Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Januari 2025 | 22.58 WIB

Cita Sehat Foundation Tangani Kesehatan Mental Remaja: Awalnya Riang Gembira, setelah Di-Stress Release Teriak Histeris

KECEMASAN TURUN: Siswa SMK kesehatan di Bandung Barat setelah mengikuti program Gandeng Kawan. (DOK. CITA SEHAT FOUNDATION) - Image

KECEMASAN TURUN: Siswa SMK kesehatan di Bandung Barat setelah mengikuti program Gandeng Kawan. (DOK. CITA SEHAT FOUNDATION)

Masalah kesehatan mental sedang naik daun di kalangan generasi Z. Muncul berbagai istilah kekinian seperti healing, insecure, dan self-reward. Cita Sehat Foundation membuat program yang berfokus tentang mental health.

ILHAM WANCOKO, Jakarta

---

MENDENGAR nama Jembatan Cimindi bagi warga Bandung sudah memunculkan perasaan yang tidak nyaman. Alasannya, lokasi itu berkali-kali menjadi tempat bunuh diri.

”Di Jembatan Cimindi sudah beberapa kali terjadi kasus bunuh diri. Kebanyakan remaja,” tutur Program Development Cita Sehat Foundation Muhammad Rakha Almughni, Senin (30/12).

Menurut dia, kondisi itu adalah indikasi persoalan kesehatan mental yang naik. Lainnya bisa dilihat dari berbagai bahasa kekinian alias ngetren yang digunakan generasi Z dan yang lebih muda. Misalnya, anxiety, work life balance, bipolar, me time, healing, insecure, dan self-reward.

Rakha menuturkan, berbagai istilah yang naik daun itu sebenarnya terhubung dengan kondisi kesehatan mental. Meningkatnya penggunaan istilah semacam itu menunjukkan bahwa masalah mental health menghantui. Apalagi, terdapat survei dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada Oktober 2022. Satu dari tiga remaja berusia 10 tahun hingga 17 tahun memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Jumlah itu setara dengan 15,5 juta remaja di dalam negeri.

Kalkulator Mental Health

Karena itu, Cita Sehat Foundation membuat program Gandeng Kawan, sebuah program yang berfokus pada masalah kesehatan mental. Dengan Gandeng Kawan, para remaja tidak sekadar diedukasi terkait kesehatan mental, tapi juga diberikan treatment dari skrining masalah, edukasi dan pemberdayaan, cerita keresahan, serta yang terakhir terapi stress release.

Skrining yang digunakan adalah self-reporting question 29 (SRQ 29) yang merujuk pada ketentuan World Health Organization (WHO). Terdapat 29 pertanyaan yang akan menunjukkan empat indikator, yakni mental emotional disorder, addictive disorder, psychotic disorder, dan post-traumatic disorder. ”Empat indikator itu menunjukkan gejala gangguan mental,” tuturnya.

Untuk memudahkan masyarakat mengetahui kondisi mentalnya, dibuat juga kalkulator mental health. Kalkulator itu bukan merujuk sebagai alat menghitung, melainkan SRQ 29 atau 29 pertanyaan yang harus dijawab. Setelah menjawab, hasilnya akan muncul melalui e-mail.

”Kalkulator mental health ini ditujukan agar remaja tidak mendiagnosis sendiri. Setidaknya ada yang bisa membantu mendiagnosis, tapi butuh treatment lanjutan. Kalau telah dilakukan, baru bisa muncul statement mengalami gejala kesehatan mental atau tidak,” paparnya.

Kemudian, edukasi dan pemberdayaan merupakan penjelasan apa itu kesehatan mental dan sebagainya. Sementara itu, cerita resah itu sarana penyampaian isi hati atau emosi yang terpendam. ”Terakhir, stress release dengan metode spiritual emotional freedom technique (SEFT),” tuturnya.

METODE SEFT: Tim Gandeng Kawan memberikan terapi ketukan lembut untuk memicu saraf sekaligus memberikan pancingan agar melepaskan beban pikiran. (DOK. CITA SEHAT FOUNDATION)

90 Persen Alami Gangguan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore