alexametrics
Para Jagabaya di Balik Bencana

Selalu Siaga, Tidur pun Taruh HP di Dekat Telinga

24 Januari 2021, 11:17:57 WIB

Gunung Merapi terus bergejolak sejak awal 2020. Beberapa kali terjadi peningkatan status vulkanis. Fenomena alam itu diketahui dari hasil pantauan di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Tanpa penjaga pos tersebut, aktivitas Gunung Merapi sulit diketahui.

SALAH seorang yang memikul tanggung jawab itu adalah Yulianto, 48, penjaga Pos Pengamatan Babadan, Magelang, Jawa Tengah. Sudah hampir 29 tahun dia memantau Gunung Merapi. ’’Saya memantau sejak 1992,’’ tuturnya.

Yulianto memang paling lama bertugas di Pos Babadan. Pos itu berada di lereng barat laut Gunung Merapi. ’’Sempat juga ditempatkan dua tahun di Pos Kaliurang yang ada di lereng selatan,’’ ujarnya.

Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.986 meter merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Sesuai dengan catatan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sejak 1600-an, Merapi meletus 80 kali. Jika dirata-rata, terjadi sekali letusan tiap empat tahun.

Yulianto sudah belasan kali mendeteksi letusan Gunung Merapi. Mulai letusan pada 1994, 1998, 2006, 2010, hingga 2021. Dari semua letusan itu, hanya sekali Yulianto terpaksa turun gunung dari Pos Babadan. Pos itu hanya berjarak 4,4 km dari kawah Gunung Merapi. ’’Awalnya saya turun ke Ketep Pas, turun sekitar 3 km. Lalu turun kembali 10 km,’’ ungkapnya.

Bersama rekan-rekannya, Yulianto terpaksa turun karena terganggu kilatan petir. Itu terjadi dalam letusan Gunung Merapi pada 2010. Kala itu muncul semacam badai petir. ’’Petirnya menyambar-nyambar,’’ ujarnya.

Letusan pada 2010 memang yang terbesar sejak 1872. Korban jiwa mencapai 273 orang walaupun berbagai upaya mitigasi bencana telah dilakukan. ’’Memang 2010 yang sebegitu hebatnya,’’ jelasnya.

JALANI TUGAS: Yulianto bertugas memantau aktivitas Gunung Merapi. (YULIANTO FOR JAWA POS)

Pada erupsi 2020–2021 ini, Yulianto mengatakan bahwa kondisi Gunung Merapi yang berstatus siaga belum memaksanya untuk turun. ’’Kami turunnya kalau sudah berbahaya,’’ ucapnya. Dia menjelaskan, memang turun dari pos itu sebenarnya perintah atasan. Namun, saat letusan 2010, keputusan tersebut dia ambil bersama tiga rekannya di Pos Babadan. Mereka melihat kondisi berbahaya hingga harus turun dari pos itu. Terutama bila alat seismograf mati. ’’Biasanya terjadi bunyi melengking yang bergerigi dan tiba-tiba mati bunyinya,’’ jelasnya kepada Jawa Pos.

Matinya bunyi seismograf menjadi tanda bahwa Gunung Merapi mengalami deformasi besar atau perubahan kedudukan. Yang lebih mengkhawatirkan biasanya saat terjadi deformasi kabut menyelimuti puncak gunung. ’’Dilihat secara visual sudah tidak bisa,’’ tuturnya.

Kendaraan untuk turun gunung menggunakan motor trail KLX. Motor itu memang inventaris kantor dan disediakan untuk setiap pemantau seismograf di Gunung Merapi. ’’Saya berharap 2021 ini tidak perlu turun gunung, tidak terjadi letusan besar yang membahayakan nyawa,’’ ungkap warga Selo, Boyolali, tersebut.

Penjaga Pos Pemantauan Gunung Merapi bisa dibilang mengemban tugas menyelamatkan nyawa manusia. Begitu juga dengan penjaga alat early warning system (EWS). Alat yang digunakan untuk memberikan peringatan dini tentang potensi letusan. Alat tersebut bisa mengeluarkan suara sirene. Jika sirene terdengar, itu berarti warga yang masih berada di area berbahaya harus menyingkir.

Hasil pantauan penjaga pos Gunung Merapi juga diakses penjaga alat EWS. Tujuannya, menentukan kapan warga perlu pindah atau dievakusi.

Salah seorang penjaga alat EWS adalah Ambar Riyanto, 60. Dia menjaga alat EWS yang terletak di Kaliurang. Tepatnya di patung kuda pintu masuk kawasan wisata Kaliurang. Ambar sudah 10 tahun menjadi penjaga alat EWS. ’’Pengadaannya sejak 2010,’’ ujarnya.

Ambar mengatakan, penjaga EWS harus mengikuti setiap perkembangan aktivitas gunung. Dalam sehari bisa empat kali dia mendatangi Pos Pemantauan Gunung Merapi. ’’Memang jarak rumah saya hanya 50 meter dari pos pemantauan di Kaliurang,’’ jelasnya.

Perkembangan aktivitas Merapi dari pos pemantauan tidak hanya untuk kepentingan alat EWS. Namun juga untuk diinformasikan ke badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan sejumlah kelompok relawan. ’’Saya mendapatkan informasi aktivitas Merapi tiap enam jam,’’ ujarnya. Karena sifat informasi itu terkait dengan kebencanaan, Ambar harus stand by 24 jam. ’’Sebab, bisa jadi saya harus membunyikan EWS bila benar-benar darurat,’’ ungkapnya.

Misalnya yang terjadi saat erupsi Gunung Merapi awal Januari lalu. Dia menceritakan bahwa handphone-nya berdering pukul 03.00. Penjaga Pos Pengamatan Gunung Merapi menginformasikan adanya guguran lava. ’’Ya, saya harus bangun. Kan handphone saya taruh di telinga tiap tidur,’’ paparnya.

Dia menceritakan, karena harus stand by 24 jam, kerap kali badannya kecapekan dan kurang istirahat. ’’Tapi, tidak mengapa. Yang paling penting banyak nyawa yang bisa terselamatkan,’’ urainya.

Dia menyatakan, selama 10 tahun, belum pernah alat EWS dibunyikan karena kondisi darurat letusan. ’’Tapi, tiap tahun dibunyikan saat peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus sekaligus sebagai perawatan dan pengecekan alat,’’ tuturnya.

JALANI TUGAS: Ambar bertugas memantau aktivitas Gunung Merapi. (AMBAR FOR JAWA POS)

Selain menjaga alat EWS, Ambar juga diserahi tugas menjaga dan merawat bungker untuk Pos Gardu Pandang, Kaliurang. Sudah 15 tahun tugas itu dia kerjakan. ’’Bungker ini hanya untuk kondisi mendadak. Bila dirasa tidak bisa turun,’’ tuturnya. Tapi, jangan mengandalkan bungker. Sesuai dengan pengalaman 2010, bungker tidak didesain untuk menghindari tertimbunnya guguran lava. ’’Kalau tertimbun guguran lava, akan kemasukan gas panas. Yang tentu mengancam orang di dalamnya,’’ paparnya.

Sementara itu, Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono menuturkan, semua yang terlibat dalam penanganan kebencanaan tentu memiliki suka duka. Namun, yang paling ironis adalah saat upaya penyelamatan tidak disokong pihak lain. ’’Saat dana atau anggaran minim, kita harus berupaya konsep mitigasi bencana diterima masyarakat dan bisa dibiayai pihak lain,’’ jelasnya.

Menurut dia, mitigasi bencana itu penting dalam rangka menyelamatkan nyawa sekaligus investasi. Semua investasi pembangunan hanya akan hancur saat bencana. ’’Tapi, bisa diselamatkan dan setidaknya diminimalkan dampak bencananya bila menerapkan mitigasi bencana,’’ tuturnya.

Yang Berat Itu Menahan Kantuk

Tatapan mata menahan kantuk itu berusaha menyapa setiap orang yang memasuki Pos Pengamatan Gunung Semeru. Lelah memang, tapi tanggung jawab harus dipenuhi. Prinsip itulah yang dipegang Liswanto, ketua Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur.

Sembari mengamati aktivitas Gunung Semeru, pria 50 tahun itu menuturkan kisahnya. Sudah 28 tahun Liswanto menjadi petugas di tempat tersebut. Banyak cerita dan pengalaman yang sudah dilewati selama mengamati perkembangan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Liswanto tak menampik rasa bosan sesekali muncul. Terutama setelah seharian penuh hanya menatap hasil pengamatan Gunung Semeru. Baik melalui coretan jarum mesin alat seismograf, alat pencatat kegempaan, maupun pengamatan visual dengan hasil jepretan foto. Karena itu, untuk menyiasati pekerjaan tersebut, dia harus menyiapkan banyak jurus.

Baca juga: Luncuran Awan Panas Guguran Terjauh Merapi

Apalagi, sejak awal Desember 2020, laporan akumulasi hasil pengamatan cukup sering diminta. ’’Tujuannya ya memang untuk akurasi. Volume pekerjaannya meningkat,’’ ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Jika terjadi erupsi, biasanya dia hanya diminta melaporkan perkembangannya satu kali setiap hari. Namun, sejak erupsi akhir tahun lalu, dia harus melaporkan perkembangan erupsi tersebut hingga empat kali, tepatnya setiap enam jam, kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Terlebih, beberapa hari lalu Gunung Semeru masih mengeluarkan awan panas. ’’Ada yang bertugas mengakumulasi jenis gempa dan jumlahnya, ada yang mengamati secara visual,’’ tambah Liswanto.

Menurut Liswanto, setiap hari minimal ada dua petugas yang berjaga di pos tersebut. Dia bersama dua petugas lainnya bergantian mengawasi gunung.

Selama 28 tahun mengamati aktivitas gunung, tingkat kesulitan tidak terletak pada volume pekerjaan yang tiba-tiba menumpuk seperti sekarang ini. Tetapi melawan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Maklum, hampir setiap hari dia harus melewati pergantian malam dengan mata terjaga. Untuk menghilangkan kantuk yang sulit dilawan, dia memilih keluar dan memotret gunung pada malam hari. ’’Itung-itung juga sebagai data laporan pembanding,’’ imbuhnya.

Untung, ayah dua anak tersebut menyukai rutinitas itu. Menurut dia, segala macam pekerjaan tidak akan menjadi beban jika didasari rasa suka dan cinta. Justru makin tertantang untuk menaklukkan kebosanan dan kejenuhan.

’’Setiap orang kan punya cara. Nah, kalau saya, di sela-sela melihat monitor, kadang dialihkan menonton video lucu-lucu. Atau dialihkan menonton TV,’’ ucapnya.

Baca juga: Longsor, Gempa, Banjir, Kini Erupsi

Dia juga menggunakan alat sensor lain untuk memberikan tanda jika sedang terjadi gempa atau banjir. ’’Jadi, tidak harus melihat layar monitor atau alat. Yang penting duduk di sekitar dan tetap terjaga. Kalau ada bunyi HT (handy talky) yang tidak biasa, baru kami amati lebih detail,’’ ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/son/lin/c19/oni




Close Ads