
LESTARIKAN BUDAYA: Dari kiri, Rifa’tul Hasanah, Andri Setyo Nugroho, dan Aditya Sukma Caesara saat menulis aksara Jawa kuno di daun lontar.
Bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran muatan lokal di sekolah. Meski begitu, tak banyak yang paham mengenai aksara Jawa, terutama aksara Jawa kuno. Rumah Budaya Sidoarjo berusaha memfasilitasi dengan adanya kelas aksara Jawa kuno secara gratis.
ADINDA WAHYU AZMARANI, Sidoarjo
KELAS aksara Jawa kuno dimulai oleh Andri Setyo Nugroho, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Airlangga. Andri mengungkapkan, pengetahuan soal aksara Jawa kuno didapatnya dari Gunawan A. Sambodo. ’’Sebelum pandemi, Mbah Gun memberikan kelas aksara Jawa kuno di Museum Mpu Tantular,’’ katanya saat dijumpai pada akhir pekan lalu.
Kelas berlangsung sebulan sekali, menyesuaikan jadwal Mbah Gun yang kerap berpindah-pindah. Namun saat pandemi, kelas itu terpaksa hiatus. Mbah Gun pun tidak bisa lagi bolak-balik dari rumahnya di Temanggung, Jawa Tengah, untuk mengajar.
Andri meminta izin kepada Mbah Gun untuk membuka kelas baru di Rumah Budaya Sidoarjo sejak 2022. Hal itu pun disambut baik oleh Satriagama Rakantaseta selaku pendiri dan pengelola rumah tersebut.
Sejak itu, Andri konsisten mengajar aksara Jawa kuno dua pekan sekali. Dia pun menggandeng beberapa orang yang cukup ahli dalam aksara Jawa kuno. Di antaranya, Aditya Sukma Caesara, Rifa’tul Hasanah, Azzana Alfanny Putri, dan Andini Rahmady.
Siapa saja boleh ikut, hanya harus konsisten. Sebab, satu sesi berlangsung selama enam bulan. ’’Kita agak ketat, peserta wajib hadir di tiga pertemuan pertama karena itu penting,’’ lanjut Aditya. Saat tiga pertemuan pertama mempelajari aksara, aksara konsonan, dan aksara vokal.
Setelah itu, berlanjut ke materi cara membaca hingga mengaplikasikannya di kehidupan nyata. ’’Beberapa daerah di Jawa kan sekarang mulai memberi nama jalan dengan aksara Jawa kuno, itu sejalan dengan misi pelestarian yang kami junjung,’’ ucap Andri. Yang menarik, pembelajaran dibuat lebih seru, tidak kaku seperti sekolah formal. Interaksi pengajar dan murid bersifat dua arah dan santai.
Di tengah semester masuk implementasi materi dengan membedah artefak arkeologi, misalnya prasasti. ’’Aksara Jawa kan diajarkan di SD, tapi kenapa kita tidak bisa membaca prasasti? Karena prasasti pakai aksara Jawa kuno, sangat berbeda dengan aksara Jawa biasa,’’ papar Andri.
Prasasti yang diulas itu tidak berupa prasasti asli, melainkan dalam bentuk faksimili yang telah dicetak di kertas.
Tidak sekadar membaca kalimat, kelas tersebut juga mempelajari bagaimana unsur penanggalan pada zaman itu. ’’Misalnya, di prasasti itu memuat kutukan, kita bisa membaca langsung teks kutukan itu, lalu bersama-sama mengartikannya,’’ katanya.
Setiap pertemuan memuat topik yang berbeda. Pada Minggu (7/1) lalu yang merupakan pertemuan terakhir semester II kelas tersebut, para murid belajar menulis aksara Jawa kuno di daun lontar.
Lontar merupakan salah satu media tulis masyarakat Jawa kuno. ’’Ada tiga jenis media tulis prasasti, yakni batu atau biasa disebut upala, lalu tamra yaitu prasasti yang ditulis di media logam seperti tembaga, dan ripta, prasasti di media lontar atau nipah,’’ terang Andri.
Dengan cara interaktif, pembelajaran aksara Jawa kuno menjadi jauh lebih menyenangkan. Bahkan, kelas itu bisa dijadikan sarana hiburan di akhir pekan.
Kelas itu tidak dipungut biaya apa pun, kecuali jika ada keperluan khusus. Misalnya, untuk nipah dan pengrupak, peserta akan dikenai biaya untuk membeli alat-alat tersebut. Andri dan para pengajar lainnya berharap peserta semakin banyak dan konsisten. Hal itu menjadi tantangan tersendiri karena beberapa peserta ’’gugur’’ lantaran sibuk dengan keperluan lainnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
