
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah Redjalam. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi. Sentimen dan faktor psikologis pasar disebut mulai memainkan peran yang lebih besar, bahkan mendorong permintaan dolar melampaui kebutuhan riil pelaku ekonomi.
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai mulai tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memperdalam tekanan terhadap mata uang domestik dalam beberapa waktu terakhir.
“Faktornya sudah campur aduk, tidak bisa kita tunjuk satu saja. Tapi yang menurut saya paling besar pengaruhnya sekarang adalah mulai tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah. Begitu sentimen terbentuk, permintaan terhadap dolar membesar. Bahkan orang yang sebenarnya tidak butuh dolar pun ikut membeli. Unsur spekulasi dan psikologis inilah yang justru memperdalam pelemahan rupiah melebihi yang bisa dijelaskan oleh fundamentalnya sendiri,” jelas Piter dalam keterangannya.
Sementara itu, kenaikan inflasi pada periode terbaru dinilai belum mencerminkan adanya tekanan permintaan yang berlebihan di dalam perekonomian nasional. Dia melihat kenaikan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor pasokan dan cuaca dibanding lonjakan konsumsi masyarakat.
Piter mengatakan pendorong utama inflasi masih berasal dari kelompok pangan bergejolak (volatile food), terutama komoditas hortikultura.
“Kalau kita bedah, pendorong inflasi kita itu volatile food seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah. Karakternya musiman, terkait pasokan dan cuaca, bukan karena permintaan domestik yang membludak. Inflasi inti kita sendiri tetap rendah. Jadi tekanan harga yang sekarang muncul sifatnya sementara, bukan struktural,” ujar Piter.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan cabai merah menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan harga mencapai 25,64 persen. Selain itu, harga tomat naik 9,82 persen dan bawang merah meningkat 6,65 persen.
Menurut Piter, langkah pemerintah yang tetap mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi turut membantu menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.
Di sisi lain, data perdagangan menunjukkan impor bahan baku dan barang penolong pada April 2026 meningkat 24,56 persen secara tahunan (year on year/yoy). Piter menilai tren tersebut justru menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022