Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Agustus 2022 | 02.48 WIB

Diana Patricia Pasaribu Umur 65 Tahun Kuliah S-1, 77 Tahun Raih Doktor

TEKAD KUAT: Diana Patricia Pasaribu Hasibuan. (Dok. Pribadi) - Image

TEKAD KUAT: Diana Patricia Pasaribu Hasibuan. (Dok. Pribadi)








Belajar tanpa mengenal usia. Itulah yang tecermin dalam perjalanan hidup Diana Patricia Pasaribu Hasibuan. Di usia senja, dia memilih untuk melanjutkan studi pendidikan tinggi.

---

BAGI sebagian besar orang, memasuki usia 65 tahun waktunya beristirahat. Momong cucu. Berkebun di pekarangan rumah. Atau, memelihara burung dan ayam. Namun, tidak demikian bagi Diana Patricia Pasaribu Hasibuan.

Memasuki usia 65 tahun, dia justru memutuskan untuk mengambil studi sarjana (S-1). Jurusan yang dipilihnya adalah teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Perjalanan menempuh studi S-1 itu berjalan lancar. Diana dinyatakan lulus pada usia 68 tahun.

Setelahnya, perempuan kelahiran Tapanuli Utara, 8 Januari 1935, tersebut seolah kecanduan kuliah. Dia langsung melanjutkan studi magister (S-2) di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia. Pada usia 73 tahun, Diana berhasil meraih gelar master teologi.

Belum berhenti sampai di situ. Ibu lima anak dan 24 cucu itu melanjutkan studi doktoral (S-3) di kampus yang sama. Yakni, Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia. Jurusannya masih sama di bidang teologi. Studi doktoral dia jalani sampai dinyatakan lulus pada umur 77 tahun.

Saat ini usia Diana sudah mencapai 87 tahun. Namun, dia masih ingat beberapa kenangan ketika menempuh kuliah. Contohnya, di awal-awal masuk kuliah, dia sempat disindir rekannya, yang sudah pasti usianya beda jauh. ’’Bu, ubannya sudah bertambah banyak,’’ kata Diana menirukan candaan teman sekelasnya. Dia cuma membalas candaan tersebut dengan senyum.

Keinginan Diana untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi muncul dari kesehariannya yang aktif di gereja. Diana mengenang, dirinya diantar suami berangkat ke kampus. Setiap dia berangkat ke kampus, urusan rumah tangga harus lebih dulu beres. Pada pagi hari, dia berfokus di dapur. Menyiapkan sarapan dan kebutuhan untuk suami dan anak-anaknya. ’’Setelah beres, baru saya ke kampus,’’ ujarnya.

Diana yang mendapat rekor Muri sebagai peraih gelar sarjana tertua di Indonesia menyampaikan motivasi kuliah meski usia tidak muda lagi. Khususnya mengambil jurusan teologi.

’’(Ingin mengetahui, Red) bagaimana Tuhan itu. Bagaimana (hubungan) saya dengan Tuhan,’’ tutur Diana yang tinggal bersama anaknya bernama Merry di daerah Purwakarta setelah sang suami, M.C. Cornelius Hasibuan, wafat.

Menurut dia, tidak ada kesulitan saat kuliah pada usia lanjut. Yang penting, ada kemauan. Kemudian, selama belajar tidak boleh mengeluh. Ditambah rutin berdoa kepada Tuhan supaya diberikan kemudahan.

Diana menyatakan, semua tugas yang diberikan sang dosen, termasuk tugas akhir, dikerjakannya sendiri. Diana menceritakan, saat mengerjakan tugas akhir, dirinya menggunakan mesin ketik manual. ’’Bukan laptop atau komputer,’’ katanya.

Diana sejatinya dibelikan komputer untuk menunjang perkuliahan. Namun, dia tidak mengerti dan lebih nyaman memakai mesin ketik.

Kunci Diana untuk belajar teologi adalah menyerap dengan baik penjelasan dosen. ’’Kemudian, saya renungkan. Ternyata itulah rupanya teologi,’’ jelasnya.

Diana juga rutin mengumpulkan tugas dan penjelasan dari dosen setiap hari. Rupanya, tugas-tugas tersebut menjadi inspirasi dan bahan baginya untuk menyusun tugas akhir.

Diana bercerita, ketika ujian tengah semester (UTS), sambil menunggu dosen tiba di kelas, dirinya bertanya kepada rekannya, apakah masih boleh membuka buku dahulu. Alhasil, dia sempat diremehkan. Namun, sepekan kemudian, ternyata Diana diumumkan mendapatkan nilai ujian 87,5 poin.

’’Saya didampingi Tuhan dalam mencari ilmu,’’ ungkapnya. Dia berpendapat bahwa mencari ilmu tidak boleh mengeluh. Dengan begitu, ilmu bisa diserap maksimal.

Saat ini waktu sehari-hari Diana lebih banyak dihabiskan bersama keluarga. Selain itu, dia tetap beraktivitas di gereja. Dia menuturkan, ilmunya harus bermanfaat untuk banyak orang. Dia juga ingin menjadi teladan bahwa tidak ada kata tua untuk sekolah atau kuliah.






Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore