
DIPATENKAN: Kepala Sekolah YPPI 1 Titris Hariyanti Utami (kanan) bersama dua guru YPPI, Yuniwati dan Nanang Ananto, serta seorang siswa Arcchella menunjukkan piagam hak atas kekayaan intelektual (HAKI) daun gedi sebagai karakter sekolah YPPI 1 untuk motif
Titris Hariyanti Utami punya prinsip hidup. Dia harus total dalam mengerjakan sesuatu. Hal itu dibuktikan dalam pengolahan daun gedi. Di tangan kepala SMP Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Indonesia (YPPI) 1 itu, sebuah karya batik motif daun gedi berhasil diciptakan.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
SEMUA bermula dari mimpi Titris menciptakan Kampung Gedi di Jalan Donokerto, Simokerto. Selain untuk menghijaukan lingkungan, daun gedi dapat diolah menjadi aneka kuliner.
Titris pun berusaha mewujudkan mimpinya itu. Dia memulai dari lingkungan kerjanya dulu. Selaku kepala sekolah, Titris mengajak seluruh guru dan siswa mendukung program menanam gedi.
Ternyata program tersebut sesuai dengan ekspektasinya. Beragam aneka kuliner dibuat dari daun gedi. Mulai keripik, siomay, es krim, hingga nasi bakar. Langkah itu menuai apresiasi dari pihak yayasan. Selain dikonsumsi sendiri, hasil pengolahan daun gedi dipamerkan dan dijual dalam bazar yang diselenggarakan sekolah.
’’Nggak disangka, ternyata banyak yang berminat. Yang juga menggembirakan, para siswa jadi lebih semangat. Pengolahan daun gedi bertujuan menanamkan jiwa entrepreneur kepada para siswa,’’ kata Titris di SMP YPPI 1 Simokerto, Senin (15/8).
Kondisi tersebut membuatnya lebih bersemangat. Titris pun mengembangkan pengolahan daun gedi untuk membatik. Kini berbagai jenis batik tulis telah dibuat. Titris menjadikan bentuk daun gedi sebagai motif batik. Pembuatan batik tersebut dikerjakan para siswa. Kegiatan itu telah berjalan selama dua bulan terakhir.
Nanang Ananto Budiono, guru kesenian, diminta turut membantu. Rumitnya teknik membatik membuat proses produksi memakan waktu cukup lama. Apalagi, para siswa baru pertama berkecimpung dalam membatik.
Namun, situasi tersebut tak membuat siswa putus asa. Siswa tetap semangat dan penasaran dengan hasil karyanya. Melvina Natasya, misalnya. Dia baru pertama membuat batik tulis. Meski teknik yang digunakan cukup sulit, jika dikerjakan bersama-sama, pembuatan batik terasa lebih ringan dan mengasyikkan.
Selama proses produksi berlangsung, Melvina bersama teman sebayanya terus berdiskusi. Membicarakan konsep dan memperhatikan pengerjaan satu sama lain. Dengan begitu, tingkat kesalahan dapat ditekan.
Meski telah memahami motifnya, pengerjaan tidak dilakukan secara terburu-buru. Pelan, tapi pasti. Yang penting tidak terjadi kesalahan. ’’Apalagi batik tulis. Kalau salah, nggak bisa dihapus. Dan, bisa mengubah gambar. Jadi, pengerjaannya harus teliti ya,’’ kata perempuan 15 tahun itu.
Membuat batik menjadi pengalaman baru bagi para siswa. Sebagian besar siswa terlihat antusias saat membatik. Bahkan, aktivitas itu dilakukan sampai sore.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
