
Black Lagoon. (Istimewa)
JawaPos.com - Setiap pagi, jutaan orang bangun untuk melakukan rutinitas yang nyaris sama. Membuka mata setelah alarm menyalak seperti sirene perang, berjuang ke kantor melawan kemacetan jahanam di perjalanan panjang, tumpukan kerjaan dan tekanan atasan, memasang senyum penuh kepura-puraan, lalu diakhiri dengan kelelahan fisik serta mental yang perlahan mengikis kehidupan.
Apapun profesinya, para kaum pekerja ini menghabiskan sebagian besar waktu demi angka dan keuntungan untuk perusahaan yang bahkan mungkin tidak benar-benar peduli pada mereka.
Di sisi yang lebih gelap, ada sekelompok orang lain yang beranjak dari kasur untuk melakukan rutinitas berbeda.
Mereka bangun demi mendulang uang lewat cara yang lebih biadab: pembunuhan, penyelundupan, perampokan, perdagangan senjata ilegal serta obat-obatan terlarang, dan bentuk tindakan bengis lainnya.
Sepintas, dunia korporat dan dunia kriminal terlihat seperti dua kutub yang sangat berlainan. Namun, dari sudut pandang lain, cukup terasa bahwa sebetulnya kedua dunia ini mungkin tidak sejauh yang dibayangkan.
Budaya korporat dan dunia penjahat sama-sama bergerak di bawah logika yang mirip: orang-orang yang terlibat di dalamnya hanya dinilai berdasarkan kegunaan, loyalitas tidak lebih dari sebuah paradoks kesetiaan, dan moralitas hanya sampah belaka di hadapan profit dan imbalan.
Bedanya, dunia kriminal mengancam nyawa manusia secara terang-terangan dengan pistol atau belati, sementara dunia kerja modern melakukannya secara perlahan lewat tekanan produktivitas dan sistem yang membuat manusia kehilangan dirinya sedikit demi sedikit.
Kurang lebih, kritik sosial mendalam itulah yang disampaikan oleh Black Lagoon, sebuah manga karya Rei Hiroe.
Komik yang juga diadaptasi ke anime ini tidak hanya memperlihatkan betapa kejam dan kerasnya lembah kegelapan, tapi juga betapa lingkungan profesional terkadang tidak jauh lebih manusiawi darinya.
Baca Juga:Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
Filsuf tersohor Karl Marx pernah menulis bagaimana kapitalisme pada akhirnya mengubah hubungan manusia menjadi hubungan transaksional. Inilah yang terjadi secara garis besar di Black Lagoon.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
