Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Februari 2022 | 14.48 WIB

Kisah Febri Andi Hediana, Cleaning Service yang Juga Hafiz

DISKUSI: Kombespol Asep Irpan Rosadi (kanan) mengobrol dengan Febri Andi Hediana. (Polda Jatim untuk Jawa Pos) - Image

DISKUSI: Kombespol Asep Irpan Rosadi (kanan) mengobrol dengan Febri Andi Hediana. (Polda Jatim untuk Jawa Pos)

Nama Febri Andi Hediana belakangan terkenal di media sosial. Videonya ketika ditawari menjadi anggota polisi di Mapolda Jatim viral. Febri awalnya hanya melamar sebagai cleaning service atau petugas kebersihan.

HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya

HARI sudah larut. Waktu menunjuk pukul 22.00. Febri duduk termenung di salah satu ruangan gedung Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Jatim Rabu (26/1). Hampir dua jam pemuda 20 tahun itu menunggu. Beberapa jam sebelumnya, dia mendapat undangan untuk datang. Febri dipanggil karena pernah mengirim surat lamaran pekerjaan sebagai cleaning service.

Febri lolos seleksi administrasi. Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Jatim Kombespol Asep Irpan Rosadi ingin bertemu langsung dengannya.

Namun, ternyata dia harus mengikuti rapat dadakan sebelum pertemuan berlangsung. Febri pun diminta menunggu karena sudah datang.

”Namanya siapa, Mas?” kata Asep menirukan pertanyaan pertamanya kepada Febri ketika akhirnya bertemu malam itu. ”Febri,” ujar pemuda yang ditanya. Asep mengaku sudah mendapat kesan pertama yang baik dari calon petugas kebersihan itu. Febri dianggap memang punya niat bekerja karena sudah mau meluangkan waktu menunggu.

Asep selanjutnya menanyakan kemampuan lain si pelamar kerja selain bersih-bersih. Dia tidak pernah mengira akan mendapat jawaban yang mencengangkan. Febri dengan polos mengaku sebagai hafiz atau penghafal Alquran. Dia sering diminta unjuk kemampuan di acara keagamaan.

Febri lantas diminta mempraktikkan bacaan ayat suci. Nada suaranya merdu. Hati Asep semakin bergetar mendengarnya. ”Kamu saya terima,” kata Asep kepada Febri.

Bukan hanya sebagai petugas kebersihan. Asep juga menawari Febri untuk masuk sebagai anggota Polri malam itu. Keputusan tersebut punya pertimbangan kuat. Asep ingin menghormati orang yang sudah memuliakan Alquran dalam hidupnya.

Kemuliaan seorang hafiz, jelas dia, adalah sebuah keniscayaan. Asep pun semakin tergugah saat mengetahui latar belakang pemuda di hadapannya. Febri ternyata seorang anak yatim.

Bapaknya belum lama meninggal. Dia melamar pekerjaan sebagai petugas kebersihan agar bisa menggantikan peran menjadi tulang punggung keluarga. Terlebih, sulung di antara dua bersaudara itu adalah anak laki-laki satunya-satunya. Adiknya masih sekolah. Ibunya juga sakit-sakitan.

Asep menambahkan, video yang beredar juga perlu diklarifikasi. Sebab, Febri disebut pada narasinya sudah diterima sebagai polisi. ”Belum, yang benar jadi staf kebersihan saya sambil menunggu rekrutmen Polri,” ungkap perwira yang pernah menduduki jabatan Kapolres Kayong Utara, Kalimantan Barat, itu.

Sambil menunggu proses rekrutmen itu, Febri dipekerjakan. Asep tidak membebaninya dengan kerja full time. Namun, sistemnya menyesuaikan.

Pekerjaan yang dibebankan pun tidak hanya berkaitan dengan kebersihan. Febri juga diminta mengajari Asep dan personel lain mengaji kitab suci. ”Bagi saya sebuah kebanggaan. Bisa belajar langsung dengan hafiz Alquran,” ungkapnya.

Asep menambahkan, tawaran menjadi polisi bukan jaminan lolos seleksi. Febri tetap harus mengikuti prosedur. Tetapi, dia memastikan bakal melakukan bimbingan secara maksimal. ”Polri memang membuka rekrutmen jalur proaktif. Jalur khusus untuk anak yang punya prestasi dan kompetensi. Namun, semua kembali ke peserta,” ujarnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore