Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 November 2024 | 17.17 WIB

Efek Destruktif Dam Dem Dam Dem Sound Horeg yang Juga Jadi Perekat Sosial

ILUSTRASI MUSIK SOUND HOREG. (AI/AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI MUSIK SOUND HOREG. (AI/AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS)

Genting, kaca, dan plafon bangunan serta rumah di sejumlah tempat telah jadi korban. Tapi, karnaval, festival, dan battle sound horeg tetap tumbuh subur, di darat maupun laut.

ANDREYAN, Tuban-BIYAN M.H., Kab Malang-FERLYNDA PUTRI, Jakarta

---

DARI dua kabupaten tetangga, Bojonegoro dan Lamongan, mereka berdatangan. Ke Klotok, desa di Tuban, Jawa Timur, memburu dam dem dam dem yang tak cuma bisa membuat tubuh, tapi juga rumah bergetar.

Siang sampai malam, pada Agustus lalu, mereka memuaskan hormon dopamin dengan mendengarkan terjangan bunyi yang bisa mencapai 135 desibel. ”Sound horeg membuat mereka rela datang jauh-jauh,” kata Rofi’i, salah seorang panitia Agustusan di desa yang masuk wilayah Kecamatan Plumpang itu, kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Tak cuma di Tuban. Meski sudah berakar lama, terutama di masyarakat Jawa Timur yang menggunakannya untuk kegiatan pengumpulan massa, sound horeg menggelegar lebih keras selepas pandemi Covid-19.

Entah karnaval, festival, battle, atau hajatan. Di desa maupun kota. Di darat maupun lautan. Bahkan, perayaan pelantikan presiden dan wakil presiden di Jakarta sana pun tak imun darinya.

Pekan lalu, misalnya, ada battle sound horeg di Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Masih di Jawa Timur, September lalu, karnaval serupa di Tuban juga dilangsungkan di Karangan, Trenggalek. Mundur ke Mei, juga ada perhelatan Bangkalan Horeg Festival. Di Pasuruan, bahkan dihelat pula ”Horegan” di tengah laut.

Dampak ke Sekitar

Tapi, horeg, yang menurut Kamus Bahasa Jawa Indonesia berarti menggetarkan, tumbuh subur di antara mereka yang menggemari dan mereka yang membenci. Musik dam dem dam dem ini tak mengenal ”tengah-tengah”.

Di Pati, Jawa Tengah, seorang ibu sempat menyiram air rombongan horeg yang melintasi rumahnya. Warga Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur, juga melayangkan protes kala sekelompok pemuda menyalakan musik superbising ini pada dini hari Maret lalu. Keributan kecil juga sempat terjadi di Desa Cokrowati, Tuban, kala rombongan horeg yang melintas merusak bagian depan sebuah warung agar bisa lewat.

Belum lagi dampak destruktifnya. Di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengutip Jawa Pos Radar Malang, ada warga yang sampai melakban jendela rumah agar tidak pecah akibat sound horeg. Di Kecamatan Jabung, kabupaten yang sama, plafon sebuah rumah runtuh karena efek getaran pengeras suara.

Pada Juni lalu, mengutip Jawa Pos Radar Banyuwangi, Pemkab Banyuwangi bahkan sempat mengajukan laporan ke polisi. Gara-garanya, sebagian genting dan kaca kantor pecah akibat demo Keluarga Besar Sound System Banyuwangi.

Ini belum bicara dampak kesehatan. Ahmad Wahyuddin, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan, menyebut ada batas pendengaran yang sehat menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). ”Di bawah 85 desibel,” katanya kepada Jawa Pos kemarin (16/11).

Padahal, sound horeg bisa tembus sampai 135 desibel yang terdengar hingga radius 7 kilometer. Wahyuddin menambahkan, mereka yang bekerja di tempat dengan suara keras ada batasan waktunya. Dengan suara berkekuatan 85 desibel, waktu sehatnya adalah delapan jam.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore