dan kezaliman adalah sesuatu yang harus ditolak secara absolut tanpa bisa ditawar.
Kenyataannya, dunia tidak melulu bergerak secara hitam dan putih. Ketika realita menekan manusia ke sudut paling gelap dari teror eksistensial, idealisme tentang moral dan sikap sering kali menjadi hal yang kelewat muluk untuk dijalani.
Desakan keadaan ini membuat manusia dipaksa untuk menentukan pilihan bukan berdasarkan apa yang paling ideal, melainkan apa yang dianggap paling sedikit membawa kerugian. Kondisinya bisa jadi jauh lebih mengerikan jika pilihan yang tersaji di depan mata terasa begitu paradoks, di mana manusia harus menerima sesuatu yang sebetulnya ditakuti dan dihindari demi menghadapi ancaman lain yang dianggap jauh lebih berbahaya.
Kompas moral yang mengalami reorientasi radikal ini membuat otak manusia tidak lagi sibuk mencari sosok Mesias atau Kesatria Berkuda Putih, melainkan mulai mengkalkulasi penderitaan mana yang paling mungkin untuk ditoleransi.
Rasionalisasi kognitif ini memang tidak bisa dicap buruk sepenuhnya karena pada situasi krisis, manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar memilih kebaikan. Mereka hanya sedang memilih penderitaan yang paling bisa ditaksir dampaknya.
Filsuf ternama asal Yunani, Aristoteles, dalam studinya yang berjudul Nicomachean Ethics, pernah membahas bahwa keburukan yang lebih kecil, jika dibandingkan dengan keburukan yang lebih besar, dapat dipandang sebagai sebuah kebaikan.
Dalam studinya tersebut, tepatnya di Buku III Bab 1 tentang mixed actions, Aristoteles membahas pilihan, tindakan sukarela, dan situasi ketika seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan demi menghindari akibat yang lebih buruk.
Konsep pemikiran yang terus berkembang setiap zamannya ini akhirnya dikenal dengan sebutan the lesser of two evils di era modern. Memilih keburukan yang paling ringan. Memilih yang terbaik dari yang terburuk.
Disadari atau tidak, konsep ini sudah menjadi mekanisme pertahanan psikologis dasar yang dihidupi manusia sehari-hari. Dilema the lesser of two evils memperlihatkan bahwa batas antara kebaikan dan keburukan tidak selalu diterapkan secara sederhana ketika manusia dihadapkan pada keadaan ekstrem.
Pemikiran ini juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lebih siap berdamai dan hidup berdampingan dengan 'iblis' yang sudah dikenal ketimbang harus berhadapan dengan ancaman asing yang tidak terprediksi. Ada ilusi yang diciptakan di alam bawah sadar bahwa bahaya yang familier lebih bisa dimitigasi, dikendalikan, atau setidaknya diantisipasi kehancurannya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022