Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 April 2026 | 18.18 WIB

Sekolah Rakyat Bantu Harapan Anak Yatim Bercita-cita Jadi Tentara

Berkat adanya Sekolah Rakyat, Aditya kini dapat meneruskan mimpinya menjadi tentara/(Istimewa).

 

JawaPos.com - Membesarkan seorang bayi tidak pernah terlintas di benak Mbah Aina, seorang nenek berusia 73 tahun asal Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
 
Sekitar 17 tahun lalu, ia menerima permintaan dari sepasang suami istri untuk mengasuh anak mereka. Pada awalnya, Aina diberi upah Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Namun, seiring waktu, orang tua anak tersebut tidak pernah lagi datang menjenguk.
 
Aina pun kebingungan. Artinya, ia harus mengasuh anak tersebut seorang diri. Selain itu, masa depan anak yang diberi nama Aditya kini sepenuhnya berada di tangannya.
 
"Ibu-bapaknya Aditya tidak pernah menjenguk dari lahir," jelas Aina, dikutip Minggu (19/4). "Jadi mati hidupnya anak itu adalah (tanggung jawab) saya. Saya berjuang ibaratnya agar anak ini bisa hidup, bisa sehat," imbuh dia.
 
Kendati demikian, Aina tetap bertekad memberikan pendidikan terbaik bagi Aditya. Ia mengatakan selalu membiayai pendidikan Aditya sejak jenjang TK hingga SMP, meski dengan penghasilan yang tidak menentu.
 
Aina mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengumpulkan bunga kamboja di area pemakaman dan membersihkan makam saat ada peziarah.
 
 
Ia sempat ingin menyekolahkan Aditya hingga jenjang SMA. Namun, ia sempat mengurungkan niatnya karena keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, ia juga tidak tega jika Aditya harus bekerja di usia yang masih muda.
 
Terlebih, Aditya merupakan sosok yang berbakat dan berprestasi sejak SMP. Ia tercatat pernah meraih juara 2 pencak silat pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat kota, juara pertama di kompetisi silat lainnya, serta juara 3 videografer terbaik di SMP Negeri 20 Surakarta.
 
Untungnya, saat pembagian rapor di SMP, Aina memperoleh informasi mengenai pendaftaran pendidikan gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Pada awalnya, Aditya sempat menolak. Namun, Aina terus membujuk karena ingin Aditya memiliki masa depan yang lebih baik.
 
"Saya bilang, 'Daripada kamu nak, lulus SMP masih kecil, kamu mau kerja, saya tidak tega'," imbuh dia. "Jadi saya bilang 'Nak, tandatangan di sini (di formulir pendaftaran). Ini demi kamu, demi masa depan kamu'," lanjut Aina.
 
Menurut Aina, kini Aditya sudah merasa betah tinggal di asrama gratis milik SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta. Kehadiran Sekolah Rakyat juga meringankan beban finansialnya karena Aditya tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga fasilitas makan dan pakaian secara gratis.
 
Ia berharap, Sekolah Rakyat dapat membuka jalan bagi cita-cita Aditya menjadi tentara. Oleh karena itu, ia berpesan agar Aditya tetap disiplin dan menjaga pergaulan selama menempuh pendidikan.
 
"Saya bilang 'Ya alhamdulillah kalau mau jadi tentara, nak.  Nanti kamu bisa ikut Pak Presiden Prabowo'. Jadi saya berpesan agar menuruti semua perintah dan jangan membantah. Selain itu, saya minta dia tidak mengikuti teman-temannya jika mereka bertindak yang tidak-tidak," imbuhnya.
 
Oleh karena itu, Aina menyampaikan terima kasih kepada Prabowo atas program Sekolah Rakyat yang dinilainya sangat membantu Aditya menggapai cita-citanya.
 
"Pak Prabowo, terima kasih banyak Aditya bisa ikut sekolah Anda dan ikut membantu cita-citanya. Semoga terkabul cita-citanya Aditya," harap Aina.
 
Di sisi lain, Punijah (45), seorang buruh tani juga merasakan manfaat dari adanya Sekolah Rakyat, setelah anaknya sempat putus sekolah. Di tengah keterbatasan hidup dan beban sebagai tulang punggung keluarga, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
 
"Dulu anak saya sudah minta-minta, ‘Mak, aku pengen sekolah lagi’, tapi aku gak mampu, Pak,” katanya sambil menangis. “Karena saya jadi tulang punggung sendirian, saya gak mampu untuk biayai anak saya sekolah," ungkapnya.
 
Harapan itu kini terjawab. Ahmad Lutfi, anaknya, diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 78 Sragen, tempat di mana seluruh kebutuhan pendidikan dipenuhi tanpa biaya. Mulai dari seragam, sepatu, hingga makan sehari-hari. Bagi Punijah, ini bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan kedua bagi anaknya untuk bangkit.
 
Tak hanya itu, Punijah juga menerima bantuan dua ekor kambing dari Kementerian Sosial untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Meski belum tahu akan dimanfaatkan seperti apa ke depannya, ia bertekad merawat bantuan tersebut dengan sebaik mungkin sebagai harapan tambahan di tengah keterbatasan.
 
“Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur. Saya tidak mampu, tapi anak saya bisa sekolah lagi, dibimbing dengan baik,” ujarnya lirih.
 
Punijah kini menggenggam harapan baru. Ia hanya ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan meraih masa depan yang lebih baik.
 
“Pengen jadi orang sukses, dadi anak sing sae (jadi anak yang baik),” tuturnya.
 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore