
Black Lagoon. (Istimewa)
JawaPos.com - Setiap pagi, jutaan orang bangun untuk melakukan rutinitas yang nyaris sama. Membuka mata setelah alarm menyalak seperti sirene perang, berjuang ke kantor melawan kemacetan jahanam di perjalanan panjang, tumpukan kerjaan dan tekanan atasan, memasang senyum penuh kepura-puraan, lalu diakhiri dengan kelelahan fisik serta mental yang perlahan mengikis kehidupan.
Apapun profesinya, para kaum pekerja ini menghabiskan sebagian besar waktu demi angka dan keuntungan untuk perusahaan yang bahkan mungkin tidak benar-benar peduli pada mereka.
Di sisi yang lebih gelap, ada sekelompok orang lain yang beranjak dari kasur untuk melakukan rutinitas berbeda.
Mereka bangun demi mendulang uang lewat cara yang lebih biadab: pembunuhan, penyelundupan, perampokan, perdagangan senjata ilegal serta obat-obatan terlarang, dan bentuk tindakan bengis lainnya.
Sepintas, dunia korporat dan dunia kriminal terlihat seperti dua kutub yang sangat berlainan. Namun, dari sudut pandang lain, cukup terasa bahwa sebetulnya kedua dunia ini mungkin tidak sejauh yang dibayangkan.
Budaya korporat dan dunia penjahat sama-sama bergerak di bawah logika yang mirip: orang-orang yang terlibat di dalamnya hanya dinilai berdasarkan kegunaan, loyalitas tidak lebih dari sebuah paradoks kesetiaan, dan moralitas hanya sampah belaka di hadapan profit dan imbalan.
Bedanya, dunia kriminal mengancam nyawa manusia secara terang-terangan dengan pistol atau belati, sementara dunia kerja modern melakukannya secara perlahan lewat tekanan produktivitas dan sistem yang membuat manusia kehilangan dirinya sedikit demi sedikit.
Kurang lebih, kritik sosial mendalam itulah yang disampaikan oleh Black Lagoon, sebuah manga karya Rei Hiroe.
Komik yang juga diadaptasi ke anime ini tidak hanya memperlihatkan betapa kejam dan kerasnya lembah kegelapan, tapi juga betapa lingkungan profesional terkadang tidak jauh lebih manusiawi darinya.
Baca Juga:Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
Filsuf tersohor Karl Marx pernah menulis bagaimana kapitalisme pada akhirnya mengubah hubungan manusia menjadi hubungan transaksional. Inilah yang terjadi secara garis besar di Black Lagoon.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
