Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Desember 2018 | 20.43 WIB

Penampilan Perdana "Bernyanyi dalam Sunyi" Paduan Suara Bahasa Isyarat

KAMI BISA: Paduan Suara Bahasa Isyarat Baiman saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kreativitas mereka tak berhenti di sini. Mereka sedang mempelajari teater sunyi. - Image

KAMI BISA: Paduan Suara Bahasa Isyarat Baiman saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kreativitas mereka tak berhenti di sini. Mereka sedang mempelajari teater sunyi.

Selama dua pekan paduan suara kalangan tuli berlatih keras mendengarkan getaran untuk menyanyikan Indonesia Raya. Berikutnya bertekad mempelajari teater sunyi.


SYARAFUDDIN, Banjarmasin


---


DARI deretan kursi terdepan, Siti Wasilah tak kuasa menahan haru. Beberapa kali istri wali kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu mengusap air mata. "Saya salut dengan kerja keras mereka," katanya kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) yang menemuinya seusai acara.


Mereka yang dimaksud Siti adalah ke-22 anggota paduan suara bahasa isyarat yang pada Sabtu (1/12) lalu unjuk gigi untuk kali pertama. Dalam perayaan Hari Disabilitas Internasional yang dihelat Peme­rintah Kota (Pemkot) Banjarmasin di balai kota.


Sebanyak 22 personel paduan suara itu penderita tuli.


Merekalah paduan suara bahasa isyarat pertama yang tampil di depan publik di Kalimantan Selatan. Bahkan mungkin juga di Indonesia.


Indonesia Raya yang mereka nyanyikan pun ditampilkan dalam bahasa isyarat. Tanpa suara. Tapi, siapa pun yang hadir Sabtu siang lalu di Balai Kota Banjarmasin tak akan bisa menyangkal semangat dan keseriusan mereka dalam "bernyanyi".


Tak heran kalau Siti dan beberapa undangan lain tak kuasa menahan haru. "Bagian tersulit adalah menyelaraskan tempo lagu. Ketika temponya cepat, tangan kami kesulitan mengiringinya," ungkap Rini Hayati, salah seorang anggota paduan suara.


Rini mengaku lebih senang menggunakan istilah "mendengarkan getaran" ketimbang "merasakan getaran". "Kami berlatih keras selama dua pekan," katanya melalui perantara Shintya Subhan, guru SDN Banua Anyar 8 Banjarmasin.


Rabiatul Adawiyah, personel paduan suara lainnya, mengaku girang bisa tampil di depan orang banyak. Sekaligus tentu bangga akhirnya bisa menyanyikan lagu kebangsaan. "Kami tidak perlu merasa malu," tuturnya.


Dalam kesehariannya, Rini dan Rabiatul aktif di Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia Cabang Banjarmasin. Rini adalah ketua dan Rabiatul bendahara organisasi. Salah satu kegiatan organisasi tersebut ialah memberdayakan kawan-kawan tuli mengolah kerajinan tangan. Misalnya miniatur rumah adat Banjar dengan mendaur ulang logam sisa material konstruksi.


Latihan paduan suara bahasa isyarat itu dilakukan di sela-sela kegiatan harian mereka tersebut. Rini yang berperan meyakinkan rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas bahwa mereka bisa.


Maklum, awalnya banyak kawannya yang berasal dari berbagai latar belakang itu yang merasa tak percaya diri. Atau malu karena tidak pernah bernyanyi di depan orang banyak sebelumnya.


Tapi, Rini dengan bantuan Rabiatul perlahan berhasil meyakinkan mereka. Dia pula yang melatih sendiri rekan-rekannya tersebut. "Hambatan utama kami adalah pendengaran. Untuk mendapatkan tempo lagu, kami kemudian berlatih dengan mendengarkan getaran," katanya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore