Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Juli 2026 | 00.26 WIB

Prasasti: Peringkat S&P dan Data BPS Harus Dibaca secara Utuh

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 perlu dibaca secara lebih utuh dan tidak dapat langsung diartikan sebagai melemahnya daya saing ekspor Indonesia. (Dok. PRASASTI) - Image

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 perlu dibaca secara lebih utuh dan tidak dapat langsung diartikan sebagai melemahnya daya saing ekspor Indonesia. (Dok. PRASASTI)

JawaPos.com - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), menilai posisi Indonesia yang ditetapkan oleh lembaga pemeringkat S&P Global Ratings harus dibaca beriringan dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Neraca Perdagangan.

Research Director Prasasti, Adhi Nugroho Saputro, menilai peringkat yang dipertahankan tidak berarti persoalan selesai dan indikator yang melemah tidak otomatis berarti krisis.

“Yang kita hadapi adalah kombinasi keduanya. Publik perlu terbiasa membaca angka secara utuh, karena dari pembacaan yang utuh itulah respons kebijakan yang tepat bisa lahir," ujar Adhi dalam keterangan yang diterima, Kamis (16/7).

Sebagaimana diketahui, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil, Senin (13/7).

Dalam laporannya, S&P menyertakan satu catatan. Kebijakan pendorong penerimaan negara dan ekspor akan berdampak lebih optimal apabila arah kebijakan menjadi lebih prediktabel dan tereksekusi dengan baik.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Mei 2026 defisit USD 1,61 miliar, defisit pertama sejak April 2020. S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur berkontraksi ke 46,9 pada Juni 2026. BPS juga mencatat inflasi menanjak ke 3,34 persen.

Adhi mengatakan, bahwa lembaga pemeringkat S&P Global Ratings sudah menunjukkan arah pekerjaan berikutnya. Dimana, yang menentukan bukan hanya isi kebijakannya, melainkan seberapa bisa diprediksi arahnya dan seberapa konsisten pelaksanaannya.

“Ini pekerjaan yang bisa dikerjakan, dan hasilnya akan cepat terbaca oleh pasar," ujarnya.

Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 perlu dibaca secara lebih utuh dan tidak dapat langsung diartikan sebagai melemahnya daya saing ekspor Indonesia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore