Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Maret 2020 | 21.01 WIB

Mereka Terjerat Korona, tapi Sulit Masuk RS

RS DARURAT: Petugas medis menyiapkan ranjang untuk pasien korona di Wisma Atlet Jakarta. Sampai kemarin pasien yang dirawat di sana sebanyak 387 orang. HAFIDZ MUBARAK A/POOL/AFP - Image

RS DARURAT: Petugas medis menyiapkan ranjang untuk pasien korona di Wisma Atlet Jakarta. Sampai kemarin pasien yang dirawat di sana sebanyak 387 orang. HAFIDZ MUBARAK A/POOL/AFP

KETIKA orang berbondong-bondong untuk mendapatkan rapid test coronavirus disease 2019 (Covid-19), ada pasien yang sulit mencari rumah sakit. Antre rumah sakit menjadi permasalahan ketika kasus semakin membeludak.

Awal pekan lalu seperti mimpi buruk bagi keluarga kecil Yuni, bukan nama sebenarnya. Dokter tiba-tiba memvonis suaminya sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Ironisnya, banyak rumah sakit yang ogah merawatnya.

Ceritanya berawal ketika suami Yuni, sebut saja Anwar, 39, mengeluh tak enak badan. Dia demam. Muncul batuk-batuk hingga sesak napas. Yuni yang tak sampai hati kemudian membawa Anwar ke RS di Jakarta Timur. Di sana baru diperiksa sebentar, sang suami diminta pindah RS. ’’Ditolak, disuruh ke (RS darurat) Wisma Atlet,’’ ujarnya saat dihubungi Jawa Pos, Jumat (27/3). Yuni sempat bingung. Tanpa ba-bi-bu dan surat pengantar, mereka disuruh langsung pindah. ”Kan nggak bisa juga ujug-ujug ke sana kalau tanpa surat pengantar,” keluhnya.

Akhirnya, mereka memutuskan pulang. Esoknya Yuni berinisiatif membawa Anwar ke puskesmas. Yuni cemas karena batuk sang suami tak kunjung reda. Dia semakin resah karena RS tidak memberinya obat. ”Akhirnya, kami ke Puskesmas Ciracas,” ungkap perempuan berkerudung tersebut.

Setelah menunggu sekitar lima jam, tiba giliran Anwar diperiksa. Setelah ditanya riwayat kontak dan perjalanan, Anwar langsung dinyatakan PDP. Sebab, Anwar sempat kontak dengan warga negara asing (WNA). Dokter di puskesmas merujuk Anwar ke RS di Jakarta Pusat. Karena sedang tak enak badan, Anwar akhirnya diantar sang kakak.

Namun, lagi-lagi Anwar harus menelan pil pahit. Dia kembali ditolak. Di IGD, bapak tiga anak itu diminta pulang. Dia disuruh melakukan isolasi mandiri di rumah. Alasannya, menurut pengakuan Yuni, yang diisolasi di RS adalah para lansia.

Sambil memendam kekecewaan mendalam, Anwar pulang ke rumah. Dia dan Yuni kemudian sepakat untuk melakukan physical distancing. Anwar yang harus mengisolasi diri berada di kamar lantai bawah, sedangkan Yuni dan anak-anaknya di lantai atas.

Yuni masih merawat Anwar dengan berbalut alat pelindung diri (APD) minimalis. Dia masih memasak dan mengantarkan makanan kepada sang suami. Terkadang, anak-anaknya bergantian ”mengunjungi” sang ayah dari jauh sambil mengantarkan makanan untuknya. ”Paling pakai masker, terus rajin cuci tangan,” ungkapnya.

Melihat kondisi suami yang masih kesakitan, Yuni berupaya menghubungi sejumlah rumah sakit. Dia menceritakan kondisi sang suami, berharap ada jalan keluar. Namun, sebagian besar menjawab tak bisa menangani. Tidak adanya alat swab dan ruang isolasi menjadi alasan utama.

”Ngehubungin call center itu juga nggak bisa. Sama sekali nggak bisa. Saya kan bingung harus gimana,” keluhnya. Namun, Yuni tidak mau putus asa. Dia terus menghubungi RS yang mau merawat suaminya. Usaha dan doa Yuni akhirnya berhasil. RS Royal Progress mau memeriksa kondisi sang suami. ”Awalnya mau ke dokter paru, tapi karena nggak ada, jadi ke penyakit dalam,” ungkapnya.

Meski hanya menjanjikan sebatas medical checkup dan rontgen, Yuni tidak mempermasalahkannya. Setelah semua pemeriksaan tersebut, Anwar diminta ke IGD terlebih dahulu.

Namun, akhirnya dia kembali disarankan pulang karena tak ada kamar yang bisa ditempati. ”Katanya tiga hari kalau sudah ada kamar, dikabari. Tapi, suami dikasih obat,” papar Yuni.

Hingga Jumat, Anwar masih mengeluhkan batuk dan sesak napas. Yuni lantas memberanikan diri untuk melapor ke kecamatan. Dia berharap mendapatkan bantuan agar Anwar bisa dirujuk ke RS Wisma Atlet. Usahanya berhasil. Sabtu (29/3) sang suami akhirnya dirujuk ke Wisma Atlet dengan menggunakan ambulans. ”Berkat bantuan Pak Camat. Status ODP dan menjalani perawatan selama 14 hari,” paparnya. Saat ini kondisi sang suami sudah jauh membaik.

Lain lagi pengalaman Eva Rahmi Salama. Ayah-ibu Eva meninggal karena Covid-19. Adiknya pun tertular dan berstatus positif. Merasa kontak dekat dengan tiga pasien positif Covid-19, Eva berniat melakukan tes swab. ”Tapi, saya sempat ditolak tes karena tidak bergejala,” ungkapnya kemarin. Selasa lalu Eva akhirnya bisa diikutkan tes swab. Namun, hingga kemarin malam dia belum tahu hasilnya. Meski demikian, Eva memilih melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Adiknya kini dirawat di RS di daerah Bojong Gede, Bogor.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari F. Syam menyatakan, keterlambatan penanganan pasien bisa jadi disebabkan rumah sakit rujukan sudah penuh. Apalagi, kapasitas rumah sakit lain juga terbatas. Akibatnya, saat menunggu ditangani, pasien mengalami gangguan organ. ”Dengan kondisi saat ini, rumah sakit rujukan dan bukan rujukan juga penuh,” katanya. Ventilator atau alat bantu pernapasan sangat dibutuhkan ketika pasien mengalami masalah pada fungsi paru. ”Kita harus menjaga agar ventilator cukup,” imbuhnya.

Yang dibutuhkan lagi adalah alat cuci darah. Terutama pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal. ”Alat ini terbatas,” ungkapnya. Melihat hal itu, Ari menyatakan perlu adanya pembatasan. Dia contohkan di Jakarta yang menjadi episentrum Covid-19. ”Kalau masyarakat masih di jalan, kasus ini semakin meningkat,” ucap Ari. Akibatnya, beban kerja rumah sakit serta tenaga medis semakin berat. Dampak jangka menengahnya adalah kasus yang seharusnya ditangani menjadi terabaikan.

Pemerintah telah mengumumkan 132 rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Selain itu, ada Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, yang memiliki daya tampung hingga 3.000 pasien. Ada juga pembangunan RS khusus di Pulau Galang yang dipercepat. Hingga kemarin, pasien yang dirawat di Wisma Atlet berjumlah 387 orang. Perinciannya, 77 pasien positif Covid-19, 223 PDP, dan 87 ODP.

Sementara itu, di Pulau Galang, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksamana Madya TNI Yudo Margono menyampaikan bahwa rencana pengoperasian hari ini (30/3) batal. Dia menyebut masih ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. ”Belum siap (dioperasionalkan), progres masih 91 persen,” terang dia saat diwawancarai Jawa Pos kemarin.

Menurut Yudo, pihaknya tidak akan memaksakan diri mengoperasikan RS Darurat di Pulau Galang selama masih ada pembangunan. ”Jangan sampai sudah ada pasien, tapi masih ada yang kerja,” kata dia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore