
BUAH KREATIVITAS: Widi Nugraha (kanan) bersama tiga karyawannya menunjukkan karya batik tulis khas Ngawi di Griya Batik Widi Nugraha, Ngawi.
Ada Karya Bermotif Tugu yang Populer lewat Lagu Denny Caknan
Dari tangan-tangan kreatif para difabel tuli yang bekerja di Batik Widi Nugraha, Ngawi, lahir batik tulis yang digemari berbagai kalangan, termasuk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga.
NARENDRA PRASETYA, Ngawi
---
SOROTAN matanya tajam menatap tiga karyawannya yang saat itu sedang menjahit dan memotong kain bahan untuk batik. Sesembari memberikan instruksi yang barangkali terdengar asing di telinga kebanyakan tapi bisa dipahami dengan baik oleh yang diajak berkomunikasi.
Demikianlah cara Antonius Widi Nugraha membimbing para karyawan yang berasal dari kalangan difabel tuli.
’’Saya yang menyupervisi bagian jahit,’’ ucap Widi, sapaan akrabnya, sebagaimana ditirukan adiknya, Johanes Wahyu Triatmaja.
Sama seperti ketiga karyawannya yang dia ajak berkomunikasi pada Sabtu (19/8) sebulan lalu itu, Widi juga seorang difabel tuli. Tangan-tangan kreatif pada difabel tuli inilah yang jadi bagian dari fondasi eksistensi batik tulis khas Ngawi, Jawa Timur. Namanya menggunakan nama Widi sendiri: Batik Widi Nugraha.
Berlokasi dekat dengan Jalan Raya Caruban–Ngawi atau sekitar 5 kilometer dari pusat kota Ngawi, batik Widi Nugraha sudah berkembang sejak 2010. Dalam sedekade terakhir, tradisinya pun masih tetap terjaga: memprioritaskan difabel tuli sebagai pekerja produksi.
Saat ini, dari 15 orang karyawannya, enam di antaranya merupakan difabel tuli. ’’Itu karena kakak kandung saya juga difabel tuli,’’ sebut Johan, sapaan akrab Johanes, tentang alasan memprioritaskan difabel tuli sebagai karyawan.
Sebagai difabel tuli, Widi, kata Johan, merasakan sendiri tantangan yang harus dihadapi mereka yang dari kalangan sama seperti dirinya. ’’Mendapat perundungan atau tempat kerjanya tidak mampu memahaminya, baik bos maupun teman kerja,’’ lanjut Johan yang memilih meninggalkan statusnya sebagai karyawan BUMN di Bandung demi membesarkan bisnis batik dengan sang kakak itu.
Padahal, hasil jahitan mereka tak kalah. Perkaranya hanya miskomunikasi sering terjadi. Johan sendiri mengaku pernah memiliki pengalaman yang membuat dia jadi lebih berhati-hati lagi.
’’Saya jelaskan, ini (kain) nanti dibagi jadi dua, besok diambil. Ini dibordir dan ini tidak. Tahu (mengerti)? Ya ya ya. Saya lupa tidak menjelaskannya dengan tulisan karena saya buru-buru. Apa yang terjadi besoknya? Tidak ada yang dibordir sama sekali,’’ tutur Johan yang lantas menyadari, semua instruksi harus tertulis.
Tidak ada jam kerja paten bagi karyawan difabel di Batik Widi Nugraha. Diminta berangkat pagi, bisa baru datang pukul 09.00. Rata-rata, saat pagi hari mereka di rumah masih angon (menggembala), memberi makan bebek, sampai memanen telur. Pihaknya tidak bisa menerapkan aturan lebih ketat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
