Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juni 2019 | 02.17 WIB

Setyo Haryosono, Salah Satu Jumping Master Purnawirawan TNI

PELATIH ANDAL: Setyo Haryosono yang mengabdikan hampir seluruh waktu hidupnya untuk jumping master. (Ahmad Didin Khoiruddin/Jawa Pos) - Image

PELATIH ANDAL: Setyo Haryosono yang mengabdikan hampir seluruh waktu hidupnya untuk jumping master. (Ahmad Didin Khoiruddin/Jawa Pos)

Memasuki usia senja tidak menyurutkan semangat beberapa jumping master untuk melatih para anggota TNI maupun sipil. Salah satunya sosok Setyo Haryosono. Kakek dua cucu tersebut hingga kini masih aktif menjadi pelatih terjun payung.

AHMAD DIDIN KHOIRUDDIN, Surabaya

PULUHAN penerjun menghiasi langit Juanda, Sidoarjo, Senin (27/5). Satu per satu penerjun berhasil mendarat dengan mulus. Dari kejauhan, tampak seorang penerjun dengan usia yang tidak lagi muda. Dia adalah Setyo. Kulit keriput dan rambut memutih jelas menandakan bahwa umurnya sudah di atas 60 tahun. Benar saja, saat ditanya, usianya kini menginjak 62 tahun.

Meski begitu, jalannya masih gagah. Dada membusung ke depan dengan tangan kanan memegang helm. Bayangkan saja seorang pilot pesawat tempur yang hendak naik ke pesawatnya. Begitulah kira-kira gaya Setyo saat itu. Keren. Dia berjalan ke hanggar pesawat di Skuadron 8 Lanudal Juanda setelah menuntaskan tugasnya melatih para siswa Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Bagaimana bisa dengan usia seperti itu masih aktif melatih terjun? Setyo menjelaskan, dirinya sebenarnya sudah pensiun dari TNI Angkatan Laut (TNI-AL) sekitar empat tahun lalu. Tidak beristirahat di masa pensiun, Setyo justru ingin tetap mengabdi untuk negara. ’’Sudah cinta terjun, bagaimana lagi. Kalau dilarang, malah sakit saya,’’ tuturnya.

Aksi Setyo saat di udara justru berbanding terbalik dengan di darat. Dia mengakui, tenaganya memang tidak sekuat dulu. Kalau diajak panco dengan pria berotot, kakek kelahiran Sidoarjo itu pasti langsung kalah. Namun, jangan coba menguji keahliannya saat melayang di udara.

’’Mau ada orang segede apa pun, saya sentil sedikit saja saat terjun bisa munting-munting (berputar-putar, Red) dia,’’ katanya. Setyo menguasai betul teknik terjun dari ketinggian. Mulai terjun statik dari ketinggian 1.000 kaki hingga free fall alias terjun bebas dari ketinggian 10 ribu kaki. Semua dilakukan dengan mudah karena sudah terbiasa.

Namun, jangan salah, di balik keahlian hebatnya saat ini, dia harus menempuh perjalanan panjang saat belajar terjun. Jatuh, terluka, hingga nyasar saat mendarat pernah dialami. ’’Namanya belajar, ya. Mendarat di genting orang pernah. Nyangsang di pohon jengkol pernah. Sampai nabrak pagar juga pernah,’’ jelas kakek kelahiran 1957 tersebut.

Setyo kali pertama belajar menjadi penerjun pada 1985. Saat itu dia masih bertugas sebagai anggota Batalyon Intai Amfibi (Taifib) di Korps Marinir. Kali pertama terjun, badannya gemetar, keluar keringat dingin, dan perasaannya waswas. ’’Kuncinya berdoa saja. Dengan mengingat Yang Mahakuasa, perasaan langsung bisa tenang,’’ ucap pria yang kini menetap di Kompleks Marinir Cilandak tersebut.

Itulah yang kemudian diterapkan pada anak didiknya. Kesulitan yang paling sering dihadapi adalah perilaku siswa yang sulit diatur. Terutama ketika di atas udara. Kebanyakan orang yang takut saat terjun akan berontak. Kondisi itu mengganggu keseimbangan hingga mereka terjun dalam kondisi yang tidak beraturan. Namun, dengan cekatan, Setyo tahu apa yang harus dilakukan.

Semua tidak sia-sia. Setyo tercatat pernah melatih tokoh-tokoh besar yang kini menduduki jabatan penting. Di antaranya, Letjen TNI Mar (pur) Nono Sampono yang kini menjabat wakil ketua DPD RI dan mantan Kepala Basarnas Letjen TNI Mar (pur) M. Alfan Baharudin. ’’Hingga sekarang hubungannya masih baik semua,’’ jelas mantan perwira TNI tersebut.

Saat ditanya sampai kapan akan tetap menggeluti dunia terjun payung? Setyo dengan tegas menjawab, sampai kapan pun selama dirinya masih sanggup berdiri. Dengan catatan, tensi darah dan detak jantungnya masih memenuhi syarat. ’’Banyak makan sehat dan tidak merokok, begitulah kira-kira resepnya bisa bugar,’’ jelasnya.

Photo

Rusli juga mempunyai jam terbang hampir mencapai 6.000 jam. (Ahmad Didin Khoiruddin/Jawa Pos)

Selain Setyo, sebenarnya masih ada lagi jumping master senior yang masih aktif hingga sekarang. Dia adalah kawan dekat Setyo, yaitu Rusli. Usianya terpaut lebih muda 4 tahun dari Setyo, yakni 58 tahun. Hingga kini, keduanya tercatat mempunyai jam terbang hampir mencapai 6.000 jam selama hidupnya.

Setyo dan Rusli adalah rival lama. Rusli merupakan purnawirawan anggota Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (TNI-AU). Karena sama-sama menggeluti dunia terjun payung sejak lama, keduanya kerap dipertemukan dalam berbagai event perlombaan terjun payung. ’’Ya, pemenangnya gantian. Kalau gak saya, ya dia,’’ ucap Rusli, lantas tertawa.

Menurut Rusli, olahraga terjun payung sudah mendarah daging dalam dirinya. Keluarganya pun mendukung dengan aktivitas yang dianggap cukup berbahaya itu. Bahkan, saking dekatnya dengan terjun payung, olahraga tersebut seakan bisa menjadi obat saat terjadi sesuatu. ’’Pernah keseleo karena naik motor, pas dipakai terjun kok langsung sembuh,’’ ucap pria yang akan mendapat cucu pertama tersebut.

Setyo dan Rusli berkomitmen untuk terus mengabdi tanpa kenal batas usia. Bahkan, saat purna sebagai anggota TNI, mereka tetap ingin berkontribusi pada lembaga yang membesarkan namanya tersebut. ’’Kapan pun TNI memanggil, kami selalu siap selagi mampu,’’ tegas keduanya kompak.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore