
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 perlu dibaca secara lebih utuh dan tidak dapat langsung diartikan sebagai melemahnya daya saing ekspor Indonesia. (Dok. PRASASTI)
JawaPos.com - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), menilai posisi Indonesia yang ditetapkan oleh lembaga pemeringkat S&P Global Ratings harus dibaca beriringan dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Neraca Perdagangan.
Research Director Prasasti, Adhi Nugroho Saputro, menilai peringkat yang dipertahankan tidak berarti persoalan selesai dan indikator yang melemah tidak otomatis berarti krisis.
“Yang kita hadapi adalah kombinasi keduanya. Publik perlu terbiasa membaca angka secara utuh, karena dari pembacaan yang utuh itulah respons kebijakan yang tepat bisa lahir," ujar Adhi dalam keterangan yang diterima, Kamis (16/7).
Sebagaimana diketahui, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil, Senin (13/7).
Dalam laporannya, S&P menyertakan satu catatan. Kebijakan pendorong penerimaan negara dan ekspor akan berdampak lebih optimal apabila arah kebijakan menjadi lebih prediktabel dan tereksekusi dengan baik.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Mei 2026 defisit USD 1,61 miliar, defisit pertama sejak April 2020. S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur berkontraksi ke 46,9 pada Juni 2026. BPS juga mencatat inflasi menanjak ke 3,34 persen.
Baca Juga:Setelah Surplus 72 Bulan Berturut-turut, Neraca Perdagangan Defisit USD 1,61 Miliar pada Era Prabowo
Adhi mengatakan, bahwa lembaga pemeringkat S&P Global Ratings sudah menunjukkan arah pekerjaan berikutnya. Dimana, yang menentukan bukan hanya isi kebijakannya, melainkan seberapa bisa diprediksi arahnya dan seberapa konsisten pelaksanaannya.
“Ini pekerjaan yang bisa dikerjakan, dan hasilnya akan cepat terbaca oleh pasar," ujarnya.
Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 perlu dibaca secara lebih utuh dan tidak dapat langsung diartikan sebagai melemahnya daya saing ekspor Indonesia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022