
TERUS MEMANTAU: Kepala Tim Monitoring Berita Korut Na Ki-sung (kanan) bersama salah seorang anggota tim di newsroom kantor berita Yonhap (13/5).
Yonhap, kantor berita Korea Selatan (Korsel), punya divisi khusus yang menangani seluk-beluk berita terkait Korea Utara (Korut). Wartawan Jawa Pos Dinda Juwita yang tengah mengikuti fellowship berkesempatan melihat langsung bagaimana divisi khusus itu bekerja di Seoul.
DINDA JUWITA – Seoul, Korea Selatan
---
PERTEMPURAN memang telah berakhir pada 1953. Namun, sampai sekarang, Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih berperang. Sebab, Korsel menolak pemisahan Korea. Seoul juga menolak meneken perjanjian damai. Tapi, dua saudara di Semenanjung Korea itu saat ini berada dalam fase gencatan senjata.
Per Januari lalu, sekitar 31 ribu warga Korut –negeri yang menutup diri dari dunia luar– membelot ke Korsel yang makmur dan Korean wave-nya mengharu biru dunia. Jumlah pembelot itu, mengutip The Guardian, berlipat tiga.
Namun, di tengah ruwetnya hubungan keduanya, media menjalankan fungsinya. Di kantor berita Korsel, Yonhap, berdiri sebuah divisi yang khusus mengurusi seluk-beluk berita Korut. Divisi itu bernama Tim Monitoring Berita Korea Utara.
Pada Senin (13/5) pekan lalu, Jawa Pos dan beberapa media dari Indonesia yang mengikuti program fellowship bertajuk Indonesia Next Generation Journalist yang dihelat Korea Foundation dan bekerja sama dengan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) berkesempatan mengunjungi kantor berita yang berlokasi di Jongno-gu, Seoul, tersebut. Biro itu terletak di newsroom yang tak terlalu besar. Ruang kerja biro itu hanya sekitar 30 meter persegi. Hampir sama dengan ukuran apartemen jenis studio di Jakarta.
Sesuai namanya, berbagai pajangan di ruangan tersebut merepresentasikan Pyongyang dan pemimpin Korut nan kontroversial, Kim Jong-un. Foto orang nomor satu di Korut itu dipasang dalam berbagai pose dan kesempatan. Di tengah ruangan terdapat poster jumbo bergambar struktur kekuasaan Korut, lengkap dengan foto-foto pejabat berwenang. Sama seperti newsroom pada umumnya, ada beberapa monitor yang menampilkan berbagai tayangan. Tentu, lagi-lagi soal Korut.
Kepala Tim Monitoring Berita Korea Utara Na Ki-sung menjelaskan, biro itu berdiri sejak Desember 2002. Tepatnya saat kantor berita Yonhap menandatangani perjanjian pertukaran dengan kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA). Sejak keduanya meneken perjanjian eksklusif itu, publik Korsel disuguhi berbagai berita terkait Korut. ”Dalam sehari, biro kami menerima 10–13 artikel terkait Korut. Dari situ, kami akan mengolahnya kembali untuk diproduksi menjadi berita utuh sekitar tiga atau empat berita,” ujarnya.
Ki-sung menceritakan, dalam divisi itu, total ada enam orang yang bertugas. Mereka bekerja dan bertanggung jawab pada jadwal sif yang fleksibel. ”Sif dibagi dalam tiga jadwal sehari. Ada dua orang dalam satu tim, dan mereka bisa gantian jadwal kerja dan libur. Jadi, bagaimana caranya agar mereka tetap memonitor berita Korea Utara 24 jam dan tujuh hari,” tuturnya.
Dia menjelaskan, biro itu diharapkan tak hanya memberikan rentetan berita soal Pyongyang, tapi juga mampu membangun jaringan global dan multikultural. Sebab, begitulah fungsi media pada umumnya.
Di Korut, KCNA merupakan agensi berita satu-satunya. Tugas KCNA memang melaporkan berita setiap hari untuk seluruh saluran media di Korut, termasuk majalah dan siaran radio televisi. KCNA merupakan corong dari pemerintah Korut. Saking vitalnya peran KCNA, pada Juni 1964 mantan Pemimpin Korut Kim Jong-il mengunjungi markas besar KCNA dan mengatakan bahwa agensi itu perlu menyebarkan ideologi revolusioner Presiden Pertama Korut (Kim Il-sung) ke seluruh dunia.
Sementara itu, di Korsel, akses situs KCNA dan Korut lainnya diblokir oleh pemerintah Korsel sejak 2004 dan hanya bisa diakses dengan otorisasi pemerintah. Benar saja, Jawa Pos pun mencoba mengakses laman KCNA melalui ponsel saat berada di Seoul. Tapi, situs itu tidak dapat dibuka. Berkali-kali dicoba, hasilnya selalu nihil.
Ki-sung melanjutkan, dengan perjanjian pertukaran data pers antara KCNA di Korut dan Yonhap di Korsel, keduanya bisa mengompilasikan berita satu sama lain. Di Pyongyang, KCNA memiliki satelit broadcasting yang berfungsi mendistribusikan berita secara real time.
Ki-sung melanjutkan, biro yang dikepalainya itu juga menjadi database pertama Korsel yang mencakup lebih dari 20.000 materi visual. Puluhan ribu materi itu dikumpulkan dari stasiun TV pusat dan situs web Korut lainnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
