
KAMPUNG JAWA: Gerbang R. Soeparman, penanda Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar. (SEPTINDA AYU PRAMITASARI/JAWA POS)
Wonomulyo adalah kampung Jawa di Sulawesi Barat yang kian heterogen. Wartawan Jawa Pos SEPTINDA AYU PRAMITASARI sempat menjajal mi ayam Jawa Tengahan di sana dan bertemu dengan tokoh setempat yang mengeluhkan kian sulitnya mencari anak-anak muda yang mau bermain ludruk atau wayang orang.
---
”MONGGO, Mbak, kalau kangen Jogja. Di sana ada Jogja Lama,” kata Suharjiman ramah sambil menunjuk ke salah satu arah.
Oke, saya memang dari Solo, sepelemparan batu saja dari Jogjakarta...apalagi kalau naik Prameks, eh maaf, kereta rel listrik ding sekarang. Jadi, memang akrab dengan daerah istimewa itu.
Tapi, persoalannya, siang itu, awal Februari lalu, saya berada di Ponorogo, yang masuk wilayah Polewali Mandar (Polman), kabupaten yang merupakan bagian dari Sulawesi Barat (Sulbar).
Jadi, dari mana itu datangnya Jogja, Ponorogo, Blitar, dan Tulungagung sampai menjadi bagian dari sebuah desa bernama Bumiayu nun di pojok Sulawesi sini?
*
Perjalanan saya mulai dari Pelabuhan Palipi, Kecamatan Sendana, Majene, Sulbar. Tidak banyak transportasi menuju Polman dari tempat itu.
Selain karena Majene adalah lokasi yang terdampak bencana gempa cukup besar, tempat tersebut memang sangat jarang dilalui transportasi umum. Bus hanya bisa diakses dari pusat kota.
Satu-satunya transportasi umum yang biasa digunakan adalah pete-pete (angkutan umum). Tapi, menunggu pete-pete tak ubahnya menunggu tim nasional sepak Indonesia merebut emas SEA Games. Lama.
”Itu Masjid Nurut Taubah, masjid tertua Polewali Mandar. Tempatnya guru besar Imam Lapeo,” kata Edy, driver yang mengantarkan saya, menunjuk masjid megah di sisi kiri jalan saat sudah memasuki Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Polman.
Itu berarti Kecamatan Wonomulyo sudah dekat. ”Wonomulyo ini ramai, pusat perekonomian. Orang Majene sering belanja di sini,” tambah Marhan, warga Majene yang turut menemani saya.
Gerbang R. Soeparman menjadi penanda pintu masuk Kecamatan Wonomulyo. Aktivitas perdagangan terlihat begitu ramai.
Menu-menu seperti pecel lele, penyetan lamongan, mi ayam dan bakso solo, hingga sate madura terpampang di warung-warung tenda. Dan, begitu turun dari mobil, percakapan dalam bahasa Jawa terdengar di kanan-kiri.
”Mbak, mi ayam loro, es teh loro. Piro, Mbak (Mbak, mi ayam dua, es teh dua. Berapa, Mbak?)” kata salah seorang pembeli saat ingin membayar makanan di warung mi ayam yang kami singgahi.
Ya, Wonomulyo memang didirikan orang-orang Jawa yang didatangkan Belanda untuk bekerja di perkebunan pada akhir 1930-an. Gelombang pertama kedatangan mereka tercatat pada 1934.
Generasi pertama orang Jawa di sini sudah tidak ada lagi. Generasi kedua juga bisa dibilang demikian. ”Saya ini merantau, Mbak. Tapi, memang banyak orang Jawa di sini,” tutur Tusi Rahayu, si pemilik warung mi ayam yang berasal dari Semarang.
Tapi, banyak juga orang Mandar di Sidorejo, desa tempat warung mi ayam Tusi berada. Rumah-rumah panggung khas Mandar adalah pertanda paling mencolok.
Meski demikian, di Sidorejo, tradisi-tradisi Jawa juga tetap di-uri-uri. Misalnya, selamatan dan Suroan.
Ada juga perkumpulan orang Jawa. Kesenian jaran kepang (kuda lumping) biasanya juga ditampilkan saat ada nikahan atau khitanan.
Photo
KAMPUNG JAWA: Wartawan Jawa Pos dan Suharjiman (kiri). (SEPTINDA AYU PRAMITASARI/JAWA POS)
”Saya juga masih ada wetonan (selamatan hari kelahiran berdasar penanggalan Jawa, Red),” kata Tusi.
Dari Sidorejo, Edy dan Marham membawa saya menuju Desa Bumiayu. Melewati Desa Sidodadi, apa yang saya lihat di Sidorejo masih tampak. Tapi, memasuki Bumiayu, tak terlihat lagi rumah-rumah panggung. Semua rumah berupa bangunan modern dengan khas pekarangan.
Wonomulyo, kata Suharjiman, mantan sekretaris desa Bumiayu, dulu merupakan kawedanan. Kemudian, terjadi pemekaran dan berubah menjadi kecamatan.
Mayoritas nama desa di kecamatan itu pun masih bernuansa Jawa. Selain Sidorejo, Sidodadi, dan Bumiayu, ada pula, di antaranya, Bumimulyo, Campurjo, dan Kebunsari.
”Di sini (Bumiayu) kebanyakan (penduduknya) dari Tulungagung,” ujar pria 67 tahun itu.
Kakek dan ayah Suharjiman ditransmigrasikan dari Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur, pada 1939. Relasinya dengan kampung halaman kakek dan ayahnya itu sudah lama terputus. Tidak ada keluarga yang tersisa di sana. ”Kalau ditanya saya orang mana, saya orang Mandar. Saya lahir dan tinggal di Mandar,” katanya, lantas tertawa.
Meski dikenal sebagai Kampung Jawa, penduduk Wonomulyo kini umumnya sudah heterogen. Selain Mandar, ada orang atau keturunan Bugis, Flores, dan Toraja.
Adat dan tradisi Jawa memang masih ada. Tapi, penutur bahasa Jawa makin berkurang. Generasi anak-anak Suharjiman, misalnya, rata-rata menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.
Baca juga: Di Tengah Hutan Bambu Mereka Menghelat Resepsi Pernikahan
Semakin heterogennya Wonomulyo yang menjadi penyebab. Bahasa Indonesia tentu lingua franca yang paling gampang diterima berbagai suku di sana.
”Tapi, kebetulan di Dusun Ponorogo, Desa Bumiayu, ini yang masih sering pakai bahasa Jawa,” ujarnya.
Tradisi selamatan dan tahlilan juga masih sering dihelat. Bumiayu dikenal pula sebagai pusat kesenian di Wonomulyo. Mulai ludruk, wayang orang, sampai wayang kulit.
Namun, seperti halnya bahasa Jawa, kian sulit mencari anak-anak muda yang mau memainkan berbagai kesenian tradisional tadi. Rata-rata setelah tamat SMA langsung melanjutkan kuliah ke Makassar atau berbagai kota di Jawa. ”Pemerintah sendiri kurang peduli terhadap seni dan budaya Jawa di Wonomulyo,” kata Suharjiman yang kedua anaknya kini berada di Makassar dan Jombang.
Sulitnya mencari penerus juga dirasakan para orang tua dari generasi seangkatan Suharjiman yang umumnya bertani. ”Mereka kan sudah kuliah, umumnya milih kerja di kantor,” ujarnya.
Baca juga: Tiap Minggu Pagi, setelah Ibadah, Sarapan Nasi Kuning di Kampung Jawa
*
Jadi, di sini saya rupanya. Bumiayu, jantungnya kesenian Jawa di Wonomulyo, kecamatan yang dibangun para transmigran Jawa, yang masih sering merawat tradisi Jawa, tapi kian hari kian heterogen.
Ada lima dusun di sini: Tulungagung, Blitar, Kebon Dalem, Jogja Lama, dan Ponorogo. Mungkin memang semakin sedikit anak-anak mudanya yang mau main ludruk atau wayang orang.
Tapi, ribuan kilometer dari kampung halaman, saya beruntung setidaknya bisa menemukan mi ayam Jawa Tengahan sebagai obat kangen dan dalam hitungan menit bisa menjelajah Ponorogo, Tulungagung, Blitar, dan Jogja sekaligus.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/YEYj-4N8RwM

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
