Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Desember 2018 | 00.48 WIB

Tiap Minggu Pagi, setelah Ibadah, Sarapan Nasi Kuning di Kampung Jawa

Umat Muslim asal Kelurahan Kampung Jawa di Tomohon, ikut memeriahkan Tomohon Evening Christmas Parade, Rabu (12/12). - Image

Umat Muslim asal Kelurahan Kampung Jawa di Tomohon, ikut memeriahkan Tomohon Evening Christmas Parade, Rabu (12/12).


Dua abad berlalu hingga kini, kerukunan antarumat beragama di Tomohon terjaga lewat berbagai cara. Mulai saling kunjung hingga turut memeriahkan parade menjelang hari raya.


WAILAN MONTONG, Tomohon


---


AMANAH dari warga itu langsung dijalankan Lurah Hadidjah Masloman. Dikontaknya panitia Tomohon Evening Christmas Parade. Meminta agar Kampung Jawa yang dia pimpin diberi kesempatan untuk ikut serta.


Gayung bersambut. Kampung yang warganya mayoritas muslim itu diizinkan ikut acara yang baru kali ini dihelat di Kota Tomohon tersebut. Bergabung bersama perwakilan Kecamatan Tomohon Selatan.


Jadilah keikutsertaan mereka pada parade yang dihelat Rabu lalu itu (12/11) mendapat sambutan meriah. Spanduk besar yang mereka bawa menyedot perhatian.


Di sana terpampang tulisan "Kelurahan Kampung Jawa Ikut Serta Memeriahkan Tomohon Evening Christmas Parade demi Memupuk dan Menjalin Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Tomohon."


"Begitu mendengar adanya kegiatan ini, beberapa anggota masyarakat menanyakan apakah bisa ikut. Kami sebagai pemerintah kelurahan berupaya semaksimal mungkin untuk bisa ikut," jelas Hadidjah kepada Manado Post.


Partisipasi warga Kampung Jawa Tomohon tersebut adalah bukti kesekian kuatnya toleransi antar pemeluk agama di Tomohon dan Sulawesi Utara. Kerukunan yang sudah seperti, meminjam istilah bahasa Jawa, sego jangan (rutin sekali atau bagian dari keseharian).


Di Sulawesi Utara yang warganya mayoritas Kristen, ada dua Kampung Jawa yang bisa dibilang juga kampung muslim. Kampung Jawa Tomohon dan Kampung Jawa Tondano.


Kampung Jawa Tondano didirikan Kiai Modjo (orang kepercayaan Pangeran Diponegoro) dan 63 pengikutnya saat dibuang Belanda ke Minahasa pada 1829. Adapun Kampung Jawa Tomohon yang lebih tua dipandegani para pejuang kemerdekaan dari Banten yang juga dibuang Belanda.


Hanya, versi kedatangan rombongan yang dipimpin Tubagus Buang itu beragam. Mengutip Adrianus Kojongian dalam blognya, Jelajah Sejarah Manado, ada yang menyebut mereka datang pada 1790.


Versi lain, mereka tiba di Tomohon yang sebelum 2003 merupakan bagian dari Kabupaten Minahasa itu pada 1816. Yang jelas, pada 1850-an tercatat 83 warga menghuni Kampung Jawa Tomohon.


Kalau di Kampung Jawa Tondano Masjid Al Falah Kiai Modjo jadi salah satu tetenger, di Kampung Jawa Tomohon ada Masjid Nurul Iman. Kedua Kampung Jawa itu dikelilingi kampung atau kelurahan yang warganya mayoritas Kristen.


Namun, karena toleransi demikian terjaga, tak sekali pun ada gesekan. Hidup rukun berdampingan hingga kini. "Sudah jadi tradisi di sini tiap ada perayaan keagamaan saling membantu dan saling silaturahmi," kata Hadidjah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore