Suasana pengasuhan di salah satu daycare Rumah Pelita Semarang. (Johanes untuk Jawa Pos)
JawaPos.com – Sejumlah anak tampak bercanda riang di ruang bermain daycare di desa Kadirejo, Gunungpati, Semarang. Mereka dititipkan oleh orang tuanya karena alasan khusus, yakni pemantauan stunting atau tengkes.
Anak-anak itu ditangani di salah satu penitipan atau Daycare milik Pemkot Semarang, yakni Daycare Rumah Pelita. Dwi Sayekti Kadarini bersama puluhan kader sehari-hari memantau tumbuh kembang anak-anak itu di daycare.
Rumah Pelita adalah daycare yang dikhususkan untuk anak-anak stunting atau yang terindikasi stunting. Program ini diluncurkan sejak awal 2023. Kini, sudah 11 daycare Rumah Pelita yang tersebar di seluruh plosok kota Semarang.
Rumah Pelita merupakan daycare khusus stunting yang fokusnya pada pola asuh, pemenuhan asupan gizi, serta mendekatkan akses pelayanan kesehatan. Yang perlu diketahui, daycare ini gratis.
Untuk menurunkan stunting, perlu pendekatan sensitif dan spesifik. Di Rumah Pelita, dua hal ini dilakukan dengan kolaborasi multisektor.
Anak yang diketahui stunting dan orang tuanya tidak dapat mengasuh karena bekerja, maka dapat menitipkan anaknya.
Di sini, anak akan dipantau asupan gizinya. Tidak hanya itu, anak-anak akan distimulasi tumbuh kembangnya dengan berbagai kegiatan sesuai usianya.
Bahkan di ruang yang nyaman, anak yang dititipkan akan mendapatkan tidur siang. Diharapkan, tidur siangnya pun berkualitas. Selain itu, si kecil juga akan diperiksa kondisi kesehatannya secara berkala.
Tak hanya menguntungkan si kecil, Rumah Pelita juga diharapkan dapat membantu ayah bunda dalam pola asuh. Di sini, orang tua akan mendapatkan kelas parenting tentang pengasuhan anak stunting.
Daycare ini tidak selamanya. Sebab, anak yang sudah dinyatakan tidak tengkes, artinya lulus dan tidak lagi dititpkan di daycare. Harapannya, orang tua dapat mengasuh sendiri dengan standar yang sudah ditetapkan oleh daycare.
Menurut Dwi, berdasarkan pengamatannya di daycare Rumah Pelita, stunting bukan hanya soal kekurangan ekonomi. Ada beragam sebab lain yang bisa membuat anak jadi stunting.
"Ditinggal ibunya bekerja lalu dititipkan ke neneknya, ternyata dikasih makan yang kurang tepat," tuturnya, Jumat (26/7).
Wilayah Kadirejo, lanjut Dwi, memang sudah zero stunting sejak dua tahun terakhir. Namun, intervensi terus dilakukan agar mereka yang rawan stunting bisa tumbuh normal.
Program ini menjadi oase bagi para orang tua yang bekerja dan tak memiliki pengasuh. Anak-anak yang sudah teridentifikasi mengalami stunting dititipkan sejak pagi dan dijemput sore hari, dengan pendampingan intensif oleh tenaga kesehatan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
