
DI BIBIR LAUT JAWA: Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Pasang laut dan rob pada Mei dan Desember paling diwaspadai di pelabuhan ini.
Pelindo Regional 3 meninggikan jalan, membangun tanggul, dan mengoperasikan puluhan pompa untuk menjaga aktivitas Pelabuhan Tanjung Emas agar tak terganggu pasang laut serta rob. Pengoperasian pompa pun diawasi 24 jam.
DIAN WAHYU PRATAMA, Semarang
---
SEPULUH tahun lalu, kondisi yang terjadi pada Jumat (14/7) pagi lalu itu hampir pasti akan menghentikan aktivitas bongkar muat.
Sebab, ketinggian pasang laut tak sampai 1 meter saja, air sudah masuk ke bibir dermaga Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.
Tapi, tidak pada Jumat pagi lalu itu. Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menginformasikan terjadinya pasang air laut berketinggian 0,8 meter, bongkar muat kayu di Pelabuhan Dalam, Tanjung Emas, tetap berlangsung seperti biasa.
Glori Sutomo, koordinator lapangan bongkar muat kayu, pun tetap bisa melaksanakan tugas mengecek kayu-kayu yang turun. Sebelum kemudian dimasukkan ke truk menggunakan crane.
”Tentu (kalau air masuk dermaga) sangat mengganggu aktivitas bongkar muat kayu,” papar pria 43 tahun tersebut kepada Jawa Pos pada Jumat pagi lalu itu.
Pasang air laut yang diikuti rob adalah kehendak alam. Namun, adaptasi yang dilakukan beberapa tahun ke belakang membuat Tanjung Emas jadi lebih siap menghadapi kondisi tersebut.
Faisal merasakan sekali perubahan itu. Salah seorang pemilik kapal pelayaran rakyat (pelra) itu mengatakan, sejak dilakukan peninggian lining dermaga, saat pasang air tidak langsung masuk ke dermaga.
Itu membuat aktivitas bongkar muat di kapal pelra tidak perlu harus menunggu air laut surut. ”Sangat beda dengan sepuluh tahun yang lalu,” terangnya.
Peninggian lining hingga mencapai 1 meter di atas dermaga membuat rob yang masuk ke dermaga surut maksimal empat jam. ”Jadi, tidak lama,” tambahnya.
Adaptasi dengan kondisi alam di pelabuhan yang berada di gigir Laut Jawa tersebut mulai dilakukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 3 sejak 2014. General Manager Regional 3 Tanjung Emas Hardianto menjelaskan, pola adaptasi tersebut dimulai dengan peninggian jalan di area pelabuhan. Khususnya di area yang rawan terdampak banjir rob.
PANTAU KONDISI: GM Pelindo Regional 3 Tanjung Emas Hardianto (kiri) bersama Staf Peralatan dan Instalasi Pelabuhan Tanjung Emas Hizkia Pandhega sedang mengecek kolam retensi (14/7).
Peninggian tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan ketinggian hingga 50 sentimeter. Pihaknya juga telah memasang pompa berkekuatan maksimal 800 liter per sekon (lps).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
