
TELATEN: Suswaningsih (kiri) mendampingi para petani yang menanam kacang tanah di antara celah batu-batu karst di lahan pertanian Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. (TAUFIQURRAHMAN/ JAWA POS)
Kalpataru dari Menghidupi Alam Tandus Gunungkidul (2-Habis)
Puluhan tahun Suswaningsih telaten mengajak mencari penghidupan di antara bukit karst yang keras tanpa membabat pohon dan menggerogoti tebing. Kini warga hidup berkecukupan dengan panen satu kali setahun, beternak, dan memproduksi produk olahan pertanian.
TAUFIQURRAHMAN, Gunungkidul
---
DI lembah, ceruk, dan punggung bukit-bukit karst itu, jejak ketelatenan seorang penyuluh pertanian serta kegigihan warga terpahat. Yang dengan seketika akan membuka mata siapa saja: alam, seberapa pun kerasnya, jika dirawat dan bukannya dirusak, akan mampu menghidupi dengan layak.
Padahal, di bukit-bukit karst di Gunungkidul, Jogjakarta, itu hanya air hujan yang bisa diandalkan sebagai penanda waktu tanam padi. Hanya setahun sekali, di hujan-hujan pertama antara Agustus sampai Oktober.
’’Begitu hujan harus langsung ditanami. Kalau telat sedikit saja, pertumbuhan tidak bagus, tidak bisa ikut tanam tahun ini,” tutur Suswaningsih, penyuluh pertanian Kabupaten Gunungkidul, kepada Jawa Pos yang menemuinya pada Rabu (20/10) pekan lalu.
Suswaningsih baru saja menerima penghargaan kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 15 Oktober lalu untuk kategori Pengabdi Lingkungan. Trofi berbentuk pohon kalpawreksa atau pohon kehidupan berwarna emas itu kini bertengger di ruang tamunya, bersanding dengan trofi Penyuluh Pertanian Teladan yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013.
Semua hasil dari ketelatenan selama bertahun-tahun naik sepeda motor menyusuri jalan-jalan blok beton di antara perbukitan Melikan dan Karangwuni, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Perempuan 52 tahun itu mengawali kariernya sebagai tenaga honorer penyuluh pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul sejak 1990 dan diangkat menjadi PNS delapan tahun kemudian.
Selama sekitar tiga jam Suswaningsih mengajak Jawa Pos berkeliling. Melihat bukit-bukit karst yang menghijau. Dengan berbagai tanaman tumbuh di sana.
Dia menceritakan betapa tak mudah menanam padi di antara tebing-tebing karst. Butuh teknik khusus. Tidak ada sumber air berupa sungai atau waduk yang bisa menyediakan suplai air yang stabil bagi tegal-tegal sepanjang tahun.
Ada beberapa basin seluas beberapa ratus meter persegi yang hanya berair ketika hujan. Beberapa hari saja kondisi cerah, air sudah menghilang lagi.
Di Melikan, misalnya, praktis warga hanya mengandalkan air hujan. Paling telat sehari setelah hujan turun, tanah-tanah tegal harus mulai digaruk dalam pola-pola garis lurus sejajar. Kemudian lubang-lubang kecil dibuat dengan cara menusuk-nusukkan lembing kayu ke tanah.
Ke setiap lubang-lubang kecil itulah, warga memasukkan bibit-bibit padi tanpa disemai terlebih dahulu. ’’Setiap lubang 3 biji, maksimal 5,” tutur Suswaningsih.
Tegalan ditanami padi dengan sistem tumpang sari. Selain padi, ditanam juga beberapa pohon singkong di antara garis-garis tebaran bibit.
Di sepanjang pematang ditanam rumput-rumput gajah. Selain sebagai penguat petak-petak tegalan yang mayoritas berbentuk terasering, daun-daun rumput tersebut nanti dipotong untuk pakan ternak.
Di tegal-tegal yang lebih tinggi dan kering, ada alternatif tanaman lain seperti jagung dan kacang tanah. Yang juga dimasukkan ke tanah yang sebelumnya ditusuk-tusuk dengan lembing kayu.
Bahkan, warga tidak berhenti di tegal-tegal, punggung-punggungbukit pun ditanami. Jika bisa dengan tanaman pangan, jika tidak dengan tanaman lindung.
Biasanya pohon akasia, jati, pisang, petai, dan jeruk siam. ”Jika sedikit ada tanah saja, biasanya juga ditanami dengan tanaman pangan,” tutur perempuan kelahiran 14 Oktober 1969 itu.
Di antara tanaman-tanaman tegal, tanaman-tanaman alternatif tersebut juga kerap mendatangkan nilai-nilai ekonomis. Contohnya, petai.
’’Satu pohon sebesar ini (menunjuk ke salah satu pohon petai, Red) diborong orang, saya dapat bersih Rp 2 juta,” tuturnya.
Sehari-hari Suswaningsih berkeliling desa-desa di antara ceruk-ceruk Bukit Melikan. Menyapa warga dan menyerap keluh kesah mereka seputar kondisi tanam terkini.
Dia menyebut, sebelumnya warga melakukan teknik tanam dengan cara menebar padi begitu saja ke atas lahan. Teknik tanam itu membuat pertumbuhan padi tidak merata dan hasil tanam kurang memuaskan.
Dengan teknik tanam tusuk tanah tersebut, pertumbuhan padi dan distribusi air tanah bisa lebih merata. Selain itu, sistem tumpang sari bisa menjadi tambahan hasil tanam yang lumayan bernilai ekonomis.
Tapi, benarkah warga Rongkop hanya bertahan dengan satu kali panen selama setahun? Mungkin agak sulit dinalar. Tapi, warga setempat jarang yang merantau ke kota demi mendapatkan penghasilan tambahan. Para pemudanya juga berpendidikan agak lumayan. Minimal setingkat SMA.
Rumah-rumah penduduk di Melikan pun relatif bagus. Jarang ditemukan rumah reyot yang tidak terawat.
Sarana dan fasilitas pun lumayan lengkap. Sarana ibadah, ruang publik, dan ruang olahraga. Mulai tingkat desa sampai pedukuhan.
Suswaningsih mengatakan, selepas panen, selama masa-masa menunggu hujan untuk masa tanam berikutnya, penduduk fokus menggemukkan ternak, baik sapi maupun kambing. Pakan ternak diambilkan dari rumput-rumput gajah yang ditanam di pematang tegalan, bekas jerami padi, serta batang dan daun jagung. Beberapa di antaranya difermentasi untuk meningkatkan kepadatan daging sapi-sapi ternak.
Sapi-sapi dibeli secara kelompok dalam bentuk bakalan berumur 1 sampai 2 tahun, kemudian digemukkan dalam waktu 6 bulan, baru dijual. Di masa-masa awal penggemukan, para anggota kelompok wajib menyetor ke kas sebagian kecil dari keuntungan penjualan sapi pedaging tersebut.
Selain beternak, warga Rongkop mengalihkan sebagian padi hasil panen untuk membuat produk olahan berupa jenang dodol yang dibuat dari campuran santan, beras, dan gula aren yang dikemas dan diberi label. Alhasil, selama puluhan tahun, bukit-bukit tandus di Rongkop sekitar tempat tinggal Suswaningsih tetap hijau dan terlindungi.
Dalam tiga jam perjalanan bersama koran ini menelusuri wilayah tersebut, hampir tidak ada perbukitan yang digundul atau digempur dengan backhoe untuk diambil sebagai bahan bangunan.
Kalaupun ada bukit yang digempur dan dipotong, itu semata dilakukan untuk kepentingan pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan Jogjakarta yang saat ini tengah dalam tahap konstruksi. Kalaupun ada penebangan hutan jati, kata Suswaningsih, dilakukan dengan cermat tebang pilih dan tanam kembali.
Tebing-tebing kritis bahkan sebagian besar sudah rapi dengan benteng-benteng batu agregat untuk menghindari longsor. Benteng-benteng terasering tersebut, kata Suswaningsih, juga dibangun sendiri oleh para petani pemilik lahan di sekitar tebing-tebing tersebut.
Warga Melikan, Karangwuni, dan beberapa desa lain di Rongkop tetap berkecukupan dengan panen satu kali setahun, beternak, dan memproduksi produk olahan pertanian tanpa harus membabat pohon dan menggerogoti tebing. ’’Memang sejak awal saya sering tekankan, ayo cari penghidupan lain tanpa harus merusak alam,” katanya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
